Damai Hari Lubis
Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
Publik di tanah air, bahkan masyarakat internasional, tentu tidak asing dengan fakta bahwa selama satu dekade terakhir—hingga pasca suksesi kekuasaan—Indonesia menyaksikan perlawanan keras dari kelompok masyarakat oposisi terhadap apa yang mereka anggap sebagai Orde Jokowi. Perlawanan ini tidak berhenti hanya karena pergantian presiden, sebab realitas kekuasaan dinilai masih berlanjut melalui penanaman kroni-kroni istimewa dalam tubuh kabinet Merah Putih.
Dalam konteks inilah, TPUA (Tim Pembela Ulama dan Aktivis) hadir sebagai simbol perlawanan umat. TPUA merupakan fase transisi dari perjuangan besar umat Islam sejak 2016, yang bermula dari perlawanan terhadap penistaan agama oleh Ahok melalui GNPF MUI di bawah kepemimpinan Ustaz Bachtiar Nasir. Gerakan itu kemudian bertransformasi menjadi GNPF Ulama yang dikomandoi Ustaz Yusuf Martak, sebelum meredup dan digantikan oleh kehadiran TPUA.
TPUA digawangi oleh Dr. Eggi Sudjana—seorang figur yang dalam dinamika perjuangan berperan ganda: sebagai penjaga gawang sekaligus penyerang, bahkan kapten lapangan. Sosok Eggi Sudjana ibarat René Higuita, eks kiper legendaris Kolombia yang tak hanya bertahan, tetapi juga menyerang dengan penuh risiko. Ia bukan sekadar simbol, melainkan aktor utama perlawanan hukum dan politik.
Melalui TPUA, perlawanan terhadap dugaan kezaliman aparatur negara dijalankan secara terbuka dan sistematis. Aksi demonstrasi, langkah-langkah hukum, litigasi strategis, pelaporan ke lembaga penegak hukum, hingga pengujian ke Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung, dan Komisi Yudisial menjadi bagian dari ikhtiar tersebut. Bahkan, terhadap figur publik dan artis yang dinilai arogan atau melanggar nilai moral publik, TPUA ikut berpartisipasi dalam jalur ajudikatif.
Ketika kemudian TPUA diumumkan dibekukan atau dibubarkan, euforia sempat muncul di berbagai pihak. Ada yang bersorak karena merasa perjuangan umat telah tamat. Ada pula yang gembira karena “menumpang nama” TPUA. Sebaliknya, para penghujat TPUA, Eggi Sudjana, dan penulis tentu berharap inilah akhir dari perlawanan.
Namun, kenyataan berbicara sebaliknya.
Hanya berselang tiga hari pasca pembekuan TPUA (15 Februari 2026), publik kembali dikejutkan. Pada 18 Februari 2026, Dr. Eggi Sudjana tampil eksis dan ofensif, mengumumkan secara terbuka di Mabes Polri bahwa dirinya menjadi salah satu Pembina KORLABI (Komando Koordinator Pelaporan Bela Islam). Organisasi ini dipimpin langsung oleh penulis, dengan manuver awal yang nyata dan lantang.
KORLABI segera mengaktifkan kembali agenda perjuangan: mengejar pertanggungjawaban hukum terhadap tokoh komika Panji atas laporan sebelumnya yang diajukan melalui Wakil Ketua KORLABI, Ustaz Novel Bamukmin. Lebih jauh, Eggi Sudjana juga menyerukan sikap politik internasional: mendesak Presiden RI Prabowo Subianto agar mencabut dukungan terhadap Donald Trump dan sebaliknya memberikan dukungan penuh kepada Palestina—negara yang secara historis menjadi pendukung awal kemerdekaan Indonesia pada 1945. Bahkan, disampaikan kesiapan menggalang milisi sukarelawan untuk berjuang langsung di Palestina apabila Presiden RI ke-8 memberikan restu.
Maka, sangat keliru jika ada yang beranggapan bahwa dibubarkannya TPUA berarti matinya perlawanan umat Islam di Indonesia. Sejarah perjuangan umat selalu membuktikan satu hal: gerakan boleh dibubarkan, organisasi bisa dibekukan, tetapi ide, kesadaran, dan spirit perlawanan tidak pernah bisa dimatikan.
Tokoh utama di balik TPUA, KORLABI, GNPF Ulama, API, dan berbagai organisasi perjuangan umat lainnya sejatinya berpijak pada satu sumber moral dan ideologis yang sama: Imam Besar Habib Rizieq Shihab, Lc., MA., Ph.D. Seorang figur sentral perlawanan terhadap kolonialisme modern, dominasi RRC, zionisme Israel, dan seluruh kebijakan politik yang dianggap menindas kedaulatan umat dan bangsa.
Karena itu, hentikan euforia prematur. Jangan pernah berharap bahwa perlawanan umat akan senyap hanya karena satu wadah dibubarkan.
Sejarah telah memberi pelajaran yang tegas:
mati satu, akan tumbuh seribu pengganti.
Damai Hari Lubis


















