Jakarta — Dunia tengah berpacu menyelamatkan iklim. Negara-negara berlomba menurunkan emisi karbon, menanam miliaran pohon, dan membangun ekonomi hijau. Namun di sudut lain planet ini, salah satu paru-paru terakhir bumi justru terus terkikis. Indonesia, negeri dengan hutan tropis terluas ketiga di dunia, masih membiarkan ekspansi sawit menggerus sumber oksigen global.
Industri sawit kerap dipuja sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Devisa mengalir, tenaga kerja terserap, produk ekspor membanjiri pasar dunia. Tetapi di balik narasi kemakmuran itu, ada biaya yang jarang dimasukkan ke neraca keuangan negara: hilangnya hutan primer, rusaknya lahan gambut, punahnya biodiversitas, serta lepasnya jutaan ton karbon ke atmosfer.
Hutan tropis Indonesia bukan sekadar aset nasional. Ia adalah infrastruktur ekologis dunia. Setiap hektare hutan yang berdiri menyerap karbon, memproduksi oksigen, menjaga pola hujan regional, dan menstabilkan suhu bumi. Ketika hutan ditebang untuk kebun monokultur sawit, dunia bukan hanya kehilangan pohon, tetapi kehilangan mesin kehidupan.
Ironi besar terjadi: negeri yang semestinya menjadi penyumbang oksigen planet, justru bertransformasi menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar akibat deforestasi dan kebakaran lahan. Asap lintas batas, krisis kesehatan, banjir, dan kekeringan menjadi “dividen tersembunyi” dari ekspansi sawit yang jarang diakui dalam pidato-pidato resmi.
Sering terdengar dalih bahwa menghentikan sawit berarti mematikan ekonomi. Padahal persoalannya bukan pada sawit sebagai komoditas, melainkan pada kerakusan ekspansinya. Yang dibutuhkan adalah moratorium nyata, penataan ulang izin, intensifikasi lahan yang sudah ada, serta rehabilitasi kawasan rusak. Dunia tidak menuntut Indonesia miskin. Dunia hanya meminta Indonesia berhenti merusak paru-paru bumi.
Tren global pun bergerak jelas. Uni Eropa memberlakukan regulasi anti-deforestasi. Konsumen menuntut produk berlabel hijau. Investor mulai meninggalkan perusahaan perusak lingkungan. Jika Indonesia terus menutup mata, bukan hanya hutan yang habis—pasar pun akan pergi.
Lebih dari itu, ada dimensi moral yang lebih besar. Generasi hari ini sedang menentukan warisan bagi generasi mendatang. Apakah mereka akan mewarisi hutan hujan yang hidup, sungai yang jernih, udara yang layak dihirup? Ataukah hanya cerita bahwa dahulu Indonesia pernah menjadi paru-paru dunia, sebelum dijual untuk minyak murah?
Indonesia memiliki peluang bersejarah: memimpin peradaban hijau. Menjadi negara yang berkata kepada dunia, “Kami memilih menjaga oksigen bumi.” Itu akan menjadi kontribusi yang jauh lebih besar daripada sekadar angka ekspor tahunan.
Stop sawit bukan slogan anti-pembangunan. Ia adalah seruan untuk waras. Bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh dibeli dengan napas planet. Sebab ketika bumi kehabisan oksigen, tak ada devisa yang bisa menggantikannya.
Dan pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya berapa ton sawit yang kita ekspor. Sejarah akan bertanya: ketika dunia membutuhkan penjaga terakhir hutan, di pihak mana Indonesia berdiri?


























