Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Beginilah cara orang-orang memberikan legitimasi politik dan moral bagi kepemimpinan seseorang. Joko Widodo dan Prabowo Subianto, misalnya, sama-sama diasumsikan sebagai khalifah penerus Nabi Muhammad SAW. Bedanya, Jokowi diasumsikan sebagai Khalifah Umar Bin Khattab, sementara Prabowo diasumsikan sebagai Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Adalah bekas Menteri Kelautan dan Perikanan yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kemaritiman Rokhmin Dahuri yang mengasumsikan Jokowi sebagai Umar Bin Khattab tahun 2018 lalu. Katanya, Jokowi adalah pemimpin yang dekat dengan rakyat, sebagaimana Umar Bin Khattab.
Saat itu situasi menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, sehingga apa yang disampaikan Rokhmin Dahuri itu memberikan semacam legitimasi politik dan moral bagi Jokowi yang kemudian terpilih kembali pada Pilpres 2019, bersama pasangannya, KH Ma’ruf Amin.
Kini, giliran Ma’ruf Amin yang mengasumsikan Prabowo sebagai Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Menurut Ma’ruf Amin, kemiripan antara Prabowo dan Abu Bakar Ash-Shiddiq tercermin dari gaya kepemimpinan yang dimiliki keduanya.
Apa yang dikatakan Prabowo, kata Ma’ruf dalam sambutannya pada acara Milad ke-50 Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Asrama Haji Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (26/7/2025), sama dengan apa yang dikatakan Abu Bakar Ash-Shiddiq bahwa “Saya diserahi urusan kalian, meskipun saya bukan yang terbaik.”
Terkait Jokowi, asumsi itu tinggal asumsi belaka. Realitanya jauh panggang dari api.
Jokowi kemudian pecah kongsi dengan PDIP. Otomatis, kini tak seorang pun kader PDIP yang mau mengasumsikan Jokowi sebagai Umar Bin Khattab. Barangkali termasuk Rokhmin Dahuri sendiri.
Kedekatan Jokowi dengan rakyat pun ternyata cuma kamuflase belaka. Wong Solo itu kemudian membangun dinasti politik. Gibran Rakabuming Raka, putra sulungnya, menjadi Wakil Presiden RI. Bobby Nasution, menantunya, menjadi Gubernur Sumatera Utara. Kaesang Pangarep, anak bungsunya, menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Mereka juga tak sungkan-sungkan menumpang pesawat jet pribadi.
Padahal, di awal-awal menjabat, Jokowi mengatakan anak-anaknya cukup berdagang saja, tak tertarik masuk dunia politik.
Kini, Jokowi dan keluarganya menjadi elite yang akrab dengan barang-barang mewah dan bermerek. Jauh berbeda dengan kehidupan rakyat kebanyakan.
Jokowi juga sudah terbukti banyak melakukan kebohongan. Jauh berbeda dengan Umar Bin Khattab yang jujur dan amanah.
Soal mobil nasional Esemka, misalnya. Janji yang ia lontarkan sejak sebelum menjadi Presiden hingga kini telah lengser, ternyata zonk belaka.
Begitu pun investasi 11 ribu triliun rupiah di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Hingga bekas Gubernur DKI Jakarta itu pensiun pada 20 Oktober 2024, investasi jumbo itu ternyata juga zonk belaka.
Lantas, bagaimana dengan Prabowo, apakah sampai akhir masa jabatannya nanti ia akan seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq? Tak ada jaminan.
Abu Bakar adalah seorang khalifah yang pemberani. Berbeda dengan Prabowo yang penakut. Dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saja, Prabowo bertekuk lutut. Trump menerapkan tarif impor bagi Indonesia 19℅, sementara Prabowo menetapkan tarif bagi AS 0%.
Tidak itu saja. Prabowo juga akan mengimpor minyak dan gandum besar-besaran, dan membeli 50 unit pesawat Boeing dari AS.


























