Jakarta, Fusilatnews.–Usai Prabowo menemui Ketua Umum Nasdem, Surya Paloh, beberapa waktu yang lalu, kemudian diagendakan untuk bertemu dengan Ketua PDIP, Megawati Soekarnoputri. Tentu saja ini langkah antisipatif, bagi Prabowo, bila terjadi suatu saat dilantik menjadi Presiden. Komposisi kursi di parlemen antara kubu koalisi Indonesia Maju dengan kubu Paslon 01 dan Paslon 03, dinilai akan memperlemah posisi eksekutif regime Prabowo.
Efek lain, banyak pihak yang melihat, bahwa langkah Prabowo tersebut sebagai strategis, untuk menjelaskan bahwa memang pengaruh Jokowi, setelah ia lengser, tidak signifikan sama sekali. Realistis parpol-parpol yang ada perwakilannya di parlemenlah yang harus dikelola sebagai partner yang kondusif.
Rencana pertemuan antara dua tokoh besar politik Indonesia, Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, telah menarik perhatian publik. Tanggapan dari politisi senior PDIP dan pernyataan dari wakil presiden terpilih, Gibran Rakabuming Raka, turut menguatkan ekspektasi akan pertemuan tersebut.
Politisi senior PDIP, Hendrawan Supratikno, mengkonfirmasi bahwa hubungan antara Megawati dan Prabowo tidak pernah terganggu. “Bu Mega tak punya masalah dengan Pak Prabowo. Hubungannya baik,” ungkapnya, menambahkan bahwa rencana pertemuan itu memang ada, meski detailnya belum pasti.
Sementara itu, Politisi PDIP Guntur Romli juga menyatakan bahwa Megawati dan PDIP tidak memiliki masalah dengan Prabowo atau Gerindra. Namun, Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa saat ini belum ada kabar lanjutan mengenai rencana pertemuan tersebut. Dia menyatakan akan memberikan informasi lebih lanjut jika ada kepastian.
Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Gibran Rakabuming Raka mengenai kesiapannya terkait pertemuan tersebut. Perkembangan selanjutnya dari rencana pertemuan antara Prabowo dan Megawati tetap menjadi sorotan dalam dunia politik Indonesia.
























