Washington – Reuters- Fusilatnews – Ketegangan hubungan dagang antara Amerika Serikat melawan China memanas lagi menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap China, yang akan mengenakan tarif 50 persen atas impor AS terhadap berbagai produk asal China
Trump juga bersikeras tidak akan menghentikan kebijakan proteksionisnya, meskipun pasar keuangan global mengalami tekanan hebat. “Saya sangat menghormati China, tetapi mereka tidak dapat melakukan ini. Kita akan mencoba sekali,” ujar Trump di Gedung Putih.
“Saya sangat menghormati China, tetapi mereka tidak dapat melakukan ini. Kita akan mencoba sekali,” ujar Trump di Gedung Putih.
Pernyataan Trump datang tak lama setelah China mengumumkan balasan berupa tarif sebesar 34 persen terhadap barang-barang dari AS yang mulai diberlakukan pada Kamis mendatang. Washington memperingatkan, total tarif AS terhadap China bisa melonjak hingga 104 persen tahun ini jika Beijing tidak mundur.
Pasar saham merosot
Ketegangan ini memicu aksi jual di berbagai bursa saham dunia. Bursa saham Hong Kong mencatat penurunan tajam hingga 13,2 persen pada Senin, penurunan harian terburuk dalam hampir 30 tahun.
Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah? Di Jepang, indeks di Tokyo ditutup melemah hampir 8 persen, sementara Frankfurt sempat jatuh hingga 10 persen sebelum memangkas kerugian.
ADi Amerika Serikat, Wall Street mengalami perdagangan yang volatil. Indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup melemah, melanjutkan tren negatif dari pekan sebelumnya.
Triliunan dolar dilaporkan menguap dari valuasi pasar dalam beberapa sesi terakhir. Bitcoin juga merosot, sementara dolar AS mengalami rebound setelah sempat jatuh tajam minggu lalu.
Respons Beijing
Merespons ancaman Trump, Kedutaan Besar China di AS menyatakan, “menekan atau mengancam China bukanlah cara yang tepat untuk terlibat”.
Sementara itu, Trump menegaskan, ia tidak melihat adanya kemungkinan jeda dalam kebijakan tarif. Ia bahkan membatalkan seluruh pertemuan terkait tarif dengan perwakilan China.
Meski demikian, ia membuka peluang untuk berdialog dengan negara mana pun yang siap bernegosiasi.
“Bisa ada tarif permanen, dan bisa juga ada negosiasi, karena ada hal-hal yang kita butuhkan di luar tarif,” kata Trump saat bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pemimpin asing pertama yang secara langsung membahas isu tarif dengannya, dikutip dari kantor berita AFP pada Selasa (8/4/2025).
Tarif baru mulai berlaku Tarif dasar sebesar 10 persen terhadap impor ke AS dari seluruh dunia mulai berlaku pada Sabtu. Mulai Rabu, banyak negara akan menghadapi tarif yang lebih tinggi. Produk dari China dikenai bea masuk 34 persen, sementara barang dari Uni Eropa akan dikenai tarif 20 persen.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan kepada Fox News, banyak negara tengah berusaha merundingkan keringanan. “Melalui negosiasi yang baik, yang akan kita lakukan hanyalah melihat levelnya turun,” ujarnya.
Eropa bersiap balas
Negara-negara anggota Uni Eropa berkumpul di Luksemburg untuk membahas respons terhadap kebijakan tarif AS.
Perancis dan Jerman mendorong pengenaan pajak terhadap raksasa teknologi AS sebagai bentuk balasan.
“Kita tidak boleh mengecualikan opsi apa pun, baik untuk barang maupun jasa,” kata Menteri Perdagangan Perancis, Laurent Saint-Martin. Ia menegaskan bahwa blok Eropa harus membuka kotak peralatan yang sangat komprehensif dan bisa sangat agresif.
Namun, tidak semua negara anggota sejalan. Irlandia, yang dikenal dengan tarif pajak perusahaan yang rendah dan menjadi markas banyak perusahaan teknologi AS, menyuarakan kekhawatiran.
“Menargetkan layanan akan menjadi eskalasi yang luar biasa,” kata Menteri Perdagangan Irlandia, Simon Harris.
Kekhawatiran inflasi dan resesi
Langkah Trump menuai kritik dari kalangan ekonom yang menilai bahwa tarif berskala besar dapat berdampak kontraproduktif.
CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, memperingatkan bahwa inflasi dapat meningkat dan pertumbuhan ekonomi terancam melambat.
“Apakah daftar tarif ini akan menyebabkan resesi atau tidak masih menjadi pertanyaan, tetapi hal itu jelas akan memperlambat pertumbuhan,” ujar Dimon. Senator Partai Republik, Ted Cruz, turut menyuarakan kekhawatiran atas dampak tarif terhadap ekonomi domestik. Ia memperingatkan, resesi dapat menciptakan pertumpahan darah politik bagi Partai Republik pada pemilu paruh waktu mendatang. “Krisis lapangan kerja dan kenaikan harga akan menjadi ancaman nyata bagi para pemilih,” kata Cruz.
Meski terus menuai kritik, Trump tetap yakin bahwa kebijakan tarifnya akan memulihkan sektor manufaktur AS. “Jangan Lemah! Jangan Bodoh!” tulis Trump di media sosial sesaat sebelum pasar Wall Street dibuka. “Jadilah Kuat, Berani, dan Sabar, dan Kehebatan akan menjadi hasilnya!”.





















