• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

UUD 1945 Diamandemen oleh Orang-Orang yang Tidak Mengerti Pancasila sebagai Ilmu Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

fusilat by fusilat
October 15, 2025
in Feature, Sejarah
0
UUD 1945 Diamandemen oleh Orang-Orang yang Tidak Mengerti Pancasila sebagai Ilmu Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Prihandoyo Kuswanto
Ketua Pusat Studi Kajian Rumah Pancasila


Pendahuluan

Setelah mencermati Seminar Konstitusi yang diadakan oleh MPR dalam rangka memperingati Hari Konstitusi, di Ruang Nusantara V, Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis, 21 Agustus 2025, muncul pernyataan dari Saudara Jakob Tobing—sosok yang selama ini dikenal sebagai motor penggerak amandemen UUD 1945.


Sebuah Penghinaan

Pernyataan Jakob Tobing bahwa UUD 1945 dibuat untuk kepentingan Jepang, tanpa mengandung unsur hak asasi manusia (HAM) dan pemilu, merupakan penghinaan terhadap para pendiri bangsa dan negara.
Yang mengecewakan, Ketua MPR dan anggota-anggota MPR—baik dari DPR maupun DPD—tidak memberikan reaksi ataupun protes.

Lebih disayangkan lagi, PDIP sebagai partai yang mengaku menjunjung ajaran Soekarno justru diam. Padahal, jika kita memahami pikiran Soekarno secara utuh, seluruh ajarannya bermuara dan mengkristal dalam UUD 1945. Ironisnya, penghinaan ini justru datang dari mantan Ketua Fraksi PDIP pada saat amandemen dilakukan.

Bisa jadi, Ibu Megawati tidak memahami bahwa amandemen yang ia tandatangani justru berarti membubarkan negara Proklamasi 17 Agustus 1945 yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta.

Amandemen itu mencabut dasar filosofis bangsa — Philosophische Grondslag dan Staatsfundamentalnorm Pancasila — yang merupakan roh bangsa. Jika Megawati memahami hal ini, maka pendirian BPIP pun menjadi tidak berguna, sebab ideologi Pancasila telah diganti oleh mereka yang tidak memahami maknanya.

Hal ini tampak jelas ketika Jakob Tobing menyatakan bahwa UUD 1945 tidak mengandung HAM. Pernyataan tersebut keliru. Pancasila justru sarat dengan nilai-nilai hak asasi manusia, meski bukan dalam pengertian yang diadopsi PBB.

HAM versi Indonesia bersumber dari Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan, dan keseimbangan alam semesta, sehingga nilai-nilainya bersifat Ilahiah. Berbeda dengan HAM versi PBB yang bersumber dari manusia dan materialisme semata.


Perjuangan Suci Kembali kepada UUD 1945

Kembali kepada Konstitusi Proklamasi 1945 bukanlah langkah mundur, melainkan perjuangan suci untuk mengembalikan kedaulatan rakyat dan menyelamatkan Negara Proklamasi yang lahir atas berkat rahmat Allah Yang Maha Esa.

Para pendiri bangsa dengan sadar memilih sistem pemerintahan yang khas Indonesia — sistem MPR — bukan sistem presidensial atau parlementer.


Menjiplak Sistem Luar: Demokrasi Liberal

Amandemen UUD 1945 telah memaksa bangsa ini mengenakan “baju buatan luar negeri” yang tidak sesuai dengan tubuh dan jiwa bangsa Indonesia. Sistem demokrasi liberal yang kita anut sekarang telah menumbuhkan budaya politik yang memecah belah, mengajarkan kebohongan, caci maki, dan permusuhan antar saudara demi kekuasaan.

Nilai-nilai luhur bangsa seperti kesopanan, hormat kepada orang tua, kesetiakawanan sosial, dan gotong royong perlahan terkikis. Kita dipaksa menjadi bangsa yang sekuler dan individualistis, terkotak-kotak oleh warna partai dan kepentingan.


Tersandung Batu yang Sama

Bangsa ini seakan mengulangi kesalahan masa lalu di era 1950-an, ketika liberalisme membawa kesengsaraan bagi rakyat. Apakah kita akan tersandung pada batu yang sama untuk kedua kalinya?

Hanya pemimpin yang memahami amanat penderitaan rakyat yang mampu menyadarkan bangsa ini, membuka “baju kepalsuan” dan kembali pada jati diri sejati Indonesia.


Amandemen UUD 1945: Sebuah Tindakan Anarkis

Amandemen UUD 1945 sebanyak empat kali (1999–2002) telah mengubah sistem pemerintahan Indonesia menjadi presidensial. Padahal, sistem ini tidak pernah dimaksudkan oleh BPUPKI maupun PPKI ketika menetapkan UUD 1945.

Mengubah sistem MPR menjadi sistem presidensial serta menghapus Penjelasan UUD 1945 adalah tindakan yang memutus tali sejarah bangsa—sebuah bentuk anarkisme konstitusional.


Negara Persatuan Diganti Individualisme

Menurut ajaran Spinoza, Adam Müller, Hegel, dan Gramsci tentang teori integralistik, negara seharusnya menjamin kepentingan masyarakat secara keseluruhan, bukan kepentingan individu atau golongan.

Pandangan ini juga sejalan dengan Soepomo yang dalam sidang BPUPKI (31 Mei 1945) menegaskan bahwa negara Indonesia harus berdasar atas “paham integral”, yakni negara yang menyatu dengan seluruh rakyatnya dan mengatasi kepentingan golongan manapun.


Sifat Tata Pemerintahan Integralistik Dihabisi

Dalam konsep Soepomo, pemimpin dan rakyat bersatu jiwa—manunggaling kawula lan gusti—dalam semangat kekeluargaan dan gotong royong. Pemimpin diibaratkan sebagai bapak dalam keluarga yang menjaga keseimbangan masyarakatnya.

Bung Hatta menafsirkan kolektivisme ala Indonesia sebagai semangat tolong-menolong dalam kehidupan desa: kepemilikan bersama atas alat produksi dan kerja bersama demi kepentingan bersama.


Syura dan Musyawarah

Demokrasi asli Indonesia berpijak pada dua prinsip: syura (musyawarah) dan massa protest (hak rakyat untuk menolak ketidakadilan). Negara kekeluargaan yang digagas Hatta—Negara Pengurus—adalah wadah konstitusional untuk mewujudkan demokrasi asli tersebut dalam konteks modern.

Bung Karno, Bung Hatta, dan Soepomo sepakat bahwa Republik Indonesia berdiri atas dasar kekeluargaan, gotong royong, dan kolektivisme—bukan liberalisme individualistis.


Hilangnya Kedaulatan Rakyat

Amandemen ketiga dan keempat UUD 1945 menghapus peran MPR sebagai lembaga tertinggi negara, pemegang kedaulatan rakyat. Presiden kini dipilih langsung oleh rakyat, dan MPR kehilangan kedudukan sebagai locus of power.

Sistem MPR sejatinya mencerminkan semangat kekeluargaan dan gotong royong bangsa Indonesia. Dengan adanya GBHN, presiden bekerja berdasarkan amanat rakyat dan harus bertanggung jawab kepada MPR. Setelah amandemen, sistem ini hancur. Presiden kini bebas menjalankan politiknya sendiri, tanpa kontrol kedaulatan rakyat.

Demokrasi langsung telah menumbuhkan politik perpecahan, bukan persatuan; persaingan, bukan gotong royong.


Pancasila Dicangkok dengan Liberalisme dan Kapitalisme

Mencangkokkan Pancasila dengan demokrasi liberal dan kapitalisme adalah bentuk pengkhianatan terhadap Pancasila. UUD 1945 hasil Proklamasi adalah konstitusi yang lahir dari doa, perenungan, dan perjuangan spiritual para pendiri bangsa—bukan hasil kompromi politik jangka pendek.


Kesimpulan: UUD 1945 Itu Keramat

“Alangkah keramatnya, tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang terhormat, undang-undang dasar bagi suatu bangsa…”
— Bung Karno, Sidang BPUPKI, 1945

UUD 1945 adalah hasil perjuangan panjang, perdebatan besar, bahkan pengorbanan darah dan air mata. Ia lahir dengan izin Allah SWT sebagai fondasi bangsa yang merdeka, berketuhanan, dan berkeadilan.

Mereka yang mengamandemen tanpa memahami ruh Pancasila sejatinya telah membubarkan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945.
Pertanyaannya: apakah kita akan terus membiarkan Indonesia berjalan menuju kehancurannya sendiri?


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ketika Erick Trump Bertemu dengan Prabowo

Next Post

Usai Diperiksa 10 Jam di Kejaksaan, Nadiem Makarim: “Alhamdulillah Berjalan Lancar, Insya Allah Kebenaran Akan Terungkap”

fusilat

fusilat

Related Posts

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik
Feature

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.
Feature

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif
Feature

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Next Post
Zalimnya Nadiem Makarim

Usai Diperiksa 10 Jam di Kejaksaan, Nadiem Makarim: “Alhamdulillah Berjalan Lancar, Insya Allah Kebenaran Akan Terungkap”

Purbaya Menelanjangi Kemewahan Ara

Purbaya Menelanjangi Kemewahan Ara

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...