Jakarta, Fusilatnews – Jika mendengar kata taman, maka yang terbayang di benak kita lazimnya adalah nuansa indah, hijau, asri, rapi, bersih, sejuk dan rindang.
Tapi tidak dengan Taman Bendi. Taman yang lokasinya berimpitan dengan Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, ini tidak demikian kondisinya.
Bahkan taman ini “ditumbuhi” karung-karung berisi sampah. Ada pula gundukan sampah yang dibiarkan begitu saja, sehingga rawan menjadi sarang ular. 

Pantauan di lokasi, Rabu (14/5/2025) siang, puluhan karung berisi sampah itu terlihat “bergerombol” di Taman Bendi Barat Bagian Selatan. Di sini ada sekitar 15 “gerombolan” karung berisi sampah. Gundukan sampah yang dibiarkan menggunung itu juga ada di sini, dekat pagar yang berimpitan dengan TPU Tanah Kusir.
Pun, di Taman Bendi Barat Bagian Utara, juga terdapat “gerombolan” karung berisi sampah. Sedikitnya ada dua “gerombolan”.
Kondisi Taman Bendi Timur Bagian Selatan dan Taman Bendi Timur Bagian Utara pun tak jauh berbeda, meskipun tampak lebih bersih dan rapi daripada dua taman lainnya.
Dilihat dari kondisinya, karung-karung berisi sampah itu sudah berada di tempatnya selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Hal ini pun dibenarkan warga sekitar yang tak mau disebutkan namanya.
Pemandangan demikian tentu saja membuat orang-orang yang berkunjung ke taman, entah untuk berolah raga atau sekadar duduk-duduk, kurang nyaman. Juga kurang sehat.
Gundukan sampah yang berdekatan dengan semak-semak itu, sekali lagi, rawan menjadi sarang ular.
Taman Bendi itu sendiri “dibelah” oleh jalur rel kereta api “double-double track” jurusan Tanah Abang (Jakarta Pusat) – Rangkasbitung (Banten).
Setiap hari memang terlihat ada beberapa petugas yang menyapu taman. Tetutama petugas perempuan. Tapi ternyata itu tidak cukup. Sebab tetap banyak daun-daun kering yang berserakan, dan juga ranting-ranting dan dahan-dahan pohon yang sudah mengering berjatuhan.
Tak sedikit pula sampah plastik dan sterofoam bekas tempat makanan serta botol-botol bekas air mineral dalam kemasan yang bertebaran.
Sampai kapan kondisi seperti ini akan terus berlangsung?
Kapan karung-karung berisi sampah itu akan diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)?
Lalu, apa kendalanya sehingga karung-karung berisi sampah itu tak kunjung diangkut dan dibuang ke TPA?
Sederet pertanyaan itu terlontar dari sejumlah pengunjung taman yang saat itu tengah duduk-duduk di dekat “jogging track”.





















