Fusilatnews – Reuni akbar angkatan 80 Fakultas Kehutanan UGM pada Sabtu, 26 Juli 2025, semestinya menjadi ajang nostalgia, mempererat persaudaraan, dan meneguhkan kembali jati diri sebagai akademisi. Namun, kehadiran Joko Widodo dalam forum tersebut malah menjadi bahan bakar baru bagi polemik lama yang tak kunjung reda: tudingan ijazah palsu. Di tengah semangat kebersamaan, Roy Suryo justru tampil kontras, tetap bersikukuh pada narasi bahwa skripsi Jokowi palsu dan ijazahnya tak valid. Maka pertanyaannya: apa sebenarnya yang dicari Roy Suryo Cs pasca reuni itu—kebenaran, keadilan, atau sekadar panggung?
Reuni Tak Mengubah Sikap
Dalam suasana kehangatan reuni yang mempertemukan kawan lama, Roy Suryo tidak menunjukkan tanda-tanda lunaknya sikap. Ia tetap tegas menyatakan bahwa skripsi Jokowi 99,9 persen palsu. Bagi Roy, kehadiran Jokowi di Fakultas Kehutanan UGM bukanlah konfirmasi keabsahan sebagai alumni, melainkan hanya kunjungan simbolik sebagai pejabat negara. Penampilan Jokowi tanpa seragam reuni pun dijadikan bukti bahwa ia seolah berada di luar lingkaran komunitas alumni.
Roy bahkan mencatat bahwa Jokowi tak hadir di acara inti di Wanagama, hanya mampir sebentar, dan menyebut nama-nama teman semasa kuliah tanpa menyodorkan dokumen atau testimoni otentik. Maka, bagi Roy dan kelompoknya, semua itu tak cukup. Klaim Jokowi soal dosen pembimbing, Ir. Kasmudjo, dianggap bertolak belakang dengan pernyataan sang dosen sendiri yang membantah pernah membimbing atau menjadi dosen akademiknya.
Antara Kebenaran atau Narasi Politik?
Apakah upaya Roy Suryo Cs semata didorong oleh keinginan mencari kebenaran akademik? Atau sudah menyimpang menjadi proyek politik yang personal dan penuh prasangka? Roy dan rekan-rekannya, seperti Eggi Sudjana dan Tifauzia Tyassuma, jelas tidak sekadar bertanya. Mereka melaporkan Jokowi ke polisi, mengajukan permintaan penyitaan ijazah, bahkan mengumpulkan bukti dari kanal YouTube dan media sosial. Namun ketika narasi kecurigaan diulang terus tanpa mengungkap bukti baru yang objektif dan tak terbantahkan, publik mulai bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang layak dicurigai?
Di sisi lain, Jokowi pun tak tinggal diam. Ia melaporkan balik tuduhan ini sebagai fitnah dan pencemaran nama baik. Perkara yang awalnya berada di ranah perdebatan publik kini masuk ke ranah hukum. Bahkan enam laporan polisi sudah masuk ke Polda Metro Jaya, dengan tiga di antaranya naik ke tahap penyidikan. Bola kini bergulir bukan lagi di ruang opini, tapi di meja penyidik.
Kaya Apa Setelah Ini?
Pertanyaan yang menggantung: Apa yang didapat Roy Suryo Cs setelah ini? Popularitas? Kepuasan pribadi? Kemenangan moral? Atau justru sebaliknya: jerat hukum yang menanti? Jika benar tujuan mereka adalah menuntut kejujuran dan integritas dari seorang kepala negara, seharusnya mereka juga berlaku jujur terhadap standar pembuktian dan tidak bersandar pada asumsi atau anekdot semata.
Reuni seharusnya menyadarkan bahwa integritas dan persahabatan akademik tak dibangun dari kebencian dan praduga, melainkan dari semangat mencari kebenaran dengan kerendahan hati. Namun ketika reuni hanya dijadikan latar panggung untuk menguatkan narasi personal yang belum tentu berdasar, maka esensinya hilang. Alih-alih menjadi ruang pembuktian, reuni justru dimanfaatkan untuk memperkuat polarisasi.
Penutup: Saatnya Menjawab dengan Bukti, Bukan Emosi
Kisruh ijazah ini, jika terus dibawa tanpa dasar baru dan hanya dengan semangat menjatuhkan, akan menjadi bumerang bagi mereka yang mengusungnya. Roy Suryo Cs harus membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pemburu sensasi atau pelayan agenda politik tersembunyi. Sebab jika tidak, yang akan kaya bukanlah kebenaran, melainkan kebencian. Dan sejarah tak pernah mencatat mereka yang menari di atas prasangka sebagai pahlawan kebenaran.





















