Jakarta, FusilatNews – 17 Mei 2025 — Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) kembali menjadi sorotan setelah penundaan pelaksanaan Kongres VI yang sedianya digelar April 2025. Hingga pertengahan Mei, jadwal resmi pelaksanaan kongres belum juga diumumkan, meski Ketua DPP PDI-P Djarot Saiful Hidayat menegaskan bahwa forum tertinggi partai itu tetap akan digelar tahun ini.
PDI-P bahkan baru saja mengumpulkan seluruh kepala daerah kadernya di Lenteng Agung Jakarta, sebuah manuver politik yang memicu spekulasi lebih jauh tentang arah masa depan partai pasca-Pemilu 2024.
Menurut Djarot, ada hal-hal yang lebih penting untuk didahulukan ketimbang kongres. Ia menyebut bahwa kongres merupakan urusan internal partai yang bisa menyusul kemudian.
“(Kongres) ini kan urusan internal partai, sehingga kita bisa mendahulukan yang lebih penting. Jadi untuk kongres nanti menyusul,” ujar Djarot saat ditemui di Sekolah Partai PDI-P, Jakarta Selatan, Jumat (16/5/2025).
Menariknya, meskipun belum ada jadwal resmi, Djarot telah mengungkap bahwa Kongres VI nanti akan menjadi ajang untuk kembali mengukuhkan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI-P. Menurutnya, akar rumput partai masih menginginkan Megawati memimpin.
“Sehingga kongres nanti menjadi forum tertinggi partai untuk mengukuhkan Ibu Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI-P. Bulannya kapan? Nanti ditunggu,” tambah Djarot.
Sebelumnya, kongres direncanakan berlangsung pada April 2025, namun ditunda karena sejumlah pertimbangan internal yang belum diungkap secara rinci. Ketua DPP PDI-P Puan Maharani juga meminta publik untuk bersabar menanti pengumuman resmi.
“Pada waktunya tentu akan diumumkan. Sabar, cukup ya,” ujar Puan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (15/5/2025).
Penundaan ini menimbulkan berbagai spekulasi, mulai dari tarik ulur kepemimpinan, hingga strategi konsolidasi internal partai dalam menghadapi dinamika politik nasional pasca-Pilpres 2024. Namun, hingga kini, elite PDI-P kompak mengarahkan narasi bahwa tidak ada urgensi mendesak untuk menyegerakan kongres—dengan satu pesan utama: Megawati tetap sosok sentral dalam tubuh partai banteng.

























