Seandainya Koalisi 7 Partai-partai pendukung Jokowi itu, kompak sampai pemilu 24, maka selesailah sudah urusan Cupras-Capres. Justru koalisi itu, diujung porak poranda. Untuk menentukan Calon Presiden, diantara mereka pun sulit. Setelah terpilih Capres, masalah berikutnya, adalah mencari Wacapres. Jadi pertanyaan kemudian adalah, apa arti PT 20% yang dikantongi oleh PDIP? Apa arti koalisi 7 partai, selama 8 tahun? Apa hanya duduk bersama, menikmati manisnya kekuasaan, lalu diujungnya cakar-cakaran, bersaing, bertengkar, lalu saling menjatuhkan?
Hujjah buhun “tak ada koalisi yang langgeng, yang ada hanya kepentingan yang sama”. Dalil lain, seolah-olah terbutakan oleh kedunguannya sendiri, diungkapkan lagi ayat “politics is the arts of possibilities”. Itu yang mereka dalilkan untuk mencari partner koalisi!.
Pertanyaan lain, mengapa partai yang bisa mengusung sendiri Capres dan Cawapresnya (telah memenuhi PT 20%), tidak berani tegar tampil sendiri, tanpa dukungan partai? Watak system politik seperti ini, adalah ciri system Parlementer.
Tetapi Plt PPP, Mardiono, dalam kata pengantarnya menyampaikan didepan Megawati dan kader lainnya, bahwa kehadirannya menyatakan koalisi partai PPP bersama PDIP, adalah karena system Presidential!.
Memotret gerak-langkah parpol-parpol expired, tetapi diberi legitimasi untuk mengusung Capres/Cawapres 24, adalah gambar rubuhnya akal sehat. Ruwetnya merajut system politik yang ajeg. Runtuhnya integritas actor politik. Vision dan political endeavor – nya bluur. Sekaligus siluet kebingungan diantara mereka sendiri.
Melanjutkan rekam jejak yang buruk, seperti ini ; Indonesia memang aneh sendiri. KH. Hamza Haz, usai menjadi Wapres, kemudian ikut Pilpres berikutnya, melawan Megawati yang pernah menjadi wakilnya. Jusuf Kalla, juga begitu. Usai sebagai Wapres SBY, lalu menjadi lawan Capres SBY pada pilpres berikutnya. Bahkan saling mengklim keberhasilan saat jadi wapresnya. Lebih dahsyat lagi Capres dan Cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, pada Pilpres 2019, yang dahulu adalah lawan perang siang-malamnya, bahkan hingga ada korban mati, bentrok pisik saling melukai, lalu bergabung dengan Pemerintahan Jokowi itu.
Mereka tidak memperdulikan konstituten, yang tersayat-sayat sebagai luka politik itu masih berbekas dan tetap menganga.
Kini Prabowo dan Sandi, sepertinya akan saling berhadapan, sedang menyiapkan diri, menjadi lawan diametral pada Pilpres 24 nanti.
























