Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Mantan Sekjen Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN)
Jakarta – Desakan publik agar Erick Thohir mundur dari jabatan Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) terus menggema. Bekas Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kini Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) ini terbukti gagal membawa Timnas Indonesia masuk Piala Dunia 2026.
Timnas dipastikan gagal menembus Piala Dunia 2026 setelah kalah dua kali berturut di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026. Melawan Arab Saudi, Indonesia kalah 2-3. Setelah itu, Indonesia kalah 0-1 oleh Irak.
Erick sudah minta maaf. Tapi publik yang terwakili oleh Netizen tegas mengatakan: tak ada maaf bagimu, Erick!
Kini, saatnya Erick Thohir lempar handuk. Tak ada jalan lain. Erick wajib mundur. Kalau dia seorang ksatria dan juga masih punya rasa malu.
Sebab pemerintah tidak bisa memecat Ketum PSSI. Mustahil pula Erick sebagai Menpora memecat dirinya sendiri sebagai Ketum PSSI.
Nah, ada yang menarik terkait status Erick yang merangkap jabatan sebagai Menpora sekaligus sebagai Ketum PSSI. Federation of International Football Association (FIFA) atau Federasi Sepakbola Internasional ternyata menerapkan standar ganda.
Dulu, tahun 2015, saat pemerintah melakukan intervensi dengan membekukan PSSI yang terus berkonflik berebut kursi kepengurusan, FIFA langsung turun tangan. Pada 30 Mei 2015, FIFA menjatuhkan sanksi berat dengan membekukan PSSI. Dalihnya, Pemerintah RI melanggar Pasal 13 dan Pasal 17 Statuta FIFA. Akibatnya, Timnas Indonesia tak bisa berlaga di level internasional.
Kini, ketika jabatan Ketum PSSI dirangkap Menpora, FIFA justru memperbolehkannya. Presiden FIFA Gianni Fiantino berdalih, Erick Thohir adalah sosok multitalenta yang berhasil memajukan sepakbola Indonesia. Gianni juga menyebut Erick sebagai koleganya.
Bagaimana bisa FIFA melarang pemerintah mengintervensi PSSI, tapi membiarkan Erick Thohir merangkap jabatan Menpora dan Ketum PSSI?
Di sinilah FIFA menerapkan standar ganda. Dan dari sinilah membuncah prasangka ada faktor X di antara Gianni Fiantino dan Erick Thohir.
Kini, saatnya Erick Thohir lempar handuk atau mundur dari jabatan Ketum PSSI. Anda sudah terbukti gagal membawa Timnas Indonesia berlaga di Piala Dunia 2026; suatu hal yang pernah Anda janjikan saat merekrut Patrick Kluivert dari Belanda sebagai Pelatih Timnas Indonesia menggantikan Shin Tae-yong dari Korea Selatan yang saat itu sedang bagus-bagusnya melatih Timnas.
Kini, ternyata pilihan Erick Thohir itu terbukti salah. Patrick telah gagal mengantarkan Timnas Indonesia masuk Piala Dunia 2026.
Maka, sebelum Erick Thohir mundur, Patrick yang kontraknya dengan PSSI akan berlangsung hingga 2027 harus mundur duluan. Atau Erick yang memecat Patrick sebelum politikus Golkar itu mundur atau dimundurkan.
PSSI pun sudah saatnya menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) untuk memilih Ketum PSSI baru jika Erick tak mau mundur. Erick tak bisa diharapkan lagi.
Kalau di Jepang, mungkin Erick Thohir sudah harakiri atau bunuh diri demi mempertanggungjawabkan kegagalannya. Itu kalau dia masih punya rasa malu.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Mantan Sekjen Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN)























