Jakarta – FusilatNews.–Gibran Rakabuming Raka memang hebat. Wakil Presiden RI itu berhasil mengadu domba mahasiswa. Kampus-kampus pun bergolak.
Pertama adalah Universitas Bung Karno, Jakarta. Gegara Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Muhammad Abdi Maludin menerima suap agar aksi demonstrasi yang mereka gelar tidak di Istana, tapi di DPR RI, ia dicopot dari jabatannya setelah diprotes banyak mahasiswa.
Maludin, yang kemudian benar-benar dibuat malu karena telah menerima uang Rp20 juta menjelang demo, juga bertemu dengan Gibran di kantornya, Senin (15/6/2026).
Diketahui, Rektorat UBK mencopot Muhammad Abdi Maludin dari jabatannya sebagai Ketua BEM FH UBK. Keputusan ini diambil usai Maludin mengaku menerima uang saat menggelar demo di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026), sebelum bertemu Gibran.
Kampus berikutnya yang bergolak adalah Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah. Kantor rektorat dikepung mahasiswa karena mengirim utusan yang tidak merepresentasikan suara kritis mahasiswa terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih untuk mengikuti kunjungan kerja Gibran ke Ende, Nusa Tenggara Timur, 18 Juni lalu.
Mahasiswa Unsoed adalah salah seorang perwakilan mahasiswa di antara lima perwakilan mahasiswa dari universitas-universitas lainnya yang diajak Gibran melakukan kunjungan kerja ke sejumlah provinsi.
Kelima mahasiswa itu mewakili Universitas Pelita Harapan (UPH), Universitas Sanata Dharma (USD), Universitas Indonesia (UI), Unsoed dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI).
Adapun nama lima mahasiswa yang ikut dalam agenda Gibran adalah Keletus Sakaro dari USD, Daffa Ulhaq dari UI, Nolan Christoper Adam dari UPH, Rapid Bena Matin dari Unsoed, dan Salsabila Maulida dari ISBI.
Dan, sekali lagi, Gibran pun berhasil mengadu domba mahasiswa, sehingga kampus-kampus itu pun bergolak secara internal.
Belajar Korupsi
Seperti anak kecil sedang disuapin makanan, mahasiswa yang semula mulutnya menganga seketika diam karena tersumbat. Suara kritis pun dibungkam. Suap memang bisa menjadi cara paling efektif untuk membungkam suara kritis.
Selain itu, mahasiswa sepertinya sedang belajar korupsi seperti senior-senior mereka yang kemudian menjadi pejabat.
Pertanyaannya, kalau selagi mahasiswa, yang lazimnya masih idealis saja sudah mau menerima siap, bagaimana nanti kalau jadi pejabat?



















