“Mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadiv Hubinter) Polri Irjen Napoleon Bonaparte menyoroti kasus penembakan di rumah Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo. Dalam baku tembak tersebut, Brigadir J dinyatakan tewas. Menurutnya mengungkap kasus baku tembak polisi tersebut bukan perkara sulit. Dia Mengungkapkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tak perlu repot-repot dalam menuntaskan kasus itu dengan membentuk tim khusus. “Itu perkara yang mudah untuk dibongkar. Penyidik biasa saja bisa mengungkapnya. Tidak perlu TGPF (tim gabungan pencari fakta) segala macam,” kata Napoleon usai menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dikutip Antara”
Kasus Birgadir J tersebut, nampaknya jadi tambah ribet; Kapolri telah membentuk TGPF dan bahkan telah melibatkan Komnas HAM segala dalam kasus ini. Padahal ini kasus kriminal biasa. Sudah cukup barang bukti yang ada. Pelaku yang diduga menembak masih hidup. Korban pelecehannya ada dan cantik sehat wal afiat. Senjata api, yang digunakan utuh. Visum Dokter sudah ada. Saksi-saksi seperti Pak RT setempat, mantan Jenderal Polisi juga, bisa mempermudah, bila diminta keterangan sebagai saksi.
Ayo Kapolri, publik sedang menunggu apa yang akan terjadi dengan kasus Irjen Sambo ini; Tunjukan marwah Polisi sebagai Penegak Hukum dan Pengayom Masyarakat. Soal profesionalisme, dalam kasus ini, tidak ada yang meragukan lagi. Bangsa ini sedang merindukan kata “kejujuran” hadir dalam kehidupannya. Ia hilang digondol para politkus yang rakus akan kekuasaanya.
Mudahnya Polisi menggunakan senjata yang ada ditangannya, untuk membunuh/mematikan orang lain. Ini mindset yg salah. Senjata yang ada pada Polisi, adalah untuk melumpuhkan musuh/lawan. Setiap korban harus ditarget dibawa ke ranah hukum. Ubah watak Polisi dan Jenis senjata, supaya Polisi tetap menjadi Lembaga penegak hukum dan tetap sebagai pengayom rakyat.
Berawal dari lari dari niat yang lain. Lalu memulai dengan mengganti decoder, dari stulah selanjutnya akan beranak pinak bak berternak kebohongan-kebohongan berikutnya. Peran publik yang marak dimedsos-medsos, rupaya telah menjadi bulan-bulanan bagi aparat yang melakukan berbagai kesalahan/penyimpangan. Tetapi fakta lainmenjadi fungsi control social yg efektif dan meluas.
Menkopulhukam juga, memberikan pernyataan dan tanggapan atas kasus ini, melalui media, daripada menggunakan kewenangannya, memanggil pihak-pihak terkait, untuk menuntaskan tikus-tikus yang masih berkeliaran di lemabaga Kepolisian itu, tukasnya.
Baku tembak antara dua anggota Polisi, adalah perisitwa kriminal biasa. Tapi sosok Irjen Pol Sambo itu yg menjadi misteri, se-aneh diganti decoder cctv itu, yang kemudian kasusnya menyeruak menjadi tidak sederhana. Apakah Peran Penyidik akan/harus seiring -sejalan dg tim khusus yg dibentuk Kapolri?
Bahasa tubuh; Kapolda Metro Jaya dan Irjen Pol Sambo, saat bertemu, lalu saling berpelukan, hingga tangis-menangis. Seperti yang teramat sedih bak ditinggal kematian. Ini tanda kuatnya Esprit de Corps (rasa kesetia-kawanan). Tapi sisi lain, kita dapat membaca, mereka saling memahami apa yang sedang terjadi dan dampak-dampaknya kemudian. Bahasa bathin yang tak terucap, tapi tahu sama tahu. Telanjang dibaca public.
Tajuk : Kasus Brigadir J Dari Yg Sederhana Ke Enjlimet Ewuh Pakewuh
“Mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadiv Hubinter) Polri Irjen Napoleon Bonaparte menyoroti kasus penembakan di rumah Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo. Dalam baku tembak tersebut, Brigadir J dinyatakan tewas. Menurutnya mengungkap kasus baku tembak polisi tersebut bukan perkara sulit. Dia Mengungkapkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tak perlu repot-repot dalam menuntaskan kasus itu dengan membentuk tim khusus. “Itu perkara yang mudah untuk dibongkar. Penyidik biasa saja bisa mengungkapnya. Tidak perlu TGPF (tim gabungan pencari fakta) segala macam,” kata Napoleon usai menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dikutip Antara”
Kasus Birgadir J tersebut, nampaknya jadi tambah ribet; Kapolri telah membentuk TGPF dan bahkan telah melibatkan Komnas HAM segala dalam kasus ini. Padahal ini kasus kriminal biasa. Sudah cukup barang bukti yang ada. Pelaku yang diduga menembak masih hidup. Korban pelecehannya ada dan cantik sehat wal afiat. Senjata api, yang digunakan utuh. Visum Dokter sudah ada. Saksi-saksi seperti Pak RT setempat, mantan Jenderal Polisi juga, bisa mempermudah, bila diminta keterangan sebagai saksi.
Ayo Kapolri, publik sedang menunggu apa yang akan terjadi dengan kasus Irjen Sambo ini; Tunjukan marwah Polisi sebagai Penegak Hukum dan Pengayom Masyarakat. Soal profesionalisme, dalam kasus ini, tidak ada yang meragukan lagi. Bangsa ini sedang merindukan kata “kejujuran” hadir dalam kehidupannya. Ia hilang digondol para politkus yang rakus akan kekuasaanya.
Mudahnya Polisi menggunakan senjata yang ada ditangannya, untuk membunuh/mematikan orang lain. Ini mindset yg salah. Senjata yang ada pada Polisi, adalah untuk melumpuhkan musuh/lawan. Setiap korban harus ditarget dibawa ke ranah hukum. Ubah watak Polisi dan Jenis senjata, supaya Polisi tetap menjadi Lembaga penegak hukum dan tetap sebagai pengayom rakyat.
Berawal dari lari dari niat yang lain. Lalu memulai dengan mengganti decoder, dari stulah selanjutnya akan beranak pinak bak berternak kebohongan-kebohongan berikutnya. Peran publik yang marak dimedsos-medsos, rupaya telah menjadi bulan-bulanan bagi aparat yang melakukan berbagai kesalahan/penyimpangan. Tetapi fakta lainmenjadi fungsi control social yg efektif dan meluas.
Menkopulhukam juga, memberikan pernyataan dan tanggapan atas kasus ini, melalui media, daripada menggunakan kewenangannya, memanggil pihak-pihak terkait, untuk menuntaskan tikus-tikus yang masih berkeliaran di lemabaga Kepolisian itu, tukasnya.
Baku tembak antara dua anggota Polisi, adalah perisitwa kriminal biasa. Tapi sosok Irjen Pol Sambo itu yg menjadi misteri, se-aneh diganti decoder cctv itu, yang kemudian kasusnya menyeruak menjadi tidak sederhana. Apakah Peran Penyidik akan/harus seiring -sejalan dg tim khusus yg dibentuk Kapolri?
Bahasa tubuh; Kapolda Metro Jaya dan Irjen Pol Sambo, saat bertemu, lalu saling berpelukan, hingga tangis-menangis. Seperti yang teramat sedih bak ditinggal kematian. Ini tanda kuatnya Esprit de Corps (rasa kesetia-kawanan). Tapi sisi lain, kita dapat membaca, mereka saling memahami apa yang sedang terjadi dan dampak-dampaknya kemudian. Bahasa bathin yang tak terucap, tapi tahu sama tahu. Telanjang dibaca public.
























