Oleh: Entang Sastratmadja
Apakah benar Presiden Prabowo lebih memprioritaskan pencapaian swasembada pangan daripada ketahanan pangan?
Perlu dipahami, swasembada pangan adalah kondisi ketika suatu negara mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tanpa bergantung pada impor. Sedangkan ketahanan pangan memiliki cakupan lebih luas, meliputi ketersediaan, keterjangkauan, kualitas, serta keberlanjutan pangan bagi seluruh masyarakat.
Perbedaan mendasar keduanya terletak pada titik tekan.
- Swasembada pangan menekankan pada produksi dan ketersediaan pangan dalam negeri dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada impor.
- Ketahanan pangan memastikan setiap orang memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, bergizi, dan tersedia secara berkelanjutan.
Implikasi Fokus pada Swasembada Pangan
- Keterjangkauan pangan dapat terabaikan. Jika fokus hanya pada produksi, harga pangan bisa lebih tinggi dan sulit dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah.
- Kualitas pangan kurang diperhatikan. Kuantitas produksi memang meningkat, tetapi tanpa memperhatikan gizi dan keamanan pangan, masyarakat tetap rentan terhadap masalah kesehatan.
- Ketergantungan pada faktor eksternal tetap ada. Bencana alam, perubahan iklim, dan kondisi geopolitik global bisa mengganggu ketersediaan pangan meskipun target swasembada tercapai.
Titik Lemah Ketahanan Pangan Saat Ini
- Distribusi pangan belum merata. Kurangnya integrasi lintas lembaga, hambatan logistik, dan struktur pasar yang oligopolistik membuat keterjangkauan pangan tidak optimal.
- Susut dan sisa pangan (SSP) tinggi. Baik di tingkat produsen maupun konsumen, sisa pangan masih banyak terbuang. RPJMN 2025–2029 menargetkan pengurangan SSP secara signifikan.
- Keterjangkauan dan kualitas pangan masih jadi masalah. Harga pangan tinggi di sebagian daerah, sementara pola konsumsi masyarakat belum sepenuhnya sehat dan bergizi.
- Ketergantungan pada faktor eksternal. Perubahan iklim ekstrem dan gejolak geopolitik global memengaruhi pasokan serta harga komoditas pangan strategis.
Solusi yang Ditempuh Pemerintah
- Meningkatkan produktivitas pertanian melalui teknologi inovatif dan ramah lingkungan, termasuk pemanfaatan pupuk serta pertanian organik.
- Perlindungan lahan pertanian dengan pengendalian alih fungsi lahan agar ketersediaan lahan produktif tetap terjaga.
- Pengembangan infrastruktur pertanian, mulai dari irigasi, transportasi, hingga energi, guna mengurangi kerugian pascapanen dan meningkatkan efisiensi.
- Pemberdayaan petani melalui pelatihan, akses teknologi informasi, dan pendidikan pertanian agar petani lebih mandiri serta memahami dinamika pasar.
- Adaptasi perubahan iklim lewat pengembangan varietas tanaman tahan iklim dan penyediaan asuransi pertanian.
- Pengurangan food waste melalui edukasi publik dan penguatan infrastruktur pengolahan limbah pangan.
- Pendekatan sistemik dengan melibatkan petani, akademisi, perusahaan agribisnis, serta masyarakat dalam membangun ekosistem pangan berkelanjutan.
Ketahanan pangan bukan sekadar soal mampu memproduksi, tetapi juga memastikan setiap rakyat Indonesia bisa mengakses pangan sehat dengan harga yang terjangkau. Tantangan besar menanti, mari kita ikuti perkembangannya!
[Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat]

Oleh: Entang Sastratmadja


















