• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

MENJUAL SAWAH DEMI ANAK SEKOLAH

by
April 6, 2024
in Economy, Feature
0
MENJUAL SAWAH DEMI ANAK SEKOLAH
Share on FacebookShare on Twitter

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA –  PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT

Selain saat ini berkembang alih fungsi lahan yang terekam semakin membabi-buta, di banyak daerah juga marak berlangsung alih kepemilikan lahan sawah petani ke non petani. Dua hal inilah yang kini harus kita hadapi dalam menjaga, memelihara dan melestarikan ruang pertanian. Hal ini patut dicamkan, karena jika tidak segera dicarikan solusinta, boleh jadi suatu waktu bakan tampil jadi masalah yang sangat krusial dan merisaukan.

Banyaknya petani yang menjual sawah dan ladang miliknya merupakan catatan tersendiri dalam dunia pertanian di negara kita. Sawah dan ladang yang menjadi sumber kehidupan petani, kok bisa-bisanya dijual ? Lalu dari mana petani akan mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya ? Ini yang mengkhawatirkan di masa depan.

Salah satu alasan, mengapa petani padi rela melepas sumber utama penghasilannya ? Selidik punya selidik, ternyata menjadi petani padi sekarang, sama saja dengan menjebakkan diri kedalam suasana hidup miskin dan sengsara. Berprofesi sebagai petani padi, tidak ada satu pun yang menjamin bakal hidup sejahtera. Yang pasti jadi petani padi, hanyalah sekedar untuk menyambung nyawa kehidupan.
Rame-ramenya para petani menggelar aksi protes kepada Pemerintah terkait dengan turunnya harga gabah menjelang panen raya, tentu perlu dicermati dengan seksama.
Petani wajar protes. Bayangkan, sebelum panen raya berlangsung, harga gabah di pasaran mampu menembus angka Rp.7000,- per kg. Petani tentu senang dengan harga sebesar itu. Beberapa orang petani malah menyampaikan secara langsung suara hatinya kepada Presiden Jokowi.

Yang membuat petani kecewa, menjelang panen raya berlangsung, ternyata penyakit klasik setiap panen raya tiba, harga gabah selalu anjlok, kini sinyalnya sudah mulai berkelap-kelip. Petani was-was, jangan-jangan di saat panen raya, harga gabah benar-benar bakal anjlok lagi. Itu sebabnya, petani meminta agar pada saat panen raya, Pemerintah dapat hadir ditengah kehidupan petani padi.

Pemerintah hari ini, harus beda dengan yang lalu-lalu. Jika masa lalu, terekam Pemerintah seperti yang tak berdaya menghadapi sepak terjang kalangan tertentu yang doyan memainkan harga gabah di waktu panen raya, kini sudah saatnya Pemerintah tampil beda. Dengan kekuasaan dan kewenangan yang dimilikinya, Pemerintah selalu tampil mendampingi petani untuk membela dan melindunginya.

Sebagai pemegang mandat rakyat, Pemerintah pasti tidak akan disalahkan jika waktu panen raya tiba, Pemerintah dapat membela dan melindungi petani dari perilaku oknum yang doyan memainkan harga gabah di tingkat petani. Bahkan petani akan bangga, jika Pemerintah bukan hanya melakukan pendampingan, namun sekaligus menetapkan harga jual gabah dan beras, yang betul-betul menguntungkan bagi petani beserta keluarganya.

Namun demikian, jika Pemerintah tidak mampu mewujudkan harapan petani diatas, boleh jadi para petani akan kecewa berat dan mengambil sikap terhadap profesi petani padi. Persoalan seriusnya, bagaimana jika para petani sampai pada kesimpulan, profesi petani padi sudah tidak menjanjikan lagi. Menjadi petani padi, tak ubahnya dengan hidup dalam lautan kemiskinan.

Bila petani saat ini bersikap demikian, tentu ada beberapa alasan yang dapat mereka ajukan. Pertama, semakin gencarnya kaum muda perdesaan yang meninggalkan tanah kelahirannya, hanya sekedar untuk mengadu nasib di perkotaan. Mereka enggan menjadi petani padi, karena tidak ada jaminan dari Pemerintah, menjadi petani padi bakalan hidup sejahtera dan bahagia.

Kedua, para orang tua yang berprofesi sebagai petani semakin banyak yang melarang anak-anak mereka untuk bekerja sebagai petani melanjutkan pekerjaan orang tuanya sebagai petani. Para orang tua akan bangga kalau anak-anak mereka dapat bekerja sebagai Aparat Sipil Negara (ASN) atau jadi pegawai swasta multi-nasional.

Ketiga ada kesan dalam suasana kekinian profesi petani padi di negara kita, semakin tidak bergengsi di masyarakat, karena profesi petanu tidak mampu menghantarkan yang menggelutinya ke arah kondisi hidup yang menjanjikan. Menjadi petani, khususnya petani berlahan sempit, hanyalah sekedar untuk menyambung nyawa kehidupan semata.

Akibatnya, para orang tua yang sekarang bekerja selaku petani, banyak yang menjual sawah dan ladang mereka, demi membiayai anak-anak mereka untuk dapat meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi kagi. Mereka optimis, hanya dengan pendidikan yang lebih baik, maka anak-anak mereka memiliki peluang lebih besar untuk jadi pegawai negeri atau karyawan swasta yang bergengsi.

Jika tidak ada kebijakan khusus terkait dengan profesi petani padi, boleh jadi pekerjaan sebagai petani padi bakal semakin ditinggalkan. Salah satu dampak yang kini mengedepan dalam kehidupan sehari-hari adalah semakin gencarnya terjadi alih kepemilikan lahan sawah petani ke non petani. Umumnya mereka membeli sawah, hanya untuk investasi. Siapa sangka suatu waktu akan dapat dibangun perumahan atau pemukiman.

Maraknya petani yang melepas sawah dan ladang yang dimiliki, demi menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, kini tampil jadi masalah tersendiri di perdesaan. Para orang tua yang semula berkiprah sebagai petani, kini sudah harus berpikir mencari profesi lain yang dapat ditekuninya. Bagi petani berlahan sempit, tentu cukup sulit beralih profesi. Ujungnya mereka bekerja dengan berburuh tani juga.

Semoga ada jalan keluar yang dapat kita tempuh. Setidaknya, ada pilihan profesi lain bagi mereka yang secara sadar telah menjual sawah dan ladangnya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

“Ribuan Pengacara FAMI Siap Bantu Masyarakat: Buka Puasa Spesial di Cafe Kotjil”

Next Post

“Antisipasi Pertemuan Besar: Prabowo dan Megawati dalam Sorotan”

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
Mega dan Prabowo Sedang Samakan Waktu Untuk Bertemu

"Antisipasi Pertemuan Besar: Prabowo dan Megawati dalam Sorotan"

Di Bank Terbesar di Indonesia, Simpanan Nasabah Bisa Hilang Dengan Sekali Klik

Di Bank Terbesar di Indonesia, Simpanan Nasabah Bisa Hilang Dengan Sekali Klik

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...