FusilatNews Islam, pada dirinya sendiri, tak dapat dikenali wajahnya. Ia seakan kabut yang memutih di ufuk fajar: samar namun mengandung cahaya. Hanya ketika ia dirangkai dengan kalimat lain, barulah terlihat bentuknya. Barulah dapat dipahami ruh dan arah langkahnya. Islam Saudi Arabia, Islam Iran, Islam Malaysia, Islam Indonesia, Islam Brunei—semuanya menyebut satu nama yang sama, namun memperlihatkan wajah yang berlainan.
Maka kita pun bertanya dalam hening: apakah Islam itu satu, ataukah ia banyak?
Islam itu satu. Satu dari sisi tauhid. Satu dalam kalimat syahadah. Satu dalam kitab yang diturunkan, dan satu dalam Nabi yang diutus. Namun ia menjadi banyak dalam tafsir. Ia menjadi beragam dalam pengejawantahan. Islam yang satu turun ke bumi manusia, dan bumi itu beragam rupa: tanah Arab yang kering, bumi Persia yang filosofis, tanah Melayu yang lemah lembut, hingga Nusantara yang penuh warna dan harmoni. Maka Islam pun mengambil warna tanah tempat ia dipijakkan.
Perbedaan wajah itu bukan perpecahan, melainkan bentuk dari keluwesan. Bukan cela, melainkan hikmah. Di Saudi Arabia, Islam hadir dalam corak yang ketat dan kaku. Di Iran, Islam berpadu dengan syi’isme yang filosofis dan kadang mistik. Di Malaysia dan Brunei, Islam tampil dalam format negara, dengan semacam sinergi antara kekuasaan dan kesucian. Di Indonesia, Islam menyatu dengan budaya, berwujud dalam gamelan dan syair, tahlilan dan silaturrahim.
Namun wajah-wajah itu tetaplah cermin dari satu ruh yang sama.
Cobalah kita merenung dalam perkara kecil: bersiwak. Dalam sunnah Nabi, siwak adalah bagian dari fitrah dan kebersihan. Dalam pemahaman yang ortodoks, bersiwak adalah menggunakan dahan pohon arak, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﷺ. Namun di zaman modern, bersiwak bisa berarti menyikat gigi dengan sikat dan odol. Esensinya tetap: menjaga kebersihan mulut. Tetapi bentuknya bisa berubah. Maka kita paham bahwa yang hakiki adalah maqasid, tujuan syariat, bukan semata-mata bentuk lahirnya.
Islam yang ortodoks menjaga bentuk, Islam yang modern menjaga esensi. Keduanya tidak harus bertentangan, selama keduanya tetap dalam rambu wahyu.
Jangan cepat-cepat menghakimi saudaramu yang berbeda dalam cara. Sebab bisa jadi mereka berjalan pada jalan yang sama, hanya melalui lorong yang berlainan. Islam adalah samudera luas. Siapa yang mengambil setetes darinya, tidak berhak mengklaim bahwa ia telah menggenggam semuanya.
Di sinilah letak rahmat Islam. Ia datang bukan untuk membaku-bekukan manusia, tapi untuk membimbing mereka dengan hikmah. Islam itu cahaya, dan cahaya akan menyinari segala rupa—tanpa membakarnya.
Maka, jangan buru-buru mengenali Islam dari wajahnya. Lihatlah isi hatinya. Timbanglah dengan ilmu, ukur dengan adab. Sebab Islam yang sejati akan menampakkan wajahnya bukan dalam klaim, tapi dalam akhlak, dalam kasih sayang, dalam rahmat bagi seluruh alam.





















