Ada masyarakat yang mengukur keberhasilan dengan kecepatan. Lulus tepat waktu dianggap cerdas, terlambat dianggap gagal. Dalam cara pandang seperti itu, waktu menjadi hakim yang paling kejam, sementara perjuangan yang tidak terlihat sering kali diabaikan.
Kisah Ilham, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan, Ilmu Pendidikan, dan Sastra Universitas Islam Makassar (FKIPS UIM), mengajak kita mempertanyakan kembali cara kita menilai seseorang.
Ilham bukan sekadar mahasiswa yang menyelesaikan kuliahnya setelah hampir tujuh tahun. Ia adalah penyandang disabilitas netra yang berhasil menuntaskan ujian skripsinya dengan predikat terbaik, meraih nilai rata-rata 95,5 dengan huruf A. Prestasi itu bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan akhir dari sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi keraguan, hinaan, air mata, dan keteguhan hati.
Ironisnya, ujian terberat Ilham bukanlah membaca literatur tanpa penglihatan, menyusun skripsi, atau menghadapi sidang akademik. Ujian terberat justru datang dari manusia.
Dari orang-orang yang semestinya menjadi sumber semangat.
Ada yang bertanya dengan nada merendahkan, “Sudah kuliah sejak 2019, kok belum selesai juga?” Ada pula yang menyebut biaya pendidikan yang dikeluarkan orang tuanya sebagai “uang yang terbuang” dan menganggap lamanya masa studi sebagai sebuah “musibah”.
Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar biasa bagi yang mengucapkannya. Namun bagi seseorang yang setiap hari sedang berjuang melawan keterbatasan, kata-kata dapat menjadi beban yang jauh lebih berat daripada rintangan fisik.
Namun Ilham memilih jalan yang berbeda.
Ia tidak membalas dengan kemarahan. Tidak pula sibuk membuktikan diri melalui perdebatan. Ia memilih diam, bekerja, dan terus melangkah.
Pelan, tetapi tidak berhenti.
Ada kalanya ia sendiri bertanya apakah dirinya mampu mencapai garis akhir. Ada saat-saat ketika kelelahan hampir mengalahkan keyakinan. Namun ia sadar, menyerah berarti membenarkan semua prasangka buruk yang selama ini ditujukan kepadanya.
Karena itu ia memilih terus berjalan.
Hingga akhirnya, lembar yudisium yang ia genggam menjadi jawaban paling indah atas semua keraguan.
Keberhasilan Ilham sesungguhnya bukan kemenangan atas para penghujat. Ia adalah kemenangan atas rasa putus asa dalam dirinya sendiri.
Inilah kemenangan yang paling hakiki.
Kisah ini juga memperlihatkan bahwa pendidikan bukan sekadar proses menghasilkan lulusan, melainkan proses memanusiakan manusia. Pendidikan yang baik tidak hanya menyediakan ruang belajar, tetapi juga menyediakan ruang harapan bagi mereka yang sering dipandang sebelah mata.
FKIPS Universitas Islam Makassar patut diapresiasi karena menunjukkan komitmennya terhadap pendidikan yang inklusif. Dukungan para dosen, pimpinan fakultas, dan lingkungan akademik membuktikan bahwa ketika kesempatan diberikan secara setara, penyandang disabilitas mampu menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas dan berprestasi setinggi siapa pun.
Di balik keberhasilan Ilham, tersimpan pesan yang lebih luas bagi masyarakat.
Jangan pernah mengukur perjuangan orang lain hanya dari kalender.
Ada orang yang lulus dalam empat tahun.
Ada yang membutuhkan tujuh tahun.
Ada yang berlari.
Ada yang berjalan tertatih.
Namun garis akhir bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang tidak menyerah.
Dalam kehidupan, setiap orang memiliki lintasan yang berbeda. Membandingkan perjalanan seseorang dengan perjalanan orang lain adalah ketidakadilan yang sering kita lakukan tanpa sadar.
Hari ini Ilham tidak datang untuk membalas hinaan.
Ia datang membawa bukti.
Bahwa ketekunan lebih kuat daripada ejekan.
Bahwa kesabaran lebih panjang daripada cibiran.
Bahwa doa orang tua lebih ampuh daripada penilaian manusia.
Dan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah mampu mengalahkan seseorang yang memiliki tekad sebesar gunung.
Tujuh tahun itu ternyata bukan waktu yang terbuang.
Tujuh tahun itu adalah investasi karakter.
Sebuah perjalanan panjang yang melahirkan seorang sarjana, sekaligus mengajarkan kepada kita semua bahwa ukuran keberhasilan bukanlah seberapa cepat seseorang tiba, melainkan seberapa kuat ia bertahan hingga akhirnya sampai.



















