Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menyatakan virus Hendra (HeV) berpotensi menjadi pandemi di masa mendatang. Virus Hendra menjadi sorotan sebab Jenis virus ini cukup mengkhawatirkan karena terbilang mematikan. Virus ini muncul pada 1990-an dari flying fox atau kelelawar buah Australia yang menjadi pembawa virus tersebut.
“Pada manusia pun 70 persen kalau terpapar ya mematikan, 7 dari 10 orang manusia yang terkena virus Hendra ini meninggal, Kita tahu bahwa Henipavirus yang terdiri dari Nipahvirus (NiV) maupun Hendra virus adalah dua virus yang berpotensi menjadi pandemi,” ungkap Dicky. Dikutip detik.com, Senin 23 mei 2022.
Dicky menuturkan, flying fox merupakan hewan yang memiliki peranan penting dalam ekosistem karena menyebarkan biji-bijian. Namun hal itu tidak menyebabkan penyakit, justru kotorannya yang jatuh ke rumput atau tanaman yang menyebabkan infeksi HeV. “Kalau dikonsumsi oleh hewan lain seperti kuda, dia terpapar.
Ketika dia terpapar, kemudian kontak dengan hewan lain, sesama kuda atau pun misalnya mamalia lain seperti anjing atau manusia, ya itu yang dalam kontak dekat bisa terpapar,” kata dia. Menurut Dicky, Indonesia mesti mewaspadai adanya virus ini dan apakah fly fox juga akan bermigrasi ke wilayah Indonesia khususnya di daerah timur. “Itu yang menjadi pertanyaan dan saya belum mendapatkan informasi itu,” kata dia. Dicky juga menganjurkan agar Indonesia harus mulai meningkatan surveilans terkait HeV. Ia beralasan Indonesia bertetangga dengan Australia dan Asia Tenggara yang mempunyai risiko-risiko penyakit seperti itu.
Meski demikian, Dicky mengatakan sejauh ini HeV bukan virus yang mudah menular dan kasusnya masih jarang ditemukan. Salah satu penyebabnya karena angka fatalitas atau kematian yang tinggi. “Jadi belum sempat menularkan, hewannya sudah mati,” ujarnya.

























