“Kalau Soeharto pahlawan, berarti Gus Dur, Nurcholish Madjid, Amien Rais itu penjahatnya dong?”
“Kalau Soekarno pahlawan, berarti Buya Hamka, Tan Malaka, Sutan Sjahrir itu bajingan semua dong?”
Pertanyaan-pertanyaan sampah ini terus bermunculan, diamplifikasi oleh Tempo yang buat dikotomi “ngajak gelut” saat nama Soeharto diusulkan jadi Pahlawan Nasional. Dan itulah penyakit kronis bangsa ini: otak dikotomi hitam-putih, otak bajingan-pahlawan, otak “kalo kamu benar, aku harus salah”.
Kalian pikir sejarah itu drama sinetron?
Ada pahlawan bersih 100%, ada penjahat kotor 100%?
Bangun bro! Sejarah itu abu-abu. Sejarah itu manusia. Sejarah itu keputusan sulit di saat bangsa terancam mati.
Logika Bajingan yang Dipakai Buzzer Kiri dan Kanan
Mereka yang benci Soeharto bilang:
“Kalau Soeharto pahlawan, berarti Gus Dur, Amien Rais, Nurcholish Madjid itu penjahat yang menjatuhkan Orde Baru!”
Lalu yang benci Soekarno balas:
“Kalau Soekarno pahlawan, berarti Natsir, Hamka, Sjahrir itu bajingan yang ditahan tanpa pengadilan!”
Kalian semua sama bodohnya.
Kalian pakai logika anak TK:
“Satu kursi, cuma boleh satu orang duduk. Yang lain harus berdiri jadi musuh.”
Faktanya:
1. Soeharto jatuh 1998 bukan karena Gus Dur, Amien Rais, atau Nurcholish Madjid.
Soeharto jatuh karena IMF, kroni, korupsi anak-anaknya, dan rakyat yang sudah muak dengan KKN.
Gus Dur, Amien, Nurcholish cuma pemicu, bukan penyebab.
Kalau Soeharto bersih, meski 10 juta orang mahasiswa turun ke jalan pun tak akan goyah.
- Soekarno jatuh 1966 bukan karena Natsir atau Hamka, atau karena kudeta Soeharto.
Soekarno jatuh karena inflasi 650%, kelaparan, PKI membantai jenderal, dan rakyat yang makan singkong rebus tiap hari.
Natsir, Hamka, Sjahrir cuma kritikus, bukan pengguling.
Pahlawan Bisa Jatuh. Bajingan Bisa Bangkit. Itu Manusiawi.
– Soekarno pernah jadi pahlawan proklamator, tapi juga pernah jadi diktator Demokrasi Terpimpin yang bunuh demokrasi.
– Soeharto pernah jadi penyelamat dari komunisme, bapak pembangunan, tapi juga jadi bapak korupsi kolusi nepotisme, meski KKN era Jokowi lebih parah lagi.
– Gus Dur pernah jadi penyelamat demokrasi, tapi juga pernah jadi presiden yang keluarkan 70+ dekrit seenak jidatnya.
– Amien Rais pernah jadi pahlawan Reformasi, tapi juga pernah jadi politisi yang dukung dinasti politik 180 derajat.
Semua manusia. Semua punya dosa. Semua punya jasa.
Kenapa Kita Takut Akui Soeharto Pahlawan?
Karena kalau Soeharto pahlawan:
– Anak-cucu Soekarno kehilangan alasan dendam 57 tahun.
– PDIP kehilangan bahan kampanye abadi.
– Buzzer bayaran kehilangan job gorengan 1965 tiap tahun.
– Media Soros kehilangan narasi “genosida” yang menghasilkan dolar.
Jadi lebih enak dipertahankan dikotomi:
Soeharto = bajingan 100%. Soekarno = malaikat 100%.
Dahlah! Hentikan dikotomi Bajingan-Pahlawan Ini
Kita bukan bangsa kanak-kanak yang butuh dongeng hitam-putih.
Kita bangsa yang pernah selamat dari penjajah Belanda, Jepang, dan hampir jadi negara komunis.
Kita butuh keberanian mengakui jasa, sekaligus keberanian mengakui kesalahan.
Tanpa takut kehilangan “kursi pahlawan” versi golongan sendiri.
Kalau Soeharto pahlawan, Gus Dur tetap pahlawan Reformasi.
Kalau Soekarno pahlawan, Hamka tetap pahlawan ulama anti-komunis.
Mereka tidak perlu berebut satu kursi.
Sejarah punya ribuan kursi untuk semua yang pernah berkorban bagi negeri ini.
Pesan untuk Generasi Medsos
Berhenti jadi budak dikotomi.
Berhenti jadi buzzer yang dibayar 500 ribu per hari untuk goreng dendam 60 tahun lalu.
Berhenti jadi orang Indonesia yang lebih takut kehilangan “idol” daripada kehilangan akal sehat.
Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang bisa bilang:
– “Soeharto pahlawan karena selamatkan kita dari palu arit, yang jadikan negara ini setidaknya pernah berswasembada pangan, yang jadikan negara ini stabil, aman tentram, murah sandang pangan.”
– “Gus Dur pahlawan karena selamatkan kita dari militerisme.”
– “Soekarno pahlawan karena bacakan proklamasi negara ini.”
– “Hamka pahlawan karena pertahankan agama dari ateisme.”
Kalau kalian masih pakai logika “kalau dia pahlawan, aku harus jadi penjahat”, maka selamanya Indonesia akan jadi bangsa kanak-kanak yang tak pernah move on.
Sudahi dikotomi bajingan versus pahlawan.
Mulai hari ini, kita pilih jadi bangsa yang berani mengakui semua jasa pendahunya, tanpa ada dendam sejarah.
Karena hanya bangsa yang tak lagi diperbudak dendam, yang layak disebut bangsa besar.(Malika’s Insight – 11 November 2025)

























