Jakarta- Fusilatnews.— Pada tanggal 21 Desember 2023 Sepasang individu orangutan sumatera yang diberi nama Nobita (7 tahun, jantan) dan Shisuka (7 tahun, betina), serta seekor individu orangutan yang diberi nama Briant (4 tahun, jantan) dipulangkan kembali (repatriasi) ke Indonesia dari Thailand .
“Repatriasi 3 orangutan sitaan dari Thailand ini merupakan keberhasilan dalam penyelamatan satwa liar dilindungi dan komitmen bersama antara Pemerintah Indonesia dan Thailand dalam upaya memerangi perdagangan ilegal satwa liar,”
Proses repatriasi ini bertepatan dengan peringatan 73 tahun hubungan bilateral Indonesia dan Thailand, sekaligus menunjukkan kerjasama yang baik antara kedua negara, serta memberikan kontribusi dalam potential deliverables pada Joint Commission Meeting (JCM) Indonesia – Thailand mendatang.
Repatriasi orangutan merupakan wujud kolaborasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertanian, PT Garuda Indonesia (Persero), serta mitra kerja lainnya.
Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengulas capaiannya sepanjang 2023 ini. Selama setahun, ada puluhan ribu ekor satwa kunci yang lahir. Satwa kunci merupakan spesies yang berperan utama dalam rantai ekosistem.
Hal ini dipaparkan Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar dalam acara bertajuk ‘Bukti Bukan Sekedar Janji dari Langkah Korektif Menuju Peningkatan Produktivitas Tapak Hutan dan Lingkungan Hidup’ digelar di Aditorium Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat, Kamis (28/12/2023).
“Perbaikan pada tingkat tapak untuk lingkungan hidup dan kehutanan juga bisa kita lihat dengan contoh di lapangan yaitu kondisi wildlife yang menjadi salah satu indikator kunci perbaikan kondisi kawasan hutan. Kelahiran sebanyak 64.339 ekor satwa kunci seperti badak Jawa, badak Sumatera, gajah Sumatera, orangutan Kalimantan dan elang Jawa,” kata Siti Nurbaya.
Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar. Foto: dok. KLHK
Dia juga menceritakan perihak perbaikan lingkungan hidup di wilayah hutan yang terbakar pada 1982-1983 dan 1997-1998. Hutan tersebut pulih pada 2021-2022. Kini, hutan itu menjadi rumah baru bagi orangutan.
“Orangutan yang mulai singgah dan memperluas teritorinya. Kondisi ini mencerminkan bahwa penyusutan hutan tak lagi hanya bisa bicara soal angka, namun justru mendapatkan makna bahwa hutan terus tumbuh dan berkembang mengikuti dinamika proses suksesi alam ke arah semakin baik,” kata Siti.
Kondisi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tahun 2023 sempat dikhawatirkan bakal lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya. Tapi ternyata, kondisi dampak El Nino tahun ini tidak seburuk tahun sebelumnya. El Nino tahun 2023 dinyatakan Siti dapat diatasi dengan baik.
“Tercatat kondisi Karhutla 2023 dengan jumlah hotspot sebesar 110.665 dibandingkan tahun 2019 dengan 29.341 serta 2015 dengan 70.971,” kata Siti.
Sampai data Oktober 2023, Areal hutan yang terbakar ada 994.313 hektare pada 2023. Angka itu lebih mendingan ketimbang tahun 2019 yang areal hutan terbakarnya sampai 1.649.258 serta tahun 2015 seluas 2.611.411 hektare. Namun demikian, tahun 2023 belum berakhir saat pendataan dihimpun sampai Oktober kemarin.
“Kondisi sampai Desember diperkirakan naik hingga 1,1 juta hektare areal terbakar, tetapi dengan catatan bahwa luas 200.000 hektare merupakan savannah,” kata Siti.
























