Oleh Damai Hari Lubis
Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
Kunjungan Jokowi ke kediaman Presiden Prabowo di Kertanegara jelas bukan peristiwa biasa. Lazimnya, justru Prabowo yang mendatangi Jokowi—bukan sebaliknya. Maka, publik pun bertanya: ada apa gerangan di balik langkah tak lazim ini?
Pasca disambangi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (UABB), tak butuh waktu lama Jokowi langsung sowan ke Prabowo. Langkah yang terkesan spontan itu sesungguhnya sarat makna politik. Indikasinya, kuat dugaan Jokowi tengah melobi Prabowo untuk mempertahankan Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri—pelindung utama Jokowi dan lingkar dalamnya selama ini.
Atau, bila memang tak bisa dipertahankan, setidaknya Jokowi mencoba “menitipkan” calon pengganti yang bisa ia kendalikan—yang sudah “terjerat di leher,” meminjam istilah tajam politik.
Posisi Kapolri bagi Jokowi bukan sekadar simbol kekuasaan, tetapi tameng vital bagi keamanan dirinya, keluarganya, dan kroni yang kini kian “kronis dan sekarat.” Terlebih, Listyo Sigit sendiri gagal memenuhi ekspektasi Jokowi dalam satu hal krusial: tak mampu menjerat para aktivis yang menuduh Jokowi menggunakan ijazah palsu. Sebaliknya, justru Polres berani menyita objek perkara (ijazah S-1 yang “dipaksakan asli”).
Apakah pertemuan dengan UABB membawa kabar yang membuat Jokowi gelisah? Patut diingat, UABB adalah sosok ulama istiqamah yang pernah ditangkap Densus 88 pada 9 Agustus 2010—saat Jokowi masih menjabat Wali Kota Surakarta. Apakah ini bentuk karma politik yang menghantui Jokowi hari ini?
Atau, jangan-jangan kunjungan ke Kertanegara hanyalah klarifikasi atas pembatalan Tim Reformasi dan Transformasi Polri bentukan Listyo, yang santer dikaitkan dengan “cawe-cawe” Jokowi sendiri? Maka, seperti biasa, Jokowi mungkin sedang memainkan “metode teori terbalik”—strategi khasnya: menuduh pihak lain untuk menutupi jejak sendiri.
Jokowi tampaknya paham, dirinya kini dianggap sebagai rival diam-diam oleh Prabowo. Ia menempatkan diri layaknya “matahari kembar” dalam pemerintahan Koalisi Maju, yang tentu saja riskan. Dalam posisi ini, nasibnya—dan masa depan politik keluarganya—ibarat telur di ujung tanduk.
Karena itu, bisa dimengerti jika akhirnya Jokowi yang “mengalah” datang ke Kertanegara. Sebuah langkah defensif di tengah ancaman yang makin nyata, baik bagi dirinya maupun sang putra mahkota, Gibran, yang kini juga mulai diterpa tudingan serupa: soal ijazah “remang-remang.”
Apa pun motif sesungguhnya, publik berhak mencurigai bahwa langkah Jokowi kali ini tak lepas dari naluri klasiknya: melindungi diri, harta, keluarga, dan kepentingan politik sang anak yang kian terjepit.
Presiden Prabowo tentu sudah memahami karakter Jokowi. Namun, publik tetap perlu mengingatkan: berhati-hatilah. Sebab apa yang diucapkan Jokowi sering kali seperti pepatah lama—
“Telunjuk menunjuk, kelingking mengkait.”

Oleh Damai Hari Lubis




















