Mari kita buat simulasi. Seandainya Jokowi dimakjulkan. Menurut hukum yang berlaku, KH Ma’ruf Amien, harus dilantik menjadi Presiden. Mengganti Jokowi. Begitu juga, ini umpama, kalau Prabowo berhasil menjadi Presiden, tetapi ditengah jalan, ia tidak bisa melaksanakan tugasnya. Misalnya, karena alesan kesehatan. Otomatis Wapres Gibran Rakabumi Raka, harus menjadi Presiden.
Bagaimana bila ini terjadi menurut anda?
Mengerikan, bukan? Masih mendingan, bila yang jadi Presiden adalah KH Ma’ruf Amin, ia adalah Doktor dan ahli di bidangnya. Sebagai seorang leader, ia berkemampuan untuk bisa berkomunikasi dengan baik (syarat sebagai seorang Pemimpin) dan bahasanya terstruktur. Ia tidak diragukan dalam hal itu. Walaupun ada kehawatiran, karena soal umur.
Tapi bila Presiden itu jatuh kepada Gibran? Bukan underestimate. Ini suatu realitas yang bisa kita lihat dari rekam jejaknya. Pengalaman berorganisasi dan berpolitik tidak ada. Karena itu Panda Nababan menjulukinya sebagai anak ingusan. Padahal disitu tempaan kedewasaan/kematangan jiwa sebagai modal leadership.
Pengalaman memimpin pemerintahan, baru dua tahun. Itu tidak cukup kompeten untuk bisa dijadikan sebagai catatan bio data. Solo, belum bisa diukur sebagai kota yang berhasil dibawah Walikota Gibran. Evaluasinya, baru bisa dilihat setelah usai 5 tahun.
Sejarah mengapa Wapres KH Maruf Amin dan Cawapres Gibran dipilih, adalah karena yang satu dijadikan alat sebagai vote getter untuk kalangan Nahdiyin. Sementara Gibran, karena semata-mata anak Presiden. Wapres Ma’ruf karena restu para Ketum Parpol Koalisi Jokowi. Girbran, karena Pamanda Anwar Usman, mengubah persyaratan factor umur dari minimal 40 tahun atau kepada seseorang yang pernah dipilih oleh rakyat sebagai pejabat public walau baru 36 tahun. Ini kasap mata dinilai sebagai Nepotisme.
Kontroversi dan dikursus atas soal ini, lahir dari berbagai kalangan. Para pakar hukum Tata Negara (kalangan kampus dan praktisi), sedang bersidang di MKMK, dengan petitum memecat Anwar Usman sebagai ketua MK.
Kritik dari kalangan internal, Panda Nababan, menilai Jokowi tidak berpolik budi pekerti. Masinton Pasaribu, meminta melakukan interpelasi kepada DPR. Saleh Basarah, menyatakan Gibran membangkang. Sekjen Hasto merasa terluka hatinya, ditinggal Jokowi. Adian Natipulu, kecewa menggunung, sehingga terucap Jokowi pernah meminta perpanjangan menjadi 3 periode kepada PDIP.
Itu semua potensi kisruh bila Gibran jadi Cawapres, apalagi jadi lolos Wapres.
Gibran Rakabuming sendiri mengklaim, selama memimpin Solo, dirinya berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi daerahnya hingga 6,25 persen dari sebelumnya hanya minus 1,74 persen. Namun demikian, banyak pihak yang meragukan kemampuan putra sulung Presiden Jokowi tersebut. Ini karena pembangunan infrastruktur Solo yang bersumber dari non-APBN Kota Solo, sejak dua tahun terakhir memang meningkat sangat pesat.
Dia lupa, bahwa penyebab peningkatan itu, karena sejumlah proyek-proyek nasional dikerjakan di Kota Solo. Ini karena Gibran semata-mata karena anak Jokowi. Itu saja kuncinya.
Sebagai pembanding, coba kita simak perjalan sejarah Negara Singapore.
Lee Kuan Yew adalah Perdana Menteri Singapura pertama, menjabat dari tahun 1959 hingga 1990. Ia secara luas dianggap sebagai bapak pendiri Singapura modern dan memainkan peran penting dalam mengubah negara tersebut dari koloni Inggris menjadi negara yang makmur dan mandiri. Selama pemerintahannya, Singapore menjadi Negara yang sangat pesat kemajuannya.
Sementara penerusnya, anak tertuanya Lee Hsien Loong adalah putra tertua Lee Kuan Yew. Terpilih menjadi Perdana Menteri Singapura sejak tahun 2004. Kini Ia adalah tokoh politik terkemuka di Singapura dan meneruskan warisan ayahnya.
Ia menjadi Perdana Menteri, melalui berbagai proses dari awal, menjadi anggota partai dan berhasil memimpin partainya. Karir militernya, membuat dia mateng dalam melaksanakan leadership.
Singapore adalah Negara yang minus sumber daya alam, dan sumber daya manusia yang jumalahnya kecil. Tetapi Singapura merupakan salah satu pusat keuangan global yang signifikan. Kota ini menjadi pusat perdagangan dan investasi, dengan sektor perbankan, perusahaan multinasional, dan pasar modal yang kuat.
Kekuatan jumlah manusia yang kecil, tapi berkualitas tinggi menyebabkan Singapura berkomitmen untuk menjadi negara yang berfokus pada inovasi. Pemerintah dan sektor swasta aktif dalam pengembangan teknologi, termasuk teknologi kecerdasan buatan (AI), bioteknologi, dan lainnya.
Kepercayaan berinvestasi di Singapura karena stabilitas politiknya. Pemerintahan yang efisien dan sistem hukum yang kuat telah membantu menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif. Juga yang tidak kalah pentignya adalah bahwa Singapura memiliki infrastruktur yang sangat baik, termasuk pelabuhan dan bandara terkemuka. Hal ini mendukung peran negara sebagai pusat logistik regional.
Modal lain yang dimiliki Singapura adalah memiliki sistem pendidikan dan perawatan kesehatan yang baik, yang telah membantu menciptakan tenaga kerja yang terampil dan sehat.
Last but not least Singapura berfungsi sebagai hub ekonomi dan transportasi regional di Asia Tenggara, menarik investasi asing dan menjadi pusat perdagangan yang penting.


























