Damai Hari Lubis – Mujahid 212 (Pendapat Pribadi)
Anies Baswedan perlu pendekatan yang lebih intensif kepada tokoh-tokoh Fatayat NU, berkaitan dengan Calon Pendamping Wanita sebagai Cawapresnya. Memang perempuan pantas menjadi petinggi dinegeri demokrasi ini yang ” sistim rule -nya selama mazhab equality before the law ” atau sistim yang menolak konsep gender masih berlaku, maka tentunya proporsional jika perempuan eksis sebagai RI. 2.
“Khofifah adalah sosok yang dapat menjadi pemecah batu” terhadap suara besar konstituen pada pilpres 24. Para ulama NU dan para satrinya di Jawa Timur, dalam perkembangan dinamika geo politiknya, akan memunculkan efet koneksitas politis kepada kaum Ulama di Jawa Tengah, dan daerah lainya di Pulau Jawa.
Seberang Jawa pun menurut data empiric, berdasarkan historis Sosiologi Politik Indonesia sejak dekade keberadaan PNI, pada Pemilu dimasa ORLA dekade 1945 sampai dengan 1965, antara sosok Soekarno (PNI), nyata fakta ” keterkaitan hubungan kedekatan Soekano kepada Ulama NU berimbas kepada warga NU. Yang samni’na wa atho’na ” kepada tokoh ulama panutannya, sehingga berkesinambungan menjadi cerminan praktek politik sampai dekade saat ini.
Gejala kedekatannya nampak dalam bentuk berbaginya suara perolehan diantara dua kubu, PDIP Sebagai cikal bakal dari PNI & PKB.
Walau jika mengacu kepada politik sejarah berdirinya PKB, lahir dari tokoh besar NU. Gus Dur, dengan menggunakan “metode ortodok atau sistim tradisional yang berbasis kepada Para Ulama NU. Sehingga semestinya suara NU. layak menjadi suara PKB. Untuk seluruh daerah di tanah air, setidaknya mayoritas suara warga NU. Untuk PKB.
Maka celah politis dari figur Khofifah ini menjadi manufer politik pecah batu yang cukup nice untuk diimplementasikan oleh Sang tokoh Pembaru menuju pilpres 2024. Demi signifiaksi perolehan suara. Sehingga terwujud harapan besar daripada cita-cita publik bangsa ini lintas Sara, Anies duduk di Kursi RI. 1, semata demi bangsa dan negara Indonesia yang jauh lebih baik.






















