RESET GLOBAL: KENISCAYAAN DARI SISTEM YANG RUSAK
Oleh: Malika Dwi Ana
Sistem ekonomi global saat ini, berbasis utang dan keserakahan, memang dirancang untuk kolaps secara periodik—bukan karena skenario jahat satu dalang, melainkan karena kontradiksi internal kapitalisme. Utang global US$315 triliun (330% PDB dunia pada 2024) adalah bom waktu: korporasi, pemerintah, dan rumah tangga terjerat dalam pertumbuhan fiktif yang didorong spekulasi, bukan produktivitas. Krisis 1998 (Asia), 2008 (subprime mortgage), dan kini tekanan 2025 (inflasi 5.9% global, suku bunga AS 5.25-5.5%) menunjukkan pola ini: gelembung pecah, rakyat menderita, elit selamat. Ketidakseimbangan makin dalam: hanya 1% orang terkaya dunia kuasai 54% kekayaan global (2024), sementara 3 miliar orang hidup di bawah US$6.85/hari. Ini bukan dunia yang sustain—reset menjadi keniscayaan karena sistem ini tak bisa bertahan tanpa penyesuaian besar.
Perang dagang memperparah: AS, dengan hegemoni dolar (58% cadangan devisa global, turun dari 71% di 2000), tekan China dan Rusia melalui tarif (50% pada chip China) dan sanksi (Rusia kehilangan US$300 miliar aset di Barat sejak 2022). China balas dengan larang ekspor rare earth (80% pasok dunia), Rusia dorong dedolarisasi via BRICS (20% transaksi di yuan pada 2024). Ini bukan sekadar soal ekonomi—tapi ini perang kekuasaan yang menciptakan guncangan: inflasi energi (7% di Eropa), rantai pasok kacau, dan emerging markets seperti Indonesia tertekan utang (43% PDB pada 2025). Ketidakseimbangan ini—antara hegemon AS dan penantang China-Rusia—mendorong dunia ke titik puncak, di mana reset (restrukturisasi ekonomi, politik, atau sosial) menjadi tak terelakkan.
Dunia ini bukanlah hitam putih, tapi lebih ke abu-abu sehingga tak ada skenario tunggal. Politisi, korporasi, dan spekulan seperti Soros atau Rockefeller bisa jadi bukanlah dalang tunggal, tapi penumpang yang memanfaatkan kekacauan. Masih ada dalang di atas dalang, ada desain di atas desain. Soros mendapatkan untung US$1 miliar dari Brexit, tapi dia tak menciptakan krisis—ia hanya mengeksploitasi. Begitu pula Rockefeller, yang mendorong narasi “berkelanjutan” via inisiatif seperti “Reset the Table” (2020), tapi mereka sesungguhnya cuma aktor pragmatis dalam sistem yang sudah rusak. Yang bikin rancu adalah politik praktis mengaburkan akar masalah. Media sosial (14 juta tweet #IndonesiaGelap dalam 24 jam) dan narasi “keadilan” sengaja diamplifikasi untuk memicu kemarahan rakyat, tapi tidak menyelesaikan ketimpangan struktural.
Indonesia: “Babat Alas” di Tengah Kekacauan Global
Di Indonesia, “Agustus Kelabu” 2025 adalah cerminan lokal dari krisis global ini. Pemicunya simpel tapi eksplosif: subsidi DPR Rp50 juta/bulan di tengah inflasi 2.31%, pengangguran 5.32% (8 juta orang), dan kemiskinan 9.36% (25 juta orang). Kematian Affan Kurniawan oleh polisi pada 28 Agustus menjadi percikan: kerusuhan di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Bali bakar gedung polisi, rugikan Rp55 miliar (US$3.3 juta), dengan 10 tewas, 469 terluka, dan 3.000 ditangkap. Tuntutan mundur Prabowo dan reshuffle kabinet (Sri Mulyani diganti 8 September) tak selesaikan akar: ketimpangan dari gelembung kapitalisme (utang korporasi Indonesia US$150 miliar) dan tekanan perang dagang (ekspor nikel turun 12% akibat tarif AS-China).
Kalimat “Babat Alas” pas untuk menggambarkan kebutuhan Indonesia saat ini; yakni bersihkan sistem yang korup dan timpang, dan mulai dari nol. Tapi wayah e—waktunya ini penuh risiko. Rupiah stabil (lemah 0.9% ke Rp16.495/USD, 29 Agustus) karena intervensi BI dan cadangan devisa US$150 miliar, tapi ini cuma kamuflase: sentimen investor rusak, yield obligasi 10-tahun naik ke 6.335%, dan kerusuhan bisa berlanjut hingga September. Stabilisasi ini bukti krisis terkendali, namun tak menyelesaikan ketidakseimbangan. Indonesia terjebak dalam kanal global. Apa itu? Adalah tekanan IMF (utang eksternal Rp6.600 triliun) dan perang dagang AS-China yang membuat ekspor terhambat, sementara rakyat bagaimanapun menjadi korban.
Dunia Abu-Abu: Tumpang Tindih dan Rancu
Tak ada skenario tunggal—krisis 2025 adalah tumpukan gelembung kapitalisme (utang, spekulasi), perang dagang (AS vs China-Rusia), dan ketegangan lokal (korupsi, ketimpangan). Di Nepal, protes Gen Z (51-72 tewas, parlemen dibakar) lahir dari inflasi 4.6% dan pengangguran 40%, tapi juga tekanan IMF (utang US$400 juta). Prancis (“Block Everything”, 10 September) dan Australia (“March for Australia”, 31 Agustus) dipicu inflasi energi dan penurunan ekspor akibat perang dagang. Filipina dan Ekuador: Korupsi dan utang (China, IMF) jadi bahan bakar. Penularan via media sosial (TikTok, Discord) menciptakan efek domino: lalu muncul hastag #IndonesiaGelap yang menginspirasi Nepal dan Filipina, tapi ini organik, bukan konspirasi. Namun politik praktis membuatnya jadi rancu: Pemerintah saling tuding, media mengamplifikasi narasi “rakyat vs elit”, tapi akarnya adalah sistem kapitalisme dan hegemoni AS—kabur dari diskusi.
PBB lumpuh: 8 veto di Dewan Keamanan
2024-2025 (Rusia 4, AS 3, China 1) blokir solusi untuk Ukraina, Gaza, Sudan, perparah ketegangan global. Ini bukti dunia abu-abu: AS pertahankan hegemoni, China-Rusia tantang, sementara negara kecil seperti Indonesia dan Nepal jadi korban proxy ekonomi dan sosial. Reset takkan simpel—bisa berupa reformasi ekonomi (CBDC, carbon pricing), politik (kontrol supranasional), atau chaos yang memaksa perubahan. Tapi tanpa kejelasan, politisi dan rakyat sama-sama kesulitan mengurai apa yang sesungguhnya terjadi.
Babat Alas itu Butuh Keberanian, Bukan Ilusi
Reset global memang keniscayaan, tapi bukan juga solusi ajaib. Sistem kapitalisme yang timpang dan perang dagang AS-China-Rusia ciptakan ketidakseimbangan yang tak bisa dielakkan—dari utang US$315 triliun hingga 54% kekayaan di tangan hanya 1% elit. Di Indonesia, “Babat Alas” adalah panggilan untuk merombak sistem—hapus korupsi, tekan ketimpangan, dan tolak tekanan asing seperti IMF. Tapi wayah e resik-resik ini pun penuh risiko: Agustus Kelabu tunjukkan rakyat bisa bersatu, tapi juga mudah terpecah oleh narasi digital dan represi polisi (10 tewas, 3.000 ditangkap). Jadi dunia abu-abu ini butuh keberanian, bukan ilusi revolusi instan. Reset bisa jadi peluang—reformasi ekonomi lokal, tolak hegemoni asing—tapi juga jebakan jika elite global (IMF, WEF, atau penumpang seperti Soros) mengambil alih narasi. Maka Indonesia harus fokus: babat alas dimulai dari dalam, tapi waspadai kanal global yang rancu. Wayah e? Mungkin sekarang, tapi tanpa strategi, hanya akan menambah luka di atas luka lama.(MDA)
*Kemuning setelah hujan, 16092025





















