Pitoyo Hartono
Guru besar Chukyo University, Nagoya Japan, – Alumni SMA Pangudi Luhur Brawijaya IV Jakarta.
Sok Tahunya Lebih Besar Daripada Tahunya.
Indonesia penuh dengan Dunning-Kruger Effect. Apa itu?
Dunning Kruger effect adalah ilusi psikologis dari orang2 yg berpengetahuan rendah dan berlogika buruk yang beranggapan bahwa mereka adalah ahli.
Fenomena ini pertamakali dipelajari oleh Justin Kruger dan David Dunning, dan dipublikasikan pada tahun 1999 dalam jurnal karya ilmiah sebagai sebuah temuan.
Dalam studi awalnya mereka menemukan klub debat mahasiswa/i yang terlemah, mempunyai ilusi bahwa mereka harusnya memenangkan 60% pertandingan debat, padahal dalam kenyataannya mereka kalah 80%.
Ini selalu terjadi karena logika mereka yang lemah menghalangi diri untuk tahu bahwa logika mereka lemah. Jadi terbentuk semacam lingkaran setan.
Indonesia sekarang dipenuhi dengan orang seperti ini. Seseorang yang baru membaca sesuatu di internet sudah merasa menjadi expert dalam hal itu. Apalagi kalau dia belajar filsafat dan merasa itu adalah ibu segala ilmu. Padahal dia cuma belajar sepotong metodologi berpikir, belum menguasai ilmunya.
Banyak orang seperti ini yang tidak bisa membedakan antara “pernah dengar atau pernah baca” dengan mengerti. Juga tak bisa bedakan apakah dia berkompeten atau tidak.
Bagaimana mungkin orang-orang yang mungkin di seluruh hidupnya tidak pernah membuat algoritma komputer ataupun kalau pernah cuma sepintas buat menyelesaikan tugas akhir, merasa menjadi expert untuk me-refute ataupun meng-endorse sesuatu ide atau konsep.
Banyak juga orang yang mungkin hanya pernah memakai metode statistika di tugas akhirnya tapi sudah merasa menjadi otoritas di bidang ini.
Di bidang saya, saya banyak menemukan di beberapa universitas di Indonesia, orang-orang yang hanya pernah memakai library dari Python untuk membuat neural networks tanpa pernah menghasilkan sesuatu yang orisinal tapi sudah merasa menjadi expert.
Banyak juga orang yang dalam berdebat melakukan logical fallacy, misalnya “appeal of ignorance”, tapi nekat terus, karena dia tidak punya logical skill utk tahu bahwa logika nya hancur.
Dia juga tidak bisa mengerti kalau ada proses logika lain, misalnya inferensi di luar sekelumit yang dia tahu.
Karena itu kita gampang sekali menemukan “expert of everything” di Indonesia. Apapun dikomentari dengan yakin. Atau dia merasa benar, baca berita apa saja yang dia pikir sensasional dia sebarkan.
Padahal salah. Seperti ngawuran berita dari CNBC Indonesia yang sering membuat berita sensasional. Tapi begitu ada yang bantah, dan semua anggota grup bilang itu ngawur, orang itu ikut menuding. Dia ingin selalu kelihatan ahli walau ngawur.
Ini bukan karena orang Indonesia egonya besar, tapi karena skill dan knowledgenya rendah dan dia jatuh dalam Dunning Kruger Effect ini.
Mereka sukar keluar dari sindrom ini karena merasa sudah tahu semua, dan tidak ada yang perlu dipelajari lagi.
Orang2 demikian sukar sekali untukbberkata “saya tidak tahu”, dan karenanya akan jatuh lebih dalam lagi dalam ilusi ini.
Tidak ada lain kecuali mutu pendidikan yang baik, yang bisa membawa kita keluar dari jebakan Dunning Kruger Effect ini.
Kadang2 harus dengan cara yg “kejam” dan sedikit paksaan. Hasil studi, menunjukkan bahwa bertambahnya pengetahuan akan membawa kita pada “confidence” yg lebih berimbang.
Semua orang bisa jatuh dalam ilusi ini, tentunya termasuk saya. Saya menulis ini terutama utk mengingatkan saya sendiri.
Ada grafik yg menggambarkan Dunning Kruger Effect. Kalau kita merasa tahu ttg sesuatu, sebaiknya kita berpikir sedikit lebih jauh lagi, kita ada di posisi puncak pertama atau benar2 di tingkatan kedua dari grafik ini.

























