Dalam acara Debat Tim Capres di Graha CIMB Niaga, Jakarta pada Kamis, 9 November 2023.Tim kampanye calon presiden Prabowo Subianto, Anies Baswedan, dan Ganjar Prabowo beradu argumentasi terkait kebijakan electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik
Jakarta – Fusilatnews – Dalam acara Debat Tim Capres di Graha CIMB Niaga, Jakarta pada Kamis, 9 November 2023.Tim kampanye calon presiden Prabowo Subianto, Anies Baswedan, dan Ganjar Prabowo beradu argumentasi terkait kebijakan electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik
“Tentang EV, kami rasanya nge-gas dengan kecepatan penuh ingin membangun EV, kebijakan, fasilitas, dan sebagainya,” kata Tim Visi-Misi Anies-Muhaimin, Wijayanto Samirin,
Tapi jika melihat tren global, produsen kendaraan listrik justru mengerem investasinya. Ini lantaran permintaan atau demand EV turun karena sektor ini tidak siap untuk digeber habis
“Jadi memang prinsip apa yang melejit cepat itu berpotensi untuk tiba-tiba kehilangan energi dan jatuh,” ucap Wijayanto. “Terkait EV ini gimana, tetap gaspol apa gimana?”
Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran, Panji Irawan, lantas menanggapi pernyataan tersebut. Menurut Panji, tren kendaraan listrik menjadi kesempatan Indonesia memproduksi mobil tanpa membuat mesin.
Panji menjelaskan, di bawah bodi mesin kendaraan listrik, ada pelat dari campuran nikel dan lithium, dengan baterainya. Menurut Panji, Indonesia bisa masuk ke industri mobil tanpa harus membuat blok silinder.
“Jadi ini kesempatan mesti kita ambil, brother, sister,” ujar Panji dalam kesempatan yang sama.
Panji menyebut, Prabowo menginginkan ada industri mobil di Indonesia. Panji menyebut, belum ada merek mobil Indonesia.
“Jadi kami ingin ada merek indonesia, materiilnya ada, ini opportunity menurut saya,” ucap dia.
Panji menuturkan, Indonesia masih tetap mengikuti tren EV. Apabila ada perubahan tren kendaraan listrik, lanjut dia, Prabowo dan Gibran nantinya akan melakukan penyesuaian.
Deputi Politik 5.0 Tim Pemenangan Nasional Ganjar-Mahfud, Andi Widjajanto, mengingatkan agar berhati-hati dengan paradoks hijau. Menurut Andi, suatu yang hijau dihasilkan dari sesuatu yang kotor.
Dia pun mencontohkan solar panel. Meskipun termasuk energi hijau, proses penambangan pasirnya kotor, belum lagi proses pembakaran sillica menggunakan batu bara dengan suhu 2.000 derajat Celcius.
“Ya sama, membangun baterai berbasis lithium atau nikel. Baterainya bersih, nambangnya kotor enggak tahu tailing-nya dibuang ke mana, enggak bisa dibuang ke laut,” ucap Andi.
Oleh sebab itu, harus dibuat fasilitas tertentu untuk mengatasi limbah dari penambangan nikel. “Begitu dipake bersih, tapi nanti lithium-nya rusak mau dikembalkan ke kita sebagai pabrik kotor lagi.”























