• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

Ali Syarief by Ali Syarief
April 27, 2026
in Birokrasi, Feature
0
Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan
Share on FacebookShare on Twitter

FusilatNews – Pernyataan Stella Christie yang menyebut rendahnya gaji dosen disebabkan oleh persoalan kompetensi, terasa bukan hanya menyederhanakan masalah, tetapi juga menggeser akar persoalan yang sesungguhnya. Narasi semacam ini berbahaya, karena berpotensi membangun stigma bahwa dosen—sebagai tulang punggung pendidikan tinggi—adalah kelompok yang layak menerima kondisi kesejahteraan minim akibat kekurangan kualitas diri mereka sendiri.

Padahal, jika ditarik ke logika paling dasar dalam sistem bernegara, kita justru menemukan kontradiksi yang mencolok. Untuk menjadi dosen, seseorang diwajibkan menempuh pendidikan minimal magister (S2), melalui proses akademik yang panjang, riset, publikasi ilmiah, serta pengabdian kepada masyarakat. Bahkan untuk naik jenjang akademik, tuntutannya semakin berat: jurnal internasional bereputasi, hibah penelitian kompetitif, hingga kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Namun di sisi lain, syarat formal untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia—jabatan tertinggi yang menentukan arah bangsa—hanya mensyaratkan pendidikan minimal lulusan sekolah menengah atas (SMA). Ini bukan untuk merendahkan jabatan politik, tetapi untuk menyoroti ketimpangan cara negara memaknai “kompetensi”.

Jika kompetensi dijadikan alasan untuk menentukan kesejahteraan, maka ukuran kompetensi itu sendiri harus jelas, konsisten, dan adil. Tidak bisa kompetensi dijadikan dalih untuk menekan kelompok tertentu, sementara pada sektor lain, standar tersebut longgar atau bahkan diabaikan.

Masalah gaji dosen di Indonesia lebih tepat dilihat sebagai persoalan struktural, bukan individual. Ada persoalan alokasi anggaran, prioritas kebijakan, serta paradigma negara dalam memandang pendidikan. Selama pendidikan tinggi masih diposisikan sebagai sektor pelengkap—bukan fondasi pembangunan—maka kesejahteraan dosen akan terus berada di pinggir.

Lebih jauh, narasi “dosen tidak kompeten” juga mengabaikan realitas di lapangan. Banyak dosen Indonesia yang tetap berkarya di tengah keterbatasan: melakukan riset dengan dana minim, mengajar dengan fasilitas seadanya, bahkan seringkali harus mencari penghasilan tambahan di luar kampus untuk bertahan hidup. Dalam kondisi seperti itu, bertahan saja sudah menjadi bentuk dedikasi yang luar biasa.

Ironisnya, negara justru kerap menuntut lebih banyak dari mereka—lebih banyak publikasi, lebih banyak inovasi, lebih banyak kontribusi global—tanpa diiringi peningkatan kesejahteraan yang memadai. Ini seperti meminta seorang pelari maraton berlari lebih cepat, tetapi tanpa memberikan air minum.

Pernyataan seperti yang disampaikan Stella seharusnya menjadi bahan refleksi, bukan pembenaran. Jika memang ada persoalan kompetensi, maka solusinya adalah pembinaan, peningkatan kapasitas, dan sistem yang mendukung—bukan justru dijadikan legitimasi untuk mempertahankan kondisi yang timpang.

Pada akhirnya, cara sebuah negara memperlakukan dosennya adalah cermin dari bagaimana negara tersebut memandang masa depannya. Jika dosen diposisikan sebagai beban, maka ilmu pengetahuan akan berjalan di tempat. Namun jika mereka dihargai sebagai aset strategis, maka kemajuan bukan lagi sekadar slogan, melainkan keniscayaan.

Dan di titik itulah, perdebatan ini seharusnya ditempatkan: bukan pada menyalahkan individu, tetapi pada membenahi sistem yang selama ini membiarkan paradoks itu terus berlangsung.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ibrah dari Runtuhnya Moral Para “Penjaga Moral”

Next Post

Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus
Feature

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

April 27, 2026
PBNU: SKANDAL POLITIK – DARI INFILTRASI ZIONIS HINGGA ALIRAN DANA HARAM, MARWAH NU TERGERUS
Feature

Jaga NU dari Para Penghamba Kekuasaan

April 27, 2026
Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers
Crime

Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

April 27, 2026
Next Post
Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

PBNU: SKANDAL POLITIK – DARI INFILTRASI ZIONIS HINGGA ALIRAN DANA HARAM, MARWAH NU TERGERUS

Jaga NU dari Para Penghamba Kekuasaan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

April 27, 2026
PBNU: SKANDAL POLITIK – DARI INFILTRASI ZIONIS HINGGA ALIRAN DANA HARAM, MARWAH NU TERGERUS

Jaga NU dari Para Penghamba Kekuasaan

April 27, 2026
Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

April 27, 2026
Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

April 27, 2026
Ibrah dari Runtuhnya Moral Para “Penjaga Moral”

Ibrah dari Runtuhnya Moral Para “Penjaga Moral”

April 27, 2026
Tanggapan PAN dan Gerindra Terkait Keakraban  Jokowi-Prabowo-Erick Thohir

Prabowo, Klaim, dan Bayang-Bayang Kemunafikan (Disonansi Kognitif)

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

April 27, 2026
PBNU: SKANDAL POLITIK – DARI INFILTRASI ZIONIS HINGGA ALIRAN DANA HARAM, MARWAH NU TERGERUS

Jaga NU dari Para Penghamba Kekuasaan

April 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist