Jakarta-FusilatNews – – Lawatan Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) ke Universitas Gadjah Mada (UGM) dan ke kediaman Presiden Joko Widodo di Solo pada April lalu kembali disorot, kali ini lantaran komentar dari mantan Ketua KPK, Abraham Samad, yang mengaku tidak mengenal TPUA maupun Damai Hari Lubis.
Damai, yang juga merupakan pengacara TPUA, menyebut pernyataan Samad tak mengejutkan. “Mungkin beliau memang tidak fokus atau tidak tertarik pada model perjuangan kami yang lebih langsung dan substantif ke lapangan. Wajar saja bila tidak pernah bertemu atau bersinggungan,” ujar Damai kepada Fusilsatnews, Jumat (16/5/2025).
Damai merujuk pada momen 15 April 2025 di Yogyakarta, ketika beberapa anggota TPUA hadir dalam forum diskusi bersama Dr. Roy Suryo dan Dr. Rismon. Mereka datang bersamaan ke UGM, namun bukan dalam kapasitas resmi mewakili TPUA. “Itu hanya kebetulan waktu dan tujuan substansi yang sama—yakni silaturahim dan klarifikasi terkait dugaan keabsahan ijazah Presiden Jokowi,” katanya.
Menyoal pernyataan Samad yang menyebut dirinya sebagai buzzer atau bahkan pecundang, Damai tidak tinggal diam. “Kalau buzzer dalam arti pendengung perjuangan hukum, itu saya terima. Tapi jika buzzer berarti pecundang, itu penghinaan terhadap konsistensi dan integritas perjuangan kami selama ini,” tegasnya. “Kami tidak mengenal kata kalah. Yang ada hanya belum berhasil. Dan keberhasilan sejati bukan wilayah manusia.”
Damai juga menyoroti pernyataan Samad yang memberi isyarat adanya pihak-pihak yang memanfaatkan namanya untuk kepentingan pribadi dan mengaku-aku sebagai bagian dari TPUA. “Silakan saja Pak Samad klarifikasi, kami akan bantu telusuri siapa yang mungkin mencatut nama beliau. Yang jelas, itu bukan pengurus TPUA. Mungkin saja hanya oknum petualang yang sempat singgah dengan agenda pecah belah. Waktu akan membuktikan,” katanya.
Damai mengimbau publik agar tidak memprovokasi atau memperbesar isu ini menjadi konflik personal antara dirinya dan Abraham Samad. Namun, ia menyayangkan posisi Samad yang terkesan menjauh dari upaya advokasi terhadap Roy Suryo yang saat ini tengah menghadapi laporan di Polda. “Beliau dulu simbol keberanian di KPK, tapi dalam hal ini justru absen. Padahal kami yakin beliau paham bahwa ini bukan sekadar soal individu, tapi soal keadilan publik,” pungkasnya.
























