OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA
Dicopotnya Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kalimantan Selatan karena dinilai tidak proaktif dalam penyerapan gabah petani, menunjukkan BUMN Plat Merah ini, sedang menghadapi kinerja organisasi yang sedang tidak baik-baik saja. Pencopotan ini juga memberi gambaran kepada kita bahwa Pemerintah memang tidak main-main dalam memerankan Perum Bulog untuk menyerap gabah sebanyak-banyaknya.
Isu yang mengedepan dalam pencopotan orang penting Perum Bulog di Kalimantan Selatan diatas, antara lain “Petani di Sawah, Bulog di Gudang”. Ungkapan yang disampaikan Menteri Pertanian ini, dianggap sebagai faktor penyebab pencopotan Pimwil Bulog tersebut. Mestinya yang terjadi di lapangan adalah “Petani di Sawah, Bulog pum Siap di Sawah”.
Menteri Pertanian sendiri, pasti tidak akan asal mencopot, bila kinerja Pimwil Bulog Kalimantan Selatan ini, sesuai dengan apa yang diharapkan Pemerintah. Langkah Menteri Pertanian “mencopot” Pinwil Perum Bulog Kalimantan Selatan, tentu dilandasi oleh berbagai pertimbangan. Salah satunya, bisa saja karena ada laporan dari petani yang kecewa dengan kinerja Pimwil Perum Bulog itu sendiri.
Kalau betul pernyataan “Petani di Sawah, Bulog di Gudang” menjadi dasar pencopotan tersebut, jelas Pimwil Perum Bulog Kalimantan Selatan ini, belum melaksanakan semangat “Bulig Jemput Gabah Petani”. Artinya, kalau spirit ini ingin diwujudkan, mestinya Bulog selalu berada di sawah selama 24 jam, menunggu hasil panen para petani. Jadi, tidak seharusnya Bulog hanya menanti petani di gudang Bulog.
Target Pemerintah agar musim panen kali ini, Perum Bulog dapat menyerap gabah sebanyak-banyaknya, tentu dapat kita pahami. Pemerintah percaya Perum Bulog akan memberi kinerja terbaiknya dalam mendukung pencapaian swasembada pangan, utamanya beras. Itu sebabnya, Pemerintah pasti kecewa jika dilapangan terekam ada Pimwil Bulog yang bekerja hanya sekedar menunggu hasil panen para petani.
Sejatinya, “Bulog Jemput Gabah” adalah program yang diluncurkan oleh Perum Bulog (Badan Urusan Logistik) untuk membeli gabah langsung dari petani. Program ini bertujuan untuk membantu petani meningkatkan pendapatan dan mengurangi risiko penjualan gabah. Makna dari Bulog Jemput Gabah adalah sebagai berikut : pertama membantu petani meningkatkan pendapatan dengan membeli gabah langsung dari mereka.
Kedua, mengurangi risiko penjualan gabah bagi petani, karena Bulog membeli gabah langsung dari mereka. Ketiga, membantu meningkatkan kualitas gabah, karena Bulog membeli gabah yang memenuhi standar kualitas tertentu. Dan keempat, mendukung ketahanan pangan nasional, karena Bulog membeli gabah untuk kebutuhan beras nasional.
Atas hal demikian, dapat ditegaskan, Bulog Jemput Gabah adalah program yang membantu petani, mengurangi risiko penjualan gabah, meningkatkan kualitas gabah, dan mendukung ketahanan pangan nasional. Program ini sangat penting, ketika panen raya padi berlangsung. Saat itulah Perum Bulog perlu turun langsung ke sawah-sawah petani yang tengah panen.
Dalam pelaksanaannya di lapangan, berdasar pengalaman selama ini, ada beberapa masalah yang butuh penanganan serius dalam program jemput gabah petani. Berikut beberapa masalah yang dihadapi oleh program Bulog Jemput Gabah antara lain,
keterlambatan pembayaran kepada petani dapat menyebabkan kesulitan keuangan bagi petani. Kemudian, harga beli gabah yang rendah dapat menyebabkan petani tidak mendapatkan pendapatan yang layak.
Selanjutnya, kualitas gabah yang rendah dapat menyebabkan Bulog tidak dapat membeli gabah tersebut. Lalu, keterbatasan infrastruktur, seperti jalan dan fasilitas penyimpanan, dapat menyebabkan kesulitan dalam pengangkutan dan penyimpanan gabah. Begitu pun dengan kurangnya transparansi dalam proses pembelian dan pembayaran dapat menyebabkan kesulitan bagi petani untuk memantau status pembayaran mereka.
Selain itu, ketergantungan pada cuaca dapat menyebabkan kesulitan dalam pengangkutan dan penyimpanan gabah. Kemudian, kurangnya partisipasi petani dalam program Bulog Jemput Gabah dapat menyebabkan kesulitan dalam mencapai target pembelian gabah. Tak kalah penting, keterbatasan sumber daya, seperti dana dan tenaga kerja, dapat menyebabkan kesulitan dalam melaksanakan program Bulog Jemput Gabah.
Masalah lain adalah kurangnya koordinasi antara Bulog, petani, dan stakeholders terkait dapat menyebabkan kesulitan dalam melaksanakan program Bulog Jemput Gabah. Last but no least,
ketergantungan pada sistem manual dapat menyebabkan kesulitan dalam pengelolaan data dan informasi tentang program Bulog Jemput Gabah.
Disodorkan pada persoalan seperti ini, sangat dimintakan adanya langkah cerdas dari penyelenggara Program Bulog Jemput Gabah agar lebih mengena pada tujuan yang diharapkan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menyukseskan program Bulog Jemput Gabah Petani, pertama, meningkatkan koordinasi antara Bulog, petani, dan stakeholders lainnya untuk memastikan keselarasan dan efisiensi dalam pelaksanaan program.
Kedua, mengembangkan sistem informasi yang efektif untuk mengelola data dan informasi tentang program Bulog Jemput Gabah. Ketiga, meningkatkan kapasitas petani melalui pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas gabah. Keempat,
mengembangkan infrastruktur yang memadai, seperti jalan dan fasilitas penyimpanan, untuk memudahkan pengangkutan dan penyimpanan gabah.
Kelima, meningkatkan transparansi dalam proses pembelian dan pembayaran untuk memastikan kepercayaan petani terhadap program. Keenam, mengembangkan kerja sama dengan stakeholders lainnya, seperti bank dan perusahaan input pertanian, untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas program. Ketujuh,
meningkatkan kualitas gabah melalui penggunaan teknologi dan praktik pertanian yang baik.
Kedelapan, mengembangkan sistem pembayaran yang efektif dan efisien untuk memastikan pembayaran yang tepat waktu kepada petani. Kesembilan,
meningkatkan partisipasi petani dalam program Bulog Jemput Gabah melalui sosialisasi dan promosi yang efektif. Dan kesepuluh, mengembangkan evaluasi dan pemantauan yang efektif untuk memantau kemajuan dan mengidentifikasi masalah yang timbul dalam pelaksanaan program.
Akhirnya penting untuk disampaikan, Bulog Jemput Gabah Petani, dalam kenyataannya, belum semulus yang dibayangkan. Di berbagai daerah, masih muncul problem yang menjelimet dan butuh penanganan lebih seksama. Sedihnya lagi, kasus yang menimpa Pimwil Perum Bulog Kalimantan Selatan karena dianggap kurang pro aktif dalam melakukan penyerapan gabah petani, tentu perlu dijadikan proses pembelajaran kita bersama.
Ke depan, jangan lagi ada Pimwil-Pimwil Bulog lain yang dicopot jabatannya. Bukankah bangsa ini memiliki budaya adiluhung ? Mari kembangkan nilai-nilai kehidupan “silih asah, silih asih, silih asih dan silih wawangi”. Semoga jadi percik permenungan kita bersama. (PENULIS, KETUA DEWAN PAKAR DPD HKTI JAWA BARAT).


























