Jakarta – Akhirnya teka-teki itu terjawab sudah: Nanik Sudaryati Deyang mundur dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Tanda-tanda ke arah sana sebelumnya memang sudah terbaca: Nanik lebih banyak memberikan panggung bagi Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari untuk tampil di ruang publik. Sosok inilah, yang disebut Nanik sebagai “adik”, yang diprediksi akan menggantikan dirinya sebagai Kepala BGN yang baru.
Nanik berdalih pengunduran dirinya itu atas alasan kesehatan, sehingga Presiden Prabowo Subianto ia sebut menerimanya. Hari ini Nanik terbang ke luar negeri (Malaysia?) untuk berobat sakit jantungnya.
Prabowo pun disebut Nanik mau membentuk Dewan Pengawas BGN dan Nanik sudah disiapkan untuk jabatan di sana, yakni sebagai Ketua Dewan Pengawas BGN.
Sakit? Itulah alasan formal yang disampaikan Nanik S Deyang terkait pengunduran dirinya. Akan tetapi, kini muncul teka-teki lain: apakah mundurnya Nanik terkait dengan perkara korupsi di BGN yang kini sedang disidik Kejaksaan Agung?
Korps Adhyaksa sebelumnya telah menetapkan mantan Kepala BGN Dadan Hindayana dan dua Wakil Kepala BGN, yakni Sony Sonjaya dan Lodewijk Pusung, plus Deputi Kepala BGN Muhammad Lalu Iwan Mahardan sebagai tersangka korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) di BGN.
Nah, Nanik sebenarnya satu paket dengan para tersangka itu ketika menjabat Wakil Kepala BGN. Hanya Nanik seorang diri yang tidak dijadikan tersangka di antara semua pimpinan BGN. Namun, Kejagung membuka peluang untuk memeriksa Nanik.
Apakah sakit jantung yang dialami Nanik terkait beban kerja sebagai Kepala BGN, ataukah karena memikirkan proses hukum yang kini sedang bergulir di Kejagung?
Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, Nanik sudah mundur dari kursi BGN. Adalah tugas kita untuk menghormati pilihan yang bersangkutan, karena hal itu merupakan hak asasi manusia.
Kita juga doakan agar Nanik segera sembuh dari sakitnya. Perkara selepas sembuh nanti ia akan diperiksa oleh Kejagung atau tidak, biarlah itu menjadi urusan penyidik.
Yang jelas, Nanik belum banyak berbuat di BGN. Apalagi membuat terobosan. Bahkan waktunya lebih banyak dihabiskan untuk menyampaikan bantahan terkait kasus korupsi di BGN yang menyeret bekas kolega-koleganya.
BGN juga masih terus menyisakan kontroversi. Sebab potensi korupsi di BGN memang gila-gilaan. Dari alokasi anggaran MBG 15 ribu rupiah saja, harga menu yang sampai ke penerima manfaat diperkirakan cuma setengahnya. Akhirnya banyak menu MBG yang mubazir karena dibuang akibat anak tidak doyan.
Itu hanya satu soal. Soal lainnya adalah banyaknya persoalan yang terjadi di dapur MBG atau Stasiun Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Akibatnya, meski Prabowo ngotot mempertahankan program MBG, tapi rakyat terus mendesak agar program yang menyedot anggaran negara ratusan triliun rupiah per tahun ini dihentikan saja. Bagi rakyat, MBG lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.
Dan Nanik S Deyang sudah mundur. Saatnya MBG gulung tikar.






















