Oleh : Syafrin SE | Aktivis Anti Korupsi
Jakarta, 18 Juni 2022 (FusilatNews)- Pasca pelantikan presiden Joko Widodo tahun 2019 sebagai presiden Republik Indonesia periode 2019-2024, sampai saat ini hanya ada tiga nama bacapres/ capres yang memuncaki di berbagai hasil survey (terlepas hasil survey tersebut sebagai penggiringan opini publik atau tidak), yaitu ; Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo. Akan tetapi, ketiga nama besar tersebut masing-masing hampir memiliki kendala yang sama untuk bisa maju di Pilpres 2024, kenapa ?
Belum Memiliki Tiket Penuh.
Sejauh ini baik Anies, Prabowo maupun Ganjar belum memiliki tiket penuh sebagai capres. Tapi baru-baru ini ada tiga nama besar yang telah dirilis sebagai capres yang merupakan keputusan hasil rakernas Partai Nasdem, yakni ; Anies Baswedan, Jenderal Andika Perkasa, dan Ganjar Pranowo. Tetapi partai Nasdem dan para Capres yang diusungnya harus berjuang keras agar bisa mendapatkan dukungan dari partai lain untuk memenuhi ambang batas pencapresan.
Kalau Prabowo Subianto, bisa disebut telah memegang sepotong tiket untuk itu, karena Prabowo Subianto saat ini masih aktif sebagai Ketum partai Gerinda, dan semua kader partai Gerindra diseluruh Indonesia, menyatakan secara bulat mendukung penuh pemcapresan Prabowo. Akan tetapi, posisi Prabowo belum aman, karena harus mencari sepotong tiket lagi agar bisa memenuhi ambang batas, yaitu PT 20%.
Masih Sebatas Wacana.
Pada beberapa bulan terakhir, ada isu santer dari Partai Demokrat, bahwa nama Anies Baswedan yang merupakan kandidat terkuat yang didukung oleh masyarakat luas itu, sering disebut-sebut dalam wacana pencapresan dari partai tersebut yaitu ; Anies-AHY. Pasangan ini menurut beberapa hasil survey adalah salah pasangan potensial di 2024. AHY ditengarai sebagai pelengkap dari Anies dan sebaliknya, karena AHY adalah sosok calon pemimpin muda harapan bangsa, sosok berintegritas dan masih tergolong bersih.
Ganjar Pranowo sulit mendapat dukungan dari partainya sendiri. Ganjar sering menuai penolakan keras dari para elite PDIP bahkan dikritik keras oleh saudara Trimedya Pandjaitan dalam sebuah penggalan video viral, hal itu bisa berakibat buruk pada elektabilitas yang bersangkutan, karena selama lima tahun memimpin Jawa Tengah, Ganjar dinilai gagal oleh elite PDIP tersebut dalam mengentaskan kemiskinan, dan bungkam soal setengah triliun uang Bank Jateng, terus-menerus disorot soal kasus Wadas, dan informasi dari media online bahwa setiap hari ada tiga orang meninggal dunia di Sregen karena kemiskinan. Ganjar memang memiliki pendukung militan dan masive yang tersebar di semua platform media sosial dan juga dibantu media online, oleh karena itu nama Ganjar selalu di urutan teratas dari beberapa lembaga survey. PDIP tidak mumgkin mengusung Ganjar walau Ganjar memiliki peluang diusung oleh partai lain, karena PDIP akan tetap bulat mengusung Puan Maharani sebagai Capres atau Wacapres. Puan Maharani di isukan akan di gandengkan dengan Prabowo, yakni ; Prabowo-Puan atau Puan-Prabowo. Hal ini bisa saja terjadi karena, mungkin ada komitmen politik di 2019 antara Ibu Megawati Soekarno Putri dengan Prabowo Subianto yang kami kenang pada acara “Nasi Goreng Teuku Umar”, saat itu.
Harus Ada Pergerakan Signifikan.
Sekalipun pilpres kurang lebih tinggal dua puluh satu bulan lagi (Juni 2022-Februari 2024), tapi menurut pantauan kami sampai saat ini, baik yang dilakukan oleh semua bacapres/ capres maupun oleh para pendukung dan partai pengusung, belum terlihat adanya langkah-langkah dan pergerakan signifikan untuk meraih dukungan atau dukungan tambahan bagi para bacapres/ capres.
Untuk itu kami mengusulkan kepada bacapres/ capres agar sejak dini berkenan mempersiapkan diri dengan matang untuk menjual berbagai program dan ide besar yang cemerlang kepada rakyat Indonesia dan kepada partai politik untuk memperoleh tiket 2024. Karena dari program dan ide-ide tersebut, rakyat sebagai pemilih paling tidak bisa mendapatkan gambaran seorang pemimpin yang berintegritas yang diyakini bisa membawa perubahan signifikan disemua sektor terutama kesejhteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Syafrin SE | Aktivis Anti Korupsi dan Pegiat Media Sosial


























