TOKYO —FusilatNews.-– Bagi banyak orang di luar Jepang, Tokyo adalah simbol kemajuan, keteraturan, dan kemakmuran. Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah, kereta datang tepat waktu, dan ekonomi Jepang masih menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Namun di balik wajah modern itu, terdapat kisah-kisah sunyi tentang mereka yang berjuang bertahan hidup di tengah biaya hidup yang terus meningkat.
Salah satunya adalah Yuki Tanaka (nama samaran), 34 tahun, seorang ibu tunggal yang pernah bekerja di sebuah rumah sakit di Tokyo.
Ketika pandemi Covid-19 mencapai puncaknya, Yuki menghabiskan hari-harinya di bangsal yang penuh pasien. Beban kerja meningkat drastis, sementara tekanan mental terus menghantui para tenaga kesehatan. Setelah beberapa tahun menjalani situasi tersebut, ia memutuskan keluar dari pekerjaannya.
“Setiap hari seperti medan perang,” ujarnya kepada sebuah media lokal Jepang.
Namun keluar dari rumah sakit tidak otomatis menyelesaikan masalah. Sebagai ibu yang membesarkan anak seorang diri, kebutuhan hidup terus berjalan. Sewa apartemen, biaya sekolah, makanan, dan berbagai pengeluaran lainnya menuntut pemasukan yang stabil.
Dalam kondisi itulah Yuki akhirnya memasuki industri hiburan dewasa. Awalnya sebagai model video dewasa, kemudian bekerja melalui layanan deriheru atau delivery health, salah satu sektor industri seks yang cukup berkembang di Jepang.
Pendapatannya kini mencapai sekitar ¥30.000 untuk satu sesi kerja selama dua jam. Jumlah yang menurutnya jauh lebih besar dibandingkan dengan gaji yang pernah diterimanya sebagai tenaga kesehatan.
Perempuan Migran dalam Lingkaran yang Sama
Kisah serupa juga dialami Linh Nguyen (nama samaran), perempuan asal Vietnam yang datang ke Jepang melalui program pemagangan teknis (Technical Intern Training Program).
Seperti ribuan pekerja migran lainnya, Linh berangkat dengan harapan memperbaiki taraf hidup keluarganya di kampung halaman. Ia bekerja di sebuah pabrik makanan di Prefektur Saitama dengan jam kerja panjang dan penghasilan yang sebagian besar digunakan untuk membayar utang biaya keberangkatan.
Namun setelah pandemi dan perlambatan ekonomi, lembur yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama mulai berkurang. Sementara itu, harga kebutuhan pokok dan biaya hidup terus naik.
Menurut sejumlah laporan organisasi bantuan migran di Jepang, tidak sedikit pekerja asing yang akhirnya kehilangan pekerjaan atau terjebak dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit.
Linh termasuk salah satunya.
Tanpa keluarga dan jaringan pendukung yang memadai di Jepang, ia kemudian berpindah-pindah pekerjaan informal. Dalam kondisi terdesak, seorang kenalan memperkenalkannya kepada pekerjaan yang menawarkan penghasilan beberapa kali lipat dibandingkan pekerjaan pabrik.
“Saya datang ke Jepang untuk membantu keluarga, bukan untuk melakukan pekerjaan ini,” katanya dalam sebuah wawancara yang dikutip media pendamping migran. “Tetapi ketika pilihan semakin sedikit, saya tidak tahu harus ke mana lagi.”
Sisi Gelap Negeri Maju
Menurut data pemerintah Jepang, jumlah rumah tangga dengan orang tua tunggal terus meningkat dalam dua dekade terakhir. Pada saat yang sama, Jepang juga menghadapi persoalan stagnasi upah yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Inflasi yang relatif rendah selama puluhan tahun memang sempat menjadi ciri ekonomi Jepang. Namun sejak 2022, kenaikan harga kebutuhan pokok dan energi mulai dirasakan masyarakat luas.
Bagi kelompok berpenghasilan rendah, terutama perempuan, ibu tunggal, dan pekerja migran, tekanan tersebut terasa lebih berat.
Para pengamat sosial di Jepang menyebut bahwa industri seks sering kali menjadi “jaring pengaman ekonomi informal” yang menyerap mereka yang tidak menemukan pilihan lain. Meski legalitas berbagai bentuk layanan tersebut berada dalam wilayah abu-abu hukum Jepang, sektor ini tetap menjadi industri bernilai miliaran yen setiap tahun.
Di Balik Statistik
Kisah Yuki dan Linh menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi sebuah negara tidak selalu dirasakan merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Di balik statistik pertumbuhan ekonomi, angka pengangguran yang rendah, dan citra Jepang sebagai negara maju, terdapat individu-individu yang harus membuat keputusan sulit demi mempertahankan hidup.
Mereka bukan kriminal. Mereka bukan pula tokoh sensasional yang kerap menghiasi pemberitaan tabloid. Mereka adalah ibu yang ingin anaknya tetap sekolah, pekerja migran yang ingin membantu keluarganya, dan perempuan-perempuan yang berusaha bertahan di tengah sistem yang tidak selalu mampu melindungi mereka.
Di jalan-jalan terang Shinjuku, Ikebukuro, atau Ueno, kisah-kisah seperti ini jarang terlihat oleh wisatawan. Namun bagi sebagian perempuan di Jepang, kehidupan yang tampak tertata itu menyimpan realitas lain: bahwa di negeri yang begitu maju, bertahan hidup tetap bisa menjadi perjuangan yang sangat mahal.





















