Damai Hari Lubis-Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212
**Catatan Singkat: Anies Baswedan, Figur Intelektual Cerdas, Jujur, Penyabar, Normatif, dan Lebih Percaya pada Pemuja Pragmatisnya**
Pramono Anung dan Rano Karno sudah mendaftar ke KPUD Jakarta hari ini. Benar, publik pendukung Anies merasa bahwa jagoannya telah dikhianati total oleh PKS.
Seandainya Anies mau menerima usulan sebagian pendukungnya—menerima permintaan Ketua Umum partai pengusungnya—mungkin situasinya berbeda. Anies bisa saja menerima tawaran menjadi kader PDIP, sebagai langkah strategis, mengingat PKS, Nasdem, dan PKB yang diharapkan tetap berpihak kepadanya ternyata malah berpaling. Padahal, ketiga partai itu punya perolehan kursi cukup di DPRD tanpa perlu berkoalisi. Berdasarkan putusan MK No. 60 Jo. 70 Tahun 2024, satu partai dari ketiga ini sudah bisa mengusung Anies.
Perolehan kursi PKS, Nasdem, dan PKB yang meningkat drastis di legislatif tentu berkat dukungan mereka kepada Anies saat pilpres Februari 2024. Tapi harapan Anies kini nyaris pupus, dengan penutupan pendaftaran Cagub DKI Jakarta oleh KPU pada 29 Agustus 2024. Sampai hari ini, tak ada tanda-tanda dari ketiga partai tersebut untuk mengusungnya.
Anies yang tak punya kekuatan finansial, akar partai, atau keberanian menghimpun pendukungnya melawan tirani, kini berisiko kehilangan momentum menjadi Gubernur DKI Jakarta lagi. Ini menyedihkan, mengingat keberhasilannya memimpin Jakarta dari 2017 hingga 2022. Ironisnya, sosok yang mampu menjalankan amanah malah terabaikan.
Berdasarkan data empiris, kredibilitas Anies tak perlu diragukan; dia punya rekam jejak bersih menurut audit BPK dan KPK. Namun, KPK yang seharusnya menjaga integritas malah terjebak dalam politik pesanan, dengan mencoba menjadikan Anies tersangka tanpa bukti kuat—sekadar asal bapak senang.
Hari ini, 28 Agustus 2024, mungkin akan menjadi titik balik bagi Anies Baswedan dalam politik Indonesia. Para pendukung yang idealis, meski kecewa, tetap objektif. Mereka tahu bahwa Anies bukan seorang revolusioner; dia lebih normatif. Hal ini membuatnya terancam ditinggalkan oleh pendukung radikal yang dulu mendukungnya di pilpres 2024.
Anies tetap diakui sebagai sosok cerdas, jujur, dan layak menjadi pemimpin. Namun, ia tak memiliki keberanian revolusioner untuk melawan rezim yang sarat dengan ketidakadilan. Anies yang pekerja keras, teoritis, dan sistematis mungkin lebih cocok sebagai menteri di bidang pendidikan atau sektor lain yang lebih sesuai dengan keahlian dan integritasnya.
Anies Rasyid Baswedan, cucu seorang Pahlawan Nasional, tetap menjadi salah satu aset besar bangsa. Kejujurannya, dedikasinya, dan reputasinya yang bersih adalah kualitas yang sangat dibutuhkan di negeri ini.























