Oleh Damai Hari Lubis – Mujahid 212
Dalam berbagai ruang diskusi, semakin sering terdengar retorika dan teori tentang posisi Prabowo Subianto (PS) dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Banyak pendukung dan pengamat politik mengutarakan argumen penuh subjektivitas, dengan asumsi yang berbasis pada rasa iba bahwa Prabowo seolah “dikeroyok” oleh rekan-rekannya di kabinet. Maka muncul seruan, “PS harus dijaga!”
Namun, bagaimana membuktikan kebenaran teori ini? Bagaimana memastikan bahwa langkah-langkah politik PS adalah bentuk perlawanan atau sekadar strategi bertahan?
Tanda Keseriusan Persekutuan atau Perlawanan
Untuk menilai apakah PS benar-benar serius bersekutu atau sekadar memainkan strategi politis, ada satu cara: mengamati tindakan nyata yang diambilnya, khususnya dalam menghadapi isu-isu sensitif dan strategis. Salah satu contoh adalah mendorong aksi serius terkait penegakan hukum dan keadilan yang melibatkan sosok-sosok penting, seperti Gibran Rakabuming (dikenal dengan nama “Fufufafa”) dan ayahnya, Presiden Jokowi.
Menilai dengan Batas Waktu
Jika dalam 100 hingga 200 hari pertama setelah masa pemerintahan ini dimulai PS menunjukkan aksi nyata berupa dorongan keras untuk penegakan hukum yang objektif, maka dapat dikatakan bahwa posisinya lebih dari sekadar persekutuan pasif. Sebaliknya, jika tidak ada langkah signifikan, maka narasi bahwa PS hanya bersekutu demi keuntungan politik belaka bisa lebih mudah dipercaya.






















