Jakarta – Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada Allah-lah kami akan kembali.
Willy Abdullah Fujiwara (80) pun menyadari dan meyakini hal itu. Cepat atau lambat, sebagai manusia yang merupakan makhluk bernyawa dirinya akan wafat pula. Ajal tak bisa dimajukan atau dimundurkan sedetik pun. Kalau sudah waktunya, pasti akan tiba. Hanya soal waktu saja.
Allah SWT berfirman dalam kitab suci Al Quran Surat Al Araf ayat (34) yang artinya, “Maka bila ajal itu tiba, mereka tidak akan dapat meminta penangguhan dan tidak pula mempercepatkan barang sesaat pun.”
Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara manusia “pulang” atau kembali ke haribaan Allah, menghadap Sang Khaliq (Pencipta)?
Willy pun sedang mencari jalan pulang untuk bisa menghadap Allah dengan sebaik-baiknya.
Jika harimau mati meninggalkan belang, dan gajah mati meninggalkan gading, maka manusia mati meninggalkan apa? Tentunya meninggalkan nama.
Apakah nama itu baik atau buruk, atau dalam terminologi Islam disebut “husnul khatimah” (akhir yang baik) atau “suul khatimah” (akhir yang buruk)?
Semua tergantung amal dan perbuatan manusia itu sendiri serta ridha Allah SWT. Manusia hanya bisa berusaha sekuat jiwa raga supaya mendapat ridha Allah untuk mati dalam keadaan husnul khatimah, sementara keputusan akhir ada di tangan-Nya.
Kata raja dangdut Rhoma Irama dalam lagunya, “Kematian” (1986):
Ada dua cara kematian
Tergnatung amal dan perbuatan
Ada yang bagai rambut dicabut dari tepung
Itu mati bagi yang takwa
Namun bagi orang yang durjana
Mati ‘kan merupakan derita
Sakitnya bagi sutra dicabut dari duri
Itu adzab Tuhan yang nyata
Seandainya boleh memilih, Willy tentu akan memilih cara kematian yang pertama. Sebab itu, ia selalu berusaha untuk menjadi hamba yang bertakwa.
Titik Awal Perjalanan
Kematian bagi Willy bukan titik akhir. Kematian adalah titik awal atau “start” dimulainya perjalanan panjang manusia melawati alam Barzah (kubur), atau persinggahan sementara, menuju alam akhirat, atau persinggahan terakhir, yakni Surga atau Neraka. 
Sebab itu, menghadapi perjalanan panjang tersebut, Willy pun menyiapkan bekal. Dan sebaik-baiknya bekal adalah takwa. Takwa berarti menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya.
Sedapat mungkin Willy melaksanakan perintah-perintah Allah. Terutama rukun Iman yang jumlahnya ada enam, dan rukun Islam yang jumlahnya ada lima.
Untuk rukun iman, insya Allah Willy sudah melaksanakannya. Untuk rukun Islam, yakni syahadat, salat, zakat, puasa dan haji pun Willy sudah melaksanakannya. Bahkan bukan hanya haji, melainkan juga umrah yang sudah ia laksanakan beberapa kali. Ia juga menghajikan ibunya, dan juga menghajikan dan mengumrahkan istrinya, Nancy Mokodongan. Saat umrah, Willy sempat mengunjungi Masjidi Aqsa di Yerusalem, dan Turkiye.
Saat menunaikan ibadah haji, kebetulan Willy satu rombongan dengan dai sejuta umat KH Zainuddin MZ, kini almarhum. Willy kebetulan juga satu rombongan dengan Dien Syamsuddin, yang kelak menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, saat pertukaran pemuda Indonesia-Arab Saudi.
Zakat fitrah maupun zakat maal juga sudah ia laksanakan dengan rutin. Begitu pun puasa. Bahkan bukan hanya puasa wajib setiap bulan Ramadan, melainkan juga puasa sunah setiap hari Senin dan Kamis.
Willy juga rajin mengumpulkan bekal untuk akhiratnya. Bekal itu berupa amal jariyah. Ada tiga amal yang pahalanya tak akan pernah terputus meskipun seseorang sudah meninggal dunia. Yakni amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak saleh.
Tanpa bermaksud “riya'” atau pamer, dan sekadar untuk memberikan pembelajaran terutama bagi anak-anak dan cucu-cucunya, Willy pun berusaha melaksanakan amal jariyah sebanyak-banyaknya.
Antara lain ia ikut memprakarsai dan membangun Musala Darul Falah dan Masjid Agung Discovery Residences Bintaro di kompleks perumahan dia tinggal, yakni Discovery Residences, Pondok Aren, Bintaro, Tangerang Selatan, Banten. Hal ini ia lakukan bersama Yayasan Pembangunan Masjid Agung Discovery Bintaro.
Dalam dua pembangunan rumah ibadah tersebut, Willy melibatkan Bapak St Burhanuddin yang kelak menjadi Jaksa Agung RI, yang banyak memberikan dukungan sampai akhirnya pembangunan musala dan masjid dimaksud dapat terwujud.
Untuk ilmu yang bermanfaat, Willy ikut memprakarsai dan mendirikan Universitas Dumoga di Kotamobagu, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Hal ini ia lakukan bersama Yayasan Pendidikan Kotamobagu Mandiri.
Pun, bersama Yayasan Warga Persahabatan Indonesia-Jepang, Willy mendirikan lembaga kursus bahasa Jepang, Mie Gakuen di Tebet, Jakarta Selatan.
Willy juga berusaha menjadi anak saleh. Setelah berhasil menemukan ayah kandungnya, Asajiro Fujiwara di Jepang tahun 1971, dan bekerja selama sekitar enam tahun di Negeri Matahari Terbit itu, Willy memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan bekerja di ibu kota Indonesia ini.
Tujuannya, tak lain untuk bisa lebih dekat dan berbakti kepada ibunya. Willy ingin mengasuh dan membalas budi dan jasa-jasa ibunya yang telah melahirkan, dan juga neneknya, yang telah mengasuh dan membesarkannya berdua, karena Ny Hj Dasima Mokodongan adalah “single parent” atau orang tua tunggal setelah sang suami, Asajiro Fujiwara sebagai tentara Jepang terpaksa harus meninggalkan Kotamobagu setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Saat itu Willy masih di dalam kandungan ibunya.
Putra-putri Willy juga insya Allah saleh dan saleha yang rajin dan akan terus mendokaan kedua orangtuanya.
Membantu Sanak-saudara
Sekembali dari Jepang, Willy membangun rumah yang cukup representatif di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Tujuannya untuk ditempati bersama ibu dan neneknya, serta sebagai rumah singgah bagi anak-anak ibunya serta saudara-saudara sekampung ketika sedang mencari pekerjaan di Jakarta.
Diketahui, setelah suaminya, Asajiro Fujiwara kembali ke Jepang, Ny Hj Dasima Mokodongan menikah lagi dan melahirkan delapan anak, sehingga dengan Willy semua ada sembilan anak.
Anak-anak ibunya yang juga saudara-saudara tirinya, dan juga anak-anak dari kerabat dan saudaranya, Willy tampung di rumahnya dan carikan pekerjaan di Jakarta. Beberapa di antaranya bahkan Willy carikan pekerjaan di Jepang.
Alhamdulillah, ada beberapa anak itu yang berhasil, bahkan ada yang menjadi direktur bank dan pengusaha sukses.
Willy juga mendirikan Yayasan Mandiri Sejahtera, dan telah memberangkatkan puluhan anak-anak keturunan Jepang dari berbagai daerah di Indonesia untuk bekerja di negeri Sakura.
Bagi Willy, bisa membantu orang lain adalah suatu kepuasan batin tersendiri, karena pengalaman tersebut pernah Willy rasakan sejak hijrah ke Jakarta hingga ke Jepang. Semua itu Willy lakukan dengan ikhlas.
Apa yang diperbuat Willy ternyata membawanya bisa bertemu Pangeran Akihito yang kini menjadi Kaisar Jepang. Juga bertemu Mangkunegara XII di Solo, Jawa Tengah, dan putri Sri Sultan Hamengkubuwono X di Yogyakarta.
Willy juga mendapat sorotan media internasional, sehingga diundang ke Studio NHK (Nippon Hoso Kyokai) atau Kantor Berita Jepang, dan dibuatkan film dokumenter Chiaki Kamakura.
Rekan Willy yang pernah sama-sama menjadi peserta pertukaran pemuda Indonesia-Jepang, yang kemudian menjadi reporter NHK World bersama kru TV-nya juga pernah menginap di kediaman Willy di Bintaro sekaligus untuk membuat kisah perjalanan Willy ke negara-negara ASEAN dan Jepang.
Evaluasi Diri atau Muhasabah
Kini, pekerjaan Willy setiap hari adalah melakukan evaluasi, mawas diri atau muhasabah tentang apa saja yang pernah diperbuatnya dalam kehidupannya di dunia yang nyaris mencapai 80 tahun.
Jika dalam evaluasinya ada perbuatan di masa lalu yang salah, maka Willy akan memohon ampun kepada Allah SWT. Itu jika kesalahan tersebut hanya menyangkut “hablun minallah” atau hubungan Willy dengan Allah.
Sementara jika ada kesalahan terkait “hablun minannas” atau hubungan Willy dengan sesama manusia, maka ia akan minta maaf kepada orang tersebut.
Kepada orang-orang yang pernah membantunya di masa sulit, Willy pun berusaha membantu mereka semampunya.
Supaya tidak terlalu merepotkan anak-anaknya ketika nanti dipanggil Allah SWT, Willy pun telah mempersiapkan tanah makamnya sendiri, yakni di San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat, tepat di samping makam istri tercintanya.
Willy juga sudah mewariskan semua harta dan aset-asetnya kepada anak-anaknya, sehingga ketika ajal itu tiba, anak-anak Willy tak akan berselisih soal warisan.
Ny Nancy Willy Abdullah Fujiwara meninggal dunia pada 10 Desember 2024 dan dimakamkan di San Diego Hills.
Willy-Nancy dikaruniai empat orang anak, yakni dua putra dan dua putri. Mereka adalah Purnama Wijaya SE yang menikah dengan Suharti dan punya seorang anak.
Lantas, Widya SE MA, yang menikah dengan Richard Mokodongan dan punya dua anak.
Kemudian Arini Oktaviani SKom yang bersuamikan Raditya dan dikaruniai seorang anak.
Terakhir adalah Muhammad Pandhie Syah SE yang beristrikan Irma.
Ceritanya, sepulangnya ke Jakarta dari Kotamobagu bersama Nancy yang baru saja dinikahinya, Willy tidak balik lagi ke Honda Motor untuk bekerja kembali. Willy kemudian bertemu kawan lamanya, Ronny Kumontoi yang bekerja di PT Astra Internasional.
Saat itu peristiwa Malari atau Kerusuhan 5 Januari 1974 baru saja terjadi. Semua orang Jepang di Indonesia pulang ke negerinya. Untuk mengisi kekosongan tenaga ahli dari Jepang, Ronny Kumontoi menawari Willy sebuah pekerjaan, yakni “maintenance” atau perawatan “rolling door”, bekerja sama dengan PT Apollo Steel.
Lambat laun, Willy memberanikan diri melakukan wirausaha sendiri. Ia pun mendapat banyak pekerjaan memasang dan merawat rolling door, mulai dari Plaza Hayam Wuruk di Jakarta, Pasar Turi di Surabaya, Jawa Timur, lalu Karebosi, Sulawesi Selatan, Sorong, Papua, Gorontalo dan sebagainya.
Dari sinilah rezeki Willy makin membaik, sehingga bisa membeli tanah di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dan kemudian membeli rumah di Discovery Residences, Pondok Aren, Bintaro, Tangerang Selatan, Banten.
Namun, semua harta kekayaannya itu kini telah dia wariskan kepada putra-putrinya setelah istrinya meninggal dunia.
Di hari tuanya kini, Willy mulai menyeleksi teman-temannya dan membatasi pergaulannya. Teman-teman yang menjadikan dia bertambah kebaikan dan takwanya akan ia pertahankan. Sebaliknya, teman-teman yang akan membawa ke arah mudarat apalagi maksiat akan ia tinggalkan.
Willy berkeyakinan, lingkungan pergaulan dan teman-temannya akan ikut menentukan cara kematiannya. Sebab itu, ia merasa bersyukur bahwa teman-temannya saat ini adalah orang-orang baik atau saleh semua yang mengondisikan dia untuk terus berbuat kebaikan.
Willy berharap bisa husnul khatimah ketika meninggal dunia nanti, dan ia merasa jalan ke arah sana sudah mulai kelihatan dari lingkungan pergaulan yang bisa dikatakan semua adalah orang-orang baik atau saleh.
Menyongsong Kematian
Willy kini siap menyongsong kematiannya. Cepat atau lambat. Siang atau malam. Untuk pulang ke asalnya. Berasal dari Allah, ia pun akan kembali kepada Allah.
Yang ia minta cuma satu: meninggal dunia di hari Jumat supaya bisa bebas dari siksa kubur, atau meninggal di hari lain asal sedang berbuat kebaikan, bukan kemaksiatan. Apalagi Nabi Muhammad SAW yang merupakan idola dan panutannya juga wafat di hari Senin, bukan Jumat. Pasti Allah punya maksud tersendiri. Begitu pun jika Willy meninggal dunia pada selain hari Jumat.
Bagi Willy yang paling penting adalah Allah mengampuni segala dosanya, menerima amal baik dan meridhai kehidupannya, serta menempatkan dia di surga-Nya kelak.
Willy merasa bersyukur atas ridha Allah sehingga dirinya bisa mencapai kehidupan seperti sekarang ini.
Perjalanan hidupnya yang berliku bahkan berlubang, ia tempuh dengan bekal usaha dan keteguhan hati serta kejujuran disertai disiplin.
Ia berpesan, bagi orang-orang yang gagal dalam menempuh pendidikan karena suatu kendala, jangan putus asa. Kita harus berani mencoba dan mengulangi lagi dengan mengubah pola hidup.
Akan tetapi, ia juga mengingatkan status sosial dan gelar akademik tidak menjamin akan sukses karena semua tergantung Allah SWT.
Perjalanan hidup yang Willy lakoni adalah berkat petunjuk dan ridha Allah SWT, dan apa yang dia miliki akan dia kembalikan kepada pemilik sesungguhnya melalui infak, sedekah dan amal jariyah, karena sesungguhnya harta yang Willy miliki kelak adalah yang dia infakkan dan sedekahkan, sebagai bekal menuju perjumpaan dengan Sang Maha Pencipta.
Ucapan Terima Kasih
Di sisi lain, Willy juga berterima kasih kepada orang-orang dan lembaga yang telah berjasa kepadanya atau ikut mengantrakan keberhasilannya mencapai kondisi kehidupan seperti sekarang ini.
Mereka adalah Ketua Persatuan Alumni dari Jepang (Persada), antara lain alm Abdillah Ms, alm Sidharta Margorejo, Rahmat Gobel, Ismaji Hadisumarto, dan lain-lain.
Juga dari Yayasan Warga Persahabatan Indonesia-Jepang, antara lain alm Noboru Otsudo, Basuki Onodera, alm Richard Ishimine, Heru Santoso dan lain-lain.
Lalu, dari Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK) Umar Paputungan dan Muharjo, serta Pemerintah Kota Bolaang Mongondow.
Pun, St Burhanuddin (Jaksa Agung), Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Discovery Residences Bintaro, yakni Armaya, Suharta, Solihin dan Askip Pasaribu.
Juga alm Ryoichi Katoh yang mensponsori Willy ke Jepang, dan almh Rumambi, sponsor dari pihak Indonesia.
Willy juga berterima kasih kepada ibu tiri dan adik-adiknya di Jepang yang “welcomed” terhadap dirinya, yang sampai sekarang hubungan Willy dengan mereka pun tetap harmonis sejak pertemuan pertama mereka tahun 1971.
Tak lupa, Willy menyampaikan permohonan maaf kepada siapa pun yang pernah berinteraksi dengannya, dan jika ada hal-hal terkait dengan kewajiban yang belum ditunaikan, Willy mohon kiranya yang bersangkutan dapat menghubungi dirinya. (Habis – Bersambung ke Biografi)






















