Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Apa pun masalahnya, bantuan sosial (bansos) adalah solusinya.
Butuh dukungan dalam pemilu, bansos solusinya. Ada gejolak di masyarakat, bansos solusinya. Ada bencana alam, bansos solusinya. Bansos ternyata menjadi solusi jitu bagi semua masalah. Ibarat obat mujarab bagi semua penyakit.
Bansos pula yang dipakai pemerintah untuk meredam gejolak masyakat usai tewasnya pengemudi ojek online Affan Kurniawan (21) gegara terlindas mobil Rantis Brimob Polri di Pejompongan, tak jauh dari titik episentrum demonstrasi massa di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025) lalu, yang menolak tunjangan perumahan DPR 50 juta rupiah per bulan.
Diketahui, Kementerian Sosial membagi-bagikan bansos kepada para tetangga Affan Kurniawan di Kelurahan Dukuh Atas, Kecamatan Menteng, Jakpus, Kamis (4/9/2025).
Ada 200 paket bansos yang berisi sembilan bahan pokok (sembako) yang dibagikan kepada 200 tetangga kanan-kiri Affan. Sementara orang tua Affan sendiri sudah Kemensos berikan bantuan berupa peralatan usaha laundry atau binatu seperti mesin cuci, seterika, dan sebagainya.
Beberapa saat setelah kematian Affan, nun jauh di sana Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution membagi-bagikan ratusan paket sembako kepada para pengemudi ojol. Mungkin maksudnya untuk meredam emosi ojol supaya tidak menggelar aksi unjuk rasa sebagaimana rekan-rekan seprofesi mereka di Jakarta.
Banyak kantor polisi mulai dari Polres hingga Polsek di banyak wilayah di Indonesia juga bagi-bagi bansos kepada komunitas ojol. Tak terkecuali Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang juga melakukan hal yang sama.
Hasilnya? Sungguh nyata. Kini nyaris tak ada gejolak lagi. Sebab dalam setiap acara pembagian sembako selalu diselipkan pesan untuk menjaga persatuan dan kesatuan serta agar tidak terprovokasi dan diadu domba.
Bansos juga efektif bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam manggalang dukungan bagi Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang maju sebagai calon presiden-wakil presiden di Pemilihan Presiden 2024 lalu.
Menjelang pilpres, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengalokasikan anggaran bansos secara gila-gilaan, yakni mencapai Rp450 triliun. Hasilnya: Prabowo-Gibran terpilih!
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menggunakan bansos, yang saat itu dinamakan Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan ditebarkan menjelang Pilpres 2009. Hasilnya? SBY yang saat itu berpasangan dengan Boediono terpilih kembali.
Memang urusan perut sangatlah vital. Lebih vital daripada urusan bawah perut. Banyak pemerintahan tumbang gegara rakyatnya lapar. Inilah yang disadari SBY, Jokowi hingga kini Prabowo.
Sebab itulah Prabowo-Gibran dalam kampanyenya juga menjanjikan makan bergizi gratis yang kemudian direalisasikan meskipun baru sebatas untuk anak-anak sekolah, belum kepada seluruh rakyat Indonesia. Hasilnya, sekali lagi Prabowo-Gibran terpilih dengan angka kemenangan cukup meyakinkan.
Bahwa ada 4.000-an siswa keracunan akibat menu MBG, itu lain soal. Pemerintah tak ambil pusing. MGB yang kontroversial itu pun terus jalan.
Bahwa banyak dugaan korupsi dalam pelaksanaan MBG, pemerintah juga tak mau peduli. Itu soal lain. Padahal, gegara MBG yang menyedot anggaran negara hingga 400-an triliun rupiah, dana transfer ke daerah dipotong habis-habisan. Sebagai konsekuensinya, banyak kepala daerah menaikkan tarif pajak bumi dan bangunan. Ada yang sampai 250% seperti di Pati, Jawa Tengah, bahkan ada yang sampai 1.000% seperti di Cirebon, Jawa Barat.
Mungkin SBY, Jokowi dan kini Prabowo sedang bernyanyi dengan lirik lagi seperti ini:
Perut kenyang
Hati senang
Pikiran kenyang
Perut lapar
Tubuh gemetar
Hati tak sabar
Pikiran buyar

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)

















