Oleh : Prihandoyo Kuswanto | Pusat Studi Kajian Rumah Pancasila .
Sejak amandemen UUD 1945 dan hari ini Negara Bangsa Indonesia seperti buih-buih dilautan yang diombang-ambingkan keadaan dunia ini , tidak lagi punya kekuatan untuk bisa tegak apalagi mandiri.
Amandemen UUD 1945 ternyata bukan hanya merubah pasal-demi pasal , tetapi justru memporakporandakan bangunan ke Indonesia an , menghacurkan jati diri bangsa yang telah dibangun tahap demi tahap , menghancurkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara . Mengapa semua itu hancur sebab amandemen tidak hanya merontokan lembaga bangsa yang disesbut MPR , tetapi sekaligus yang dirontokan adalah aliran pemikiran tentang ke Indonesia
an , menghilangkan sejarah , menghilangkan Bangsa Indonesia asli , dan menganti Pancasila dengan Ultra Liberal .
Ketika Jokowi Jualan Trisakti saya tertawa sebab logika otak saya tidak bisa nyambung bagaimana mungkin Trisakti dengan dasar negara Ultra Liberal seperti sekarang ini , tentulah itu hanya sebuah bualan saja , bagi yang ngak ngerti menyamakanya dengan Soekarno . TRISAKTI itu tidak mungkin dijalankan diatas sistem Liberalisme dan Kapitalisme seperti sekarang ini , sebab TRISAKTI itu juga bagian dari antitesis Liberalisme , Kapitalisme .Iperalisme ,
Harus diingat, bahwa Trisakti itu harus dipenuhi ketigatiganya, tidak bisa dipretel-preteli. Tidak ada kedaulatan dalam politik dan kepribadian dalam kebudayaan, bila tidak berdikari dalam ekonomi, dan sebaliknya! Seluruh minat kita, seluruh jerih-payah kita harus kita abdikan kepada pelaksanaan seluruh Trisakti, yang benar-benar sakti itu!
Ya, Berdaulat dalam politik! Apa yang lebih luhur daripada ini, Saudara-saudara? Lebih setengah abad lamanya bangsa Indonesia berjoang, membanting-tulang dan mencucurkan peluh, untuk kedaulatan politik itu. Ketika kita merdeka sekarang kedaulatan politik itu sudah di tangan kita. Kita tidak bisa didikte oleh siapapun lagi, kita tidak menggantungkan diri kepada siapa-siapa lagi, kita tidak mengemis-ngemis! Kedaulatan politik ini harus kita tunjang bersama-sama, harus kita tegakkan beramai-ramai. Nation-building dan character-building harus diteruskan sehebat-hebatnya, demi memperkuat kedaulatan poIitik itu. Kerukunan nasional sekarang ini – kerukunan antara berbagai agama dan berbagai sukubangsa, termasuk suku-suku keturunan asing – kerukunan nasional yang bebas samasekali dari diskriminasi atau rasialisme macam apapun, harus kita bina dengan kecintaan seperti kita membina kesehatan tubuh kita sendiri.
Tetapi apa yang terjadi ketika UUD 1945 diamandemen semua kedaulatan itu sirna politik hanyapermainan untuk kepentingan oligarkhy para elit politik tidak lebih sebagai boneka yang hanya menurut apa maunya oligarkhy sebab sistem dibuat ketergantungn partai politik terhadap para oligarkhy makasemua diukur dengan uangdan mahal dan itu hanya oligarkhy yang bisa sebagai rentenir .
DPR lumpuh tidak lagi bisa mengontrol Eksekutif sebab Ekseutif , Legeslatif ,Yudikatif semua ada tangan partai politik .rakyat tidak berdaulat sebab kedaulatan sudah dirampok oleh partai politik.
Kita tidak lagi bisa bersatu , tidak bisa lagi rukun sebab dengan demokrsi liberal yang dijalankan adalah pertarungan banyak –banyakan suara , kalah menang kuat- kuatan ,hujat menghujat dianggap strategi kekuasaan ,lahirlah buzer-buzer yang dibiyayai untuk menyerang siapa saja dan tentu saja umat Islam bagian dari sasaram Islamophobia , istilah istilah PKI membuka luka lama dengan sebutan Kadal Gurun yang perna untuk menyebut Ulama ,Ustad dan kelompok Islam politik pecah bela ini memang sengaja dilakukan agar rakyat tidak lagi bersatu ,guyub dab rukun .
Berdikari dalam ekonomi! Apa yang lebih kokoh daripada ini, Saudara-saudara? Seperti kukatakan di depan M.P.R.S. tempohari, kita harus bersandar pada dana dan tenaga yang memang sudah di tangan kita dan menggunakannya semakimal-makimalnya. Pepatah lama “ayam mati dalam lumbung” harus kita akhiri, sekali dan buat selama-lamanya. Kita memiliki segala syarat yang diperlukan untuk memecahkan masalah sandang-pangan kita.
Barangsiapa merintangi pemecahan masalah ini, dia harus dihadapkan ke depan mahkamah Rakyat dan sejarah. Alam kita kaya-raya, Rakyat kita rajin, tetapi selama ini hasil keringatnya dimakan oleh tuan-tuan-tanah, tengkulak-tengkulak, lintah-lintah darat, tukang-tukang ijon dan setan-setan desa lainnya. Sudah cukup usahaku memberi kesempatan kepada kaum yang ragu-ragu dalam revolusi, untuk merobah diri; aku sudah sangat sabar, sudah kutunjukkan kesabaran seorang bapak, tapi kesabaran ada batasnya, apalagi kesabaran Rakyat! Sudah cukup usahaku memberi kesempatan bagi pelaksanaan landreform; batas waktunya malahan sudah kutunda, dan kalau perlu aku bersedia memperpanjangnya dengan 1 tahun lagi, aku sudah sangat sabar, sudah kutunjukkan kesabaran bapak, tapi aku ulangi lagi, kesabaranku ada batasnya, apalagi kesabaran Rakyat! Sudah cukup usahaku memberi kesempatan Dewan-dewan Perusahaan supaya berjalan, tapi di banyak tempat Dewan-dewan itu masih macet saja; aku sudah sangat sabar, sudah kutunjukkan kesabaran seorang bapak, tapi kesaharanku ada batasnya, apalagi kesabuan Rakyat! Hanya dengan mengatasi kemacetan-kemacetan inilah, kita bisa mentrapkan azas Berdikari dalam ekonomi.
Apa yang terjadi sekarang korupsi ugal –ugalan dan ekonomi hanya dikuasai segelintir orang 0,10 % menguasai50% kekayaan ibu pertiwi dan O,10 % aseng dan asing menguasai71 % lahan di Indonesia begitu timpang nya keadaan ini sudah melanggar pasal 33 UUD 1945
Indonesia juga impor beras seberat 407,74 ribu ton dengan nilai US$183,8 juta. Impor beras terbesar berasal dari India mencapai 407,74 ribu ton (52,8%) dari total impor.
Selanjutnya, impor kacang tanah seberat 287,09 ribu ton senilai US$357,82 ribu, impor kacang hijau sebesar 114,44 ribu ton senilai US$132,86 juta, impor jagung dengan volume mencapai 8,99 ribu ton senilai US$6 ribu, dan ubi jalar seberat 38 ribu kg dengan nilai US$93,56 ribu.
Seakan tidak ada strategi untuk swasembada pangan di usia 77 tahun pangan saja tidak berdikari sungguh menggelisahkan
Juga ada mentega dengan nilai impor mencapai US$ 50,31 juta dengan volume impor sebanyak 8.812,99 ton. Kelapa dengan nilai impor US$ 2,71 juta dengan volume impornya sebesar 1.609,44 ton.
Serta kelapa sawit yang diimpor dari Papua Nugini dan Malaysia dengan nilai impor mencapai US$ 49.858 dan volumenya sebanyak 319 kg.
Berikutnya ada kentang yang nilai impornya sebesar US$ 10,97 juta dengan volume sebanyak 24.064,9 ton dan ubi kayu yang nilai impornya US$ 86 dengan volume sebanyak 5 kg.
Terakhir, yang juga diimpor oleh Indonesia adalah komoditas rempah-rempah, yakni lada, cengkeh, kakao, dan tembakau.
Dimana nilai impor lada sepanjang Januari-Juni 2021 mencapai US$ 895.541 dengan volume 183,55 ton. Cengkeh dengan nilai impor mencapai US$ 15,28 juta dengan volume 2.818 ton.
Kemudian ada pula kakao dengan nilai impor mencapai US$ 286,33 juta dengan volume impor sebanyak 110.696,84 ton. Juga tembakau dengan nilai impor mencapai US$ 274,27 juta dengan volume impor 51.579,71 ton.
77 tahun merdeka kita semakin menjadi pengimpor pangan semua ini adalah bisnis politik ijin ijin import yang tidak ada lagi usaha untuk memberdayakan rakyat nya untuk memperbesar produksi dengna teknologi pertanian .
Sungguh terbalik Indonesia yang duluh mengundang para penjajah karena hasil rempah nya justru sekarang Inport dari asing ,disaat petani panen raya justru import beras .sesungguh nya kita tidak lagi berdaya apalagi berdaulat dan mandiri dibidang ekonomi .
Apa seperti ini akan terus kita pertahankan ? butuh kesadaran bersama untuk kembali pada kedaulatan rakyat dan itu tentu tidak bias diambil tetapi kedaulatan rakyat itu harus direbut !
Berkepribadian dalam kebudayaan! Apa yang lebih indah daripada ini Saudara-saudara? Bukan saja bumi dan air dan udara kita kaya-raya, juga kebudayaan kita kaya-raya. Kesusastraan kita, seni-rupa kita, seni-tari kita, musik kita, semuanya kaya-raya. Juga untuk membangun kebudayaan baru Indonesia, kita memiliki segala syarat yang diperlukan. Kebudayaan baru itu harus berkepribadian nasional yang kuat dan harus tegas-tegas mengabdi kepada Rakyat. Dengan menapis yang lama, kita harus menciptakan yang baru.
Kebudayaan adalah karya cipta yang telah begitu banyak di contohkan oleh nenek moyang kita di Nusantara ini .Contoh contoh Arsitektur Nusantara yang begitu hebat bisa kita telusuri Boro Budur , Candi Prambanan , dan yang lain nya adalah karya Arsitektur yang mendunia .Sikap bangsa ini dalam menerima kebudayaan asing harus revolutif dan kritis sebab muatan muatan budaya yang masuk kenegeri kita telah banyak mengkikis karakter kebangsaan kita .
Dengan diadobsi nya demokrasi Liberal dan Kapitalisme dalam sistem berbangsa dan bernegara mengantikan Pancasila dan UUD 1945 bangsa ini telah menghancurkan nilai- nilai dasar yang susah paya dibangung oleh The Founding Fathers amandemen UUD 1945 mengubur jatidiri bangsa dan kita menjadi bangsa yang super liberal .
Pertanyaan besar yang harus kita jawab apakah negara seperti ini yang kita harapkan ?
Jadi mana mungkin TRISAKTI nya Jokowi dijalankan , secara ekonomi justru bertentangan dengan Berdikari Didalam Ekonomi sebab kita lihat saja utang negara sudah tidak dikontrol lagi ,dan tidak mampu menjalankan ekonomi dengan apa yang sudah ditangan sendiri , otak nya tidak sama dengan Otang yang ada pada Soekarno , sebab otak pemimpin sekarang hanya ada utang-utang dan utang , bahkan yang ngak dibutuhkan rakyat nya di utang seperti kereta api cepat
.
Begitu juga dengan Pangan dan Kebutuhan yang bisa diproduksi sendiri harus nya menolak Import tetapi apa yang terjadi sebagian besar kebutuhan kita adalah import . Industri strategis yang seharus nya menjadi kedaulatan bangsa justru dijual ya Telekomunikasi , pabrik Baja , Energi , Migas semua dikuasai asing , dan sejak amandemen UUD 1945 justru melahirkan UU yang didikte Oleh IMF , untuk Meliberalisasi semua kekayaan alam kita , dan kita manut itulah tujuan asing ikut mengamandemen UUD 1945 dan menghilangkan Pancasila , sebab selama Pancasila dan UUD 1945 tegak maka Indonesia seperti batu karang yang teguh tidak mudah di goyang apa lagi diambil alih , tetapi karena banyak anak bangsa yang berkhianat maka amandemen UUD 1945 telah merontokan segala kehidupan berbangsa kita , bangsa ini hanya didesain sebagai Kuli , kita bisa melihat Demo Supir Taxi konvensional dan Taxi online , mereka saling menghancurkan sesama anak bangsa padahal mereka tidak sadar yang punya modal adalah kapitalis , dan supir taxi tak lebih hanya sebagai kuli . dan negara tidak hadir . apalagi mau ngomong Trisakti
Begitu juga dengan Persekolahan kita yang dinakodai bos Gojek , bagaimana pendidikan harus nya bias menciptakan pemikir membangun peradaban justru Universitas didesain hanya untuk memenuhi kebutuhan industry , dan SDM Indonesia hanya disiapkan untuk memenuhi kapitalis untuk menjadi jongos di negeri nya sendiri .
Tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan Indonesia yang masih 23 tahun menuju Indonesia Emas kecuali bangsa ini bertekat kembali pada Pancasila dan UUD 1945























