Fusilatnews – Prabowo Subianto pernah menyampaikan satu pernyataan yang terdengar dewasa dan menenteramkan nalar demokrasi: kritik itu penting—ibarat vitamin dalam kehidupan bernegara. Sebuah kalimat yang, jika dihayati sungguh-sungguh, menempatkan kekuasaan dalam posisi rendah hati: siap dikoreksi, siap diawasi, dan siap ditegur.
Namun demokrasi tidak hidup dari metafora, melainkan dari konsistensi sikap. Dan di sinilah kontradiksi itu telanjang di hadapan publik.
Tak lama berselang, Letkol Teddy Indra Wijaya—ajudan Presiden yang juga figur dekat pusat kekuasaan—melontarkan peringatan kepada para aktivis media sosial agar tidak mengkritik pemerintah. Kritik, yang sebelumnya dipuji sebagai “vitamin”, mendadak diperlakukan layaknya racun yang harus dihindari.
Pertanyaannya sederhana namun mendasar:
apakah vitamin demokrasi itu hanya boleh dikonsumsi oleh elite, sementara rakyat diminta berpantang?
Kontradiksi ini bukan sekadar perbedaan gaya komunikasi antara presiden dan ajudannya. Ia mencerminkan watak kekuasaan yang kerap kita jumpai: demokratis di level pidato, represif di level praktik. Kritik dirayakan di forum resmi, tetapi dicurigai ketika datang dari warga biasa—terutama dari ruang media sosial, satu-satunya arena yang relatif masih terbuka bagi suara publik.
Ketika seorang ajudan presiden merasa perlu mengeluarkan peringatan kepada pengkritik, pesan yang sampai ke publik bukanlah ajakan dialog, melainkan sinyal intimidasi. Bukan klarifikasi kebijakan, melainkan penegasan hierarki: yang berkuasa berbicara, yang lain sebaiknya diam.
Jika kritik benar-benar vitamin, maka respons terhadapnya seharusnya adalah perbaikan kebijakan, bukan peringatan moral. Demokrasi yang sehat tidak alergi terhadap suara keras, sarkasme, bahkan kemarahan rakyat. Justru kekuasaan yang mulai takut pada kritik adalah kekuasaan yang sedang kehilangan kepercayaan diri—dan perlahan menjauh dari rakyatnya sendiri.
Pada titik ini, publik berhak curiga:
apakah pujian terhadap kritik hanyalah kosmetik politik?
Sejarah selalu memberi pelajaran yang sama. Demokrasi tidak runtuh karena terlalu banyak kritik, tetapi karena kekuasaan merasa terlalu sakral untuk dikoreksi. Vitamin demokrasi itu masih dibutuhkan. Tetapi ia hanya bermakna jika benar-benar dikonsumsi, bukan sekadar dipamerkan di etalase pidato.


























