Jakarta, FusilatNews,- Pak Wijaya, teman saya seorang Chinese, mengapa tidak mau menjadi warga negara Amerika?, tanya saya. “wah tidaklah Pak Ali, saya tidak tertarik”, jawabnya. Iya, mengapa?, desak saya. “Gini Pak Ali. Di Amerika itu, saya tak mungkin bisa jadi orang kaya”, tambahnya. Mengapa? Saya jadi penasaran. “Soalnya disana sudah established. Semua fix. Jadi berat sekali untuk bisa bersaing dengan mereka”, kata Pak Wijaya, sambil nyeruput kopi. Kami duduk di veranda depan rumah, pada suatu sore, di kawasan Bandung Utara, yang sejuk dan semilir udaranya yang segar.
Pak Wijaya melanjutkan percakapannya. “Di Indonesia, saya hari ini hidup gembel seperti sekarang, tapi tidak tahu, esok lusa, bisa saja tiba-tiba saya jadi orang kaya raya”, begitu tambahnya. Dalam hati, apakah Ia nyindir saya? Tapi kan dia tahu bagaimana sepak terjangku berjuang mendapatkan semua ini. Lalu saya melanjutkan kepenasarananku, Mengapa bisa begitu, Pak Wijaya? tanyaku.
“Ya, karena di Indonesia, belum established. Semua bisa berubah dengan tiba-tiba. Untung-untungan. Susah diduga”, kilahnya.
Saya membenarkannya, dalam hati. Teringat kawan saya. Yang nasibnya seperti yang dikisahkan oleh Pak Wijaya. Saya sebut nama samarannya, Pak Amin. Jaman saya aktif di Partai, saya dan kawan-kawan, adalah kelompok yang selalu dominan dalam berbagai percakapan perpolitikan. Maklum, kami semua adalah aktifis kampus. Sementara Pak Amin, dengan segala keluguannya, hanya menjadi pendengar yang setia, dan selalu menyiapkan kopi atau teh panas, bila kami berkungjung ke Sekretariat Partai itu.
Singkat cerita, saat menjelang Pemilu, Pak Amin, membagikan formulir isian untuk menjadi Calon legislative di DPR RI dan DPRD Propinsi. Kami semua tidak tertarik untuk mengisi formulir Caleg itu. Akan beresiko. Bila kemudian ketahuan aktif di Partai, karirku akan habis. Karena itu sampai menjelang deadline, formulir Caleg itu, dibiarkan tergelatak di meja. Tak berminat menjadi Caleg dari Parpol, pada waktu itu.
Jaman ORBA, bila ketahuan sebagai aktifis Partai, menyalonkan jadi RT pun, tak akan ada yang mau memilih.
Pak Amin, pengangguran, yang tiap hari ada di Sekretariat Partai, akhirnya harus mengisi formulir-formulir tersebut, sebagai persyaratan yang harus masuk ke DPP Parpol, untuk diajukan ke Bapilu (Badan Pemilihan Umum). Maka beliaulahlah dkk dekatnya, yang mengisi formulir daftar caleg itu. Qodarullah, singkat cerita terjadilah perisitiwa kerusuhan1998. Semua terjadi reformasi.
Pada Pemilu berikutnya, Golkar tumbang. PDI dan PPP unggul dimana-mana. Pak Amin, berhasil terpilih menjadi anggota DPRD di Propinsi.
Saya juga kemudian tersenyum, setelah sahabat di Masjid saya, Mas Joko namanya, memberi tahu. bila Pak Amin, benar sudah dilantik menjadi anggota DPRD Propinsi. Pada pertemuan betikutnya, Mas Joko updated memberi tahu, sekarang Pak Amin menjadi Wakil Ketua DPRD Propinsi.
Bumbu Informasi lainnya yang disampaikan kepada saya adalah, bahwa Pak Amin sekarang hidupnya mewah, banyak mendapat fasilitas dari Pemerintah Daerah yang istimewa sebagai wakil ketua DPRD.
Jadi apa yang disampaikan Pak Wijaya itu, benar.
Malah kisah yang sama dengan Pak Amin, terjadi pula kepada kawan saya yang lain. Katakan saja Pak Pendi. Ia aktifis masjid. Pada pemilu berikutnya, ditaqdirkan terpilih juga dari Partai yang lain, partai yang lahir pasca reformasi. Ia terpilih menjadi anggota DPRD kotamadya. Duduk sebagai wakil ketua DPRD juga. Apa yang yang berubah? Selama lima tahun, rumahnya bertambah hingga 6 buah. Mobilnya delapan buah. Dan malah istrinya pun bertambah satu.
Pada saat pembentukan Partai ini, saya diminta untuk ikut sebagai pengurus ditingkat Propinsi. Tapi, setelah saya tahu, ada kawan yang saya kenal, lalu saya mengundurkan diri. Mengapa? Saya tahu watak dia, dan saya sadar kelemahaan yang ada pada diri saya. Dan betul, belakangan beliau diangkat menjadi anggota DPR RI, melalui Pergantian Antar Waktu. Sudah dapat kuduga, saya tidak mungkin bisa bersaing dengan beliau. Saya tidak punya modal untuk semua itu.
Pantas, bila banyak pihak yang berfikir, cara mengadu nasib, bisa juga dilakukan melalui perjuangan di partai-partai politik. Menduduki posisi strategis inherent dengan peningkatan income dan perbaikan nasibnya.
Kita mencatat juga, pejabat-pejabat Politik dan para aktifis-aktifis politik lainnya, disaat-saat sedang prihati dengan pandemi covid19 ini, yang membuat banyak rakyat jatuh miskin-kehilangan pekerjaan, justru penghasilan mereka naik secara signifikan sekali. Ironis.
Tetapi tidak bagi sebagian kelompok masyarakat. Siapa mereka? – Mereka itu, hampir dipastikan dari kalangan akademisi. Tidak tertarik dengan cara-cara seperti yang lazim di habitat perpolitikan itu. Akibatnya, warna Partai Politik jomplang dan buram dengan potret pernampilan para figure-figurenya.
Catatan saya, sahabat atau senior-senior saya yang aktif di Partai-partai Politik, yang kemudian menjadi penggede: ada dua orang yang jadi Duta Besar, empat lima orang yang menjadi Menteri dan banyak yang jadi anggota DPR di Pusat dan maupun Daerah.


























