Oleh : Jaya Suprana | Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan
SAYA merasa bangga dan bahagia melihat betapa secara ragawi Taman Ismail Marzuki telah dipugar sedemikian rupa sehingga kini tampak lebih megah serta makin agung. Namun saya merasa prihatin menyaksikan bahwa masalah pengelola Taman Ismail Marzuki ternyata memicu kegelisahan para seniman yang khawatir gerak marwah TIM akan menyeleweng keluar dari jalur fitrah yang telah disepakati oleh para seniman sejak TIM didirikan oleh Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1968.
Meski saya belum pantas menyebut diri sebagai seniman karena masih pada taraf sekadar seorang pembelajar seni kelas PAUK, namun saya rumangsa melu handarbeni alias lancang merasa ikut memiliki TIM. Mohon dimaafkan bahwa saya lancang kegedhen rumangsa begitu itu berkat beberapa kali sebelum TIM dipugar saya sempat menikmati nikmatnya fasilitas lahir-batin yang disediakan TIM sebagai panggung pergelaran resital piano sampai wayang orang mau pun sebagai ruang untuk diskursus mau pun pameran kartun.
Saya berhutang-budi kepada TIM sebagai satu-satunya gedung kesenian bertaraf internasional yang bermurah hati sudi menyelenggarakan pameran tunggal kartun sekaligus secara berbarengan dengan resital piano tunggal saya. Besar harapan saya masalah perbedaan pendapat tentang pengelola serta pengelolaan TIM yang telah dipugar dapat diselesaikan secara musyawarah demi mencari mufakat yang disepakati segenap pihak yang berpentingan tentang masa kini serta masa depan TIM.
Saya sadar sesadar-sadarnya sadar bahwa diri saya bukan siapa-siapa maka sama sekali tidak berhak ikut campur apalagi sok menjadi pahlawan kesiangan yang merasa bisa membereskan kemelut masalah yang dihadapi TIM masa kini. Namun kebetulan saya tahu ada pihak yang menurut keyakinan saya akan mampu memberikan solusi terhadap kemelut masalah yang sedang dihadapi TIM. Maka dengan secara ambeg paramarta penuh kerendahan hati saya memberanikan diri sedikit urun-rembug agar Akademi Jakarta yang para anggotanya terdiri dari para tokoh budayawan senior Indonesia dapat dimohon perkenannya berperan sebagai mediator. Insya Allah, Akademi Jakarta berkenan menampung kemudian mempersatukan segenap opini, harapan dan aspirasi segenap pihak yang merasa berkepentingan terhadap Taman Ismail Marzuki demi maksimal bahkan optimal mendayagunakan daya ragawi-sukmawi Taman Ismail Marzuki yang telah dipugar dapat lanjut berperan sebagai kawah Candradimuka untuk menggodok dan memandragunakan karsa dan karya seni-budaya terbaik oleh putra-putri terbaik bangsa Indonesia. MERDEKA!
Dikutip Kompas.com Minggu, 11 Sepetember 2022























