• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Vietnam, Sang Macan Baru ASEAN: Mengapa Bukan Indonesia?

Ali Syarief by Ali Syarief
April 15, 2025
in Economy, Feature
0
Vietnam, Sang Macan Baru ASEAN: Mengapa Bukan Indonesia?
Share on FacebookShare on Twitter

*FusilatNews* – Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Vietnam di tengah meningkatnya tensi perang tarif dengan Amerika Serikat bukanlah sekadar diplomasi biasa. Ini adalah isyarat strategis. Sebuah pesan tersirat bahwa Vietnam kini menjadi salah satu poros penting dalam percaturan ekonomi Asia Pasifik. Ketika dua kekuatan besar dunia—Amerika dan China—terus mengunci langkah dalam pertarungan dagang dan pengaruh, Vietnam justru tampil sebagai titik tumpu baru yang menarik perhatian.

Lalu, mengapa Vietnam? Dan lebih jauh, apakah Vietnam akan menggantikan Indonesia dan Thailand sebagai macan ekonomi ASEAN?

Strategi Vietnam di Tengah Badai

Vietnam menunjukkan bahwa transformasi ekonomi tidak membutuhkan sumber daya alam melimpah, tetapi visi jangka panjang dan konsistensi kebijakan. Dalam dua dekade terakhir, Vietnam telah menggeser orientasi ekonomi dari berbasis pertanian ke industri dan ekspor manufaktur. Negara ini menjadi surganya perusahaan-perusahaan asing yang ingin merelokasi pabrik mereka dari China akibat naiknya tarif oleh AS. Vietnam pun dengan cerdas memosisikan diri sebagai alternatif “China+1”, yakni basis produksi baru yang efisien dan kompetitif.

Daya tarik Vietnam makin menguat karena stabilitas politiknya, upah tenaga kerja yang rendah, peningkatan kualitas pendidikan vokasi, serta infrastruktur yang terus berkembang. Tak heran, Apple, Samsung, Foxconn, hingga Intel mengalihkan sebagian produksi mereka ke negara ini. Vietnam juga aktif menandatangani berbagai perjanjian perdagangan bebas—termasuk CPTPP dan EVFTA—yang membuka akses pasar lebih luas dibanding Indonesia.

Vietnam, Macan Ekonomi ASEAN Berikutnya?

Faktor-faktor berikut mendorong Vietnam berada di jalur yang kuat menuju status “macan ekonomi ASEAN”:

  1. Politik yang Stabil dan Terprediksi
    Pemerintahan Partai Komunis Vietnam bersifat sentralistik tapi stabil. Meski bukan demokrasi liberal, kepastian hukum dan arah kebijakan yang konsisten justru membuat investor merasa aman. Vietnam cenderung menghindari gonjang-ganjing politik yang mengganggu iklim investasi.
  2. Insentif Pro-Bisnis
    Pemerintah Vietnam memberikan berbagai insentif pajak dan kemudahan izin usaha untuk menarik investasi asing. Ini menciptakan iklim bisnis yang lebih dinamis dibandingkan regulasi yang berbelit di Indonesia.
  3. Pendidikan dan Demografi Produktif
    Fokus pada pendidikan vokasional serta populasi muda yang produktif membuat Vietnam mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri teknologi tinggi. Mereka tak hanya menjadi buruh, tetapi juga siap bertransformasi menjadi tenaga ahli.
  4. Arah Ekspor yang Cerdas
    Dengan mengandalkan ekspor barang-barang elektronik, mesin, dan tekstil ke Amerika dan Eropa, Vietnam tidak bergantung pada komoditas primer seperti Indonesia. Ekspor bernilai tambah tinggi inilah yang menjadi mesin pertumbuhan.

Mengapa Bukan Indonesia?

Ironisnya, Indonesia justru seperti kehilangan arah. Padahal, secara sumber daya, demografi, dan posisi geografis, Indonesia memiliki semua prasyarat untuk menjadi pemimpin ekonomi regional. Namun ada beberapa alasan mengapa Indonesia belum—atau malah mungkin tak akan—menjadi “macan” dalam waktu dekat:

  1. Ketidakpastian Hukum dan Regulasi
    Perubahan aturan yang sering dan tumpang tindih, serta praktik birokrasi yang lambat dan berbau korupsi, membuat investor enggan masuk secara agresif. Proyek-proyek besar lebih banyak berbasis koneksi politik daripada analisis kelayakan.
  2. Politik Populis dan Nepotisme
    Pembangunan tidak lagi dipandu oleh strategi jangka panjang, tetapi oleh pertimbangan elektoral jangka pendek dan pelestarian dinasti politik. Ibu Kota Nusantara (IKN) adalah contoh proyek raksasa yang lebih simbolis ketimbang fungsional, sementara sektor-sektor vital seperti pendidikan, riset, dan manufaktur tertinggal.
  3. Ketergantungan pada Komoditas Mentah
    Ketika Vietnam sibuk mengekspor chip dan produk elektronik, Indonesia masih bergantung pada batubara, kelapa sawit, dan nikel mentah. Ketergantungan ini membuat ekonomi Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global.
  4. Minimnya Reformasi Struktural
    Revolusi industri 4.0 hanya menjadi jargon politik, tanpa fondasi yang jelas. Kurikulum pendidikan, riset teknologi, hingga struktur insentif industri masih jauh dari kata siap.

Penutup: Ketika Indonesia Memilih Tertinggal

Kunjungan Xi Jinping ke Vietnam adalah sinyal tegas: dunia sedang bergerak, dan Vietnam melaju kencang. Sementara itu, Indonesia terus terjebak dalam fatamorgana kebesaran masa lalu, sibuk merayakan proyek-proyek prestisius yang minim manfaat langsung bagi rakyat, dan mengabaikan kebutuhan dasar pembangunan manusia dan industri.

Vietnam tak perlu gembar-gembor. Mereka bekerja dalam diam, membangun fondasi ekonomi masa depan. Sementara Indonesia sibuk memoles citra, memupuk loyalitas politik, dan membangun kota di tengah hutan untuk ambisi personal seorang presiden.

Pertanyaan “mengapa bukan Indonesia?” sejatinya adalah gugatan terhadap arah bangsa. Indonesia punya semua modal untuk memimpin: sumber daya alam, jumlah penduduk, posisi geografis strategis. Tapi kita memilih stagnasi, memilih nepotisme, memilih simbol daripada substansi.

Vietnam berlari. Indonesia berpose.

Dan dunia tidak menunggu.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Menkeu Sri Mulyani Jelaskan Besaran Tukin Dosen Secara Rinci

Next Post

Kiamat Indonesia: Ketika Hukum dan Intelektual Bertekuk Lutut pada Penguasa

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan
Feature

Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

May 1, 2026
Economy

Memotret Insight, Meneropong Foresight: Berbasis Possibility vs Probability sebagai Produk Internal Auditor

May 1, 2026
Menghadang “Jalur Senyap” Remiliterisasi: Membedah Bahaya RPP Tugas TNI
Birokrasi

Menghadang “Jalur Senyap” Remiliterisasi: Membedah Bahaya RPP Tugas TNI

May 1, 2026
Next Post
Kiamat Indonesia: Ketika Hukum dan Intelektual Bertekuk Lutut pada Penguasa

Kiamat Indonesia: Ketika Hukum dan Intelektual Bertekuk Lutut pada Penguasa

Rencana Gubernur Jabar Cabut Sertifikat Tanah dan  Bangunan di Bantaran Sungai Bakal Terkendala Mekanisme  dan Aturan Berlaku.

Gubernur Jabar Desak IDI Cabut Izin Praktik Dokter Kandungan Pelaku Pelecehan di Garut

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal
Komunitas

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

by Karyudi Sutajah Putra
April 30, 2026
0

FusilatNews - Indonesia Police Watch (IPW) mengapresiasi Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Irjen Rudi Darmoko yang tidak segan-segan untuk menangkap...

Read more
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

May 1, 2026

Memotret Insight, Meneropong Foresight: Berbasis Possibility vs Probability sebagai Produk Internal Auditor

May 1, 2026
Menghadang “Jalur Senyap” Remiliterisasi: Membedah Bahaya RPP Tugas TNI

Menghadang “Jalur Senyap” Remiliterisasi: Membedah Bahaya RPP Tugas TNI

May 1, 2026

Menyoal Paradoks Regulasi di Sektor Multinasional

May 1, 2026

Mengawal Asta Cita di KIT Batang: Transformasi Industri Berbasis Kedaulatan dan Pertahanan

May 1, 2026

Manajemen Risiko di Masa Perang (Fondasi Survival Economy: Pangan, Air, dan Energi)

May 1, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

May 1, 2026

Memotret Insight, Meneropong Foresight: Berbasis Possibility vs Probability sebagai Produk Internal Auditor

May 1, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist