• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ahlaq Tentara Itu “Yes Sir” – Civil “Yes Hukum”

Ali Syarief by Ali Syarief
March 19, 2026
in Feature
0
Ahlaq Tentara Itu “Yes Sir” – Civil “Yes Hukum”
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam dunia militer, ada satu prinsip yang tak tertulis namun hidup dalam setiap denyut nadi prajurit: “Yes, Sir.” Sebuah ungkapan sederhana, tetapi mengandung makna ketaatan total—tanpa reserve, tanpa tafsir pribadi. Ia bukan sekadar etika komunikasi, melainkan fondasi dari sistem komando yang menjaga disiplin, efektivitas, dan kecepatan dalam situasi yang sering kali menentukan hidup dan mati.

Seorang tentara tidak dididik untuk mempertanyakan perintah dalam konteks operasional. Ia dilatih untuk tunduk dan taat kepada komandannya. Dalam struktur seperti ini, loyalitas bersifat vertikal. Komando adalah hukum yang hidup, dan pelaksanaan adalah bentuk kehormatan. Maka, dalam logika militer, setiap tindakan prajurit di lapangan—baik yang terpuji maupun yang menyimpang (onkum)—tidak bisa dilepaskan dari rantai komando. Tanggung jawab moral dan struktural tidak berhenti pada pelaku di level bawah, melainkan mengalir ke atas, kepada komandan yang memberi perintah, membentuk kultur, dan mengawasi anak buahnya.

Di sinilah letak perbedaan mendasar dengan dunia sipil. Jika militer berdiri di atas kepatuhan terhadap komando, maka masyarakat sipil bertumpu pada supremasi aturan. Seorang aparatur sipil, atau bahkan warga biasa, tidak dituntut untuk berkata “Yes, Sir” kepada atasannya, melainkan “Yes” kepada hukum. Loyalitas dalam sistem sipil bersifat horizontal terhadap norma dan regulasi, bukan vertikal kepada individu.

Dalam sistem sipil yang sehat, perintah atasan tidak otomatis menjadi kebenaran. Ia harus diuji: apakah sesuai dengan hukum, etika, dan kepentingan publik? Jika tidak, maka menolak perintah justru menjadi bentuk integritas. Di sinilah keberanian sipil diuji—bukan dalam ketaatan buta, melainkan dalam kesetiaan kepada prinsip.

Perbedaan ini bukan sekadar teknis, tetapi filosofis. Militer dibangun untuk menghadapi ancaman yang membutuhkan keseragaman tindakan dan kecepatan keputusan. Sementara sipil dibangun untuk menjaga keadilan, akuntabilitas, dan keseimbangan kekuasaan. Ketika logika militer dibawa ke ranah sipil—di mana perintah atasan dianggap mutlak tanpa kritik—maka yang lahir adalah otoritarianisme. Sebaliknya, jika logika sipil dipaksakan ke militer secara berlebihan, maka disiplin dan efektivitas bisa runtuh.

Namun, satu hal yang perlu ditegaskan: ketaatan dalam militer bukan berarti bebas dari tanggung jawab moral. Sejarah telah mencatat bahwa pembelaan “hanya menjalankan perintah” tidak selalu dapat diterima sebagai alasan pembenar. Karena itu, peran komandan menjadi sangat krusial. Ia bukan hanya pemberi perintah, tetapi penjaga nilai. Ia bertanggung jawab memastikan bahwa setiap instruksi tetap berada dalam koridor hukum dan kemanusiaan.

Di sisi lain, dunia sipil juga tidak boleh kehilangan arah. Kebebasan tanpa rambu hukum akan melahirkan kekacauan, sementara ketaatan tanpa nalar akan melahirkan ketidakadilan. Maka, keseimbangan antara aturan dan nurani menjadi kunci.

Pada akhirnya, “Yes, Sir” adalah cermin dari satu sistem nilai. Ia tepat dalam konteksnya, tetapi bisa menjadi berbahaya jika dipindahkan tanpa filter ke ruang yang berbeda. Militer membutuhkan ketaatan kepada komando, sementara sipil membutuhkan ketaatan kepada hukum. Dan di antara keduanya, berdiri satu prinsip universal: bahwa kekuasaan, dalam bentuk apa pun, harus selalu dapat dipertanggungjawabkan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

JABAR DARURAT PANGAN: TANPA DEWAN PANGAN, KITA MENUJU KRISIS YANG DIBIARKAN

Next Post

PERJANJIAN YANG BERAT SEBELAH DAPAT DIBATALKAN

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara
Feature

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026
Feature

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026
Feature

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Next Post

PERJANJIAN YANG BERAT SEBELAH DAPAT DIBATALKAN

Penatapan 1 Syawal – Bak Gaya Sangkuriang Kabeurangan

Penatapan 1 Syawal - Bak Gaya Sangkuriang Kabeurangan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi
Birokrasi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

by Karyudi Sutajah Putra
May 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Koalisi Masyarakat Sipil mengecam tindakan sewenang-wenang TNI yang melarang kegiatan pemutaran film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara. "Pelarangan...

Read more
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prabowo ” Is Finish ” 212 Tidak akan Masuk ke Lubang yang Sama

Benarkah Prabowo Pecah Kongsi dengan Rizieq Syihab?

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Revolusi Bermula dari Film!

Revolusi Bermula dari Film!

May 13, 2026

Nikmat Sehat yang Baru Disadari Saat Hilang

May 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...