Oleh Damai Hari Lubis
Di republik ini, kejujuran seringkali menjadi barang langka, dan sayangnya, ijazah asli tampaknya lebih sulit ditemukan daripada batu akik langka. Saat rakyat bertanya, “Mana bukti sahih ijazah Presiden?” yang muncul bukan transparansi, melainkan rombongan prajurit perasaan bernama Termul — Ternak Mulyono. Mereka tidak peduli pada fakta, cukup berbekal keyakinan membabi buta bahwa pemimpinnya selalu suci dari dosa, bahkan ketika kebohongan sudah setebal tembok beton.
Kasus ijazah palsu Jokowi itu ibarat mayat di ruang tamu: semua orang mencium baunya, tapi pura-pura tidak melihat. Dan alih-alih membersihkan, para Termul justru mengusir orang yang berani membuka jendela. Mereka melapor ke Mabes Polri, berharap rasa takut akan merayap ke dada setiap pengkritik.
Sayangnya, rasa takut itu justru mati di tempat.
Yang tumbuh malah keberanian. Gelombang solidaritas publik makin kuat, dukungan makin deras, dan suara-suara kritis makin lantang. Kebodohan para Termul bagaikan menyiram bensin ke bara api: berharap padam, malah meledak.
Mereka lupa, rakyat Indonesia bukan keturunan pengecut. Kita adalah warisan para pejuang yang melawan kolonialisme dengan senjata seadanya. Dibandingkan menghadapi penjajah bersenjata lengkap, berhadapan dengan laporan polisi hanyalah permainan anak-anak.
Lebih ironis lagi, setiap laporan yang mereka buat justru menjadi papan reklame besar bertuliskan: “Kami sedang panik. Ada rahasia besar yang kami tutupi.” Dan semakin mereka menggonggong di ruang hukum, semakin rakyat paham bahwa ada bangkai busuk yang sedang dikubur dalam-dalam.
Para Termul ini ibarat cacing tanah: menghindar dari cahaya, bekerja di kegelapan, dan memberi makan akar kebohongan. Mereka pikir kita akan tiarap. Padahal, yang tiarap hanyalah keberanian mereka sendiri, bukan milik rakyat.
Dan kepada kalian, Termul² para penjaga kebohongan, ingatlah: sejarah tidak menulis nama kalian dengan tinta emas. Nama kalian akan tercatat di pinggir halaman, sebagai catatan kaki murahan dari kisah busuk kekuasaan yang mencoba menipu bangsanya sendiri.

Oleh Damai Hari Lubis
























