Oleh: Prof. Dr. Ahmad M Ramli Guru Besar Cyber Law & Regulasi Digital UNPAD
SKUAD Les Bleus Perancis akan berhadapan dengan Argentina di final Piala Dunia, Minggu, 18 Desember 2022 pukul 22.00 malam nanti. Partai final ini akan diselenggarakan di Stadion Lusail yang merupakan tempat terbesar di Piala Dunia Qatar 2022. Sebagaimana dilansir portal resmi Foster And Partners, Stadion ini berkapasitas sekitar 80.000 orang. Stadion ini memadukan taman, pusat bisnis, taman hiburan dan berlokasi sebelah utara kota Doha, Qatar. Stadion didesain oleh Foster & Partners. Konstruksi mulai dikerjakan pada 2015 dan selesai 2019. Saya biasanya untuk gelaran final Piala Dunia, yang hanya bisa dinikmati 4 tahun sekali, lebih memilih nonton bareng alias nobar. Sekadar kilas balik, pada final Piala Dunia 2018, saya memilih nobar di Mal Citos. Gempita dan riuh rendah sorak spontan penonton, yang memenuhi mal di Jakarta Selatan itu, saat terjadi manuver, atau bola membobol gawang, memberi atmosfer excited dan sangat menghibur.
Sekadar kilas balik pula, pertandingan yang waktu itu berlangsung di Luzhniki, Minggu (15/7/2018), dimenangi Perancis saat berhadapan dengan Kroasia, dengan skor 4-2. Kylian Mbappe pada menit ke-65 mencatat sejarah setelah membuat gol penggenap keempat tim Perancis melalui tendangan geledeknya dari luar kotak penalti.
Paduan olahraga dan obyek karya cipta
Piala Dunia yang dihelat FIFA tidak pernah lepas dari seni sebagai obyek hak cipta. Sebagaimana dilansir laman resmi FIFA World Cup Qatar 2022, Sabtu 17 Desember, upacara penutupan dengan tagline “A Night to Remember” akan menampilkan musik dan puisi menjelang babak spektakuler Les Bleus lawan Argentina. Babak “hidup mati” ini akan berlangsung setelah sebelumnya dihelat melalui 63 pertandingan selama satu bulan. FIFA berpesan agar kita tidak melewatkan upacara penutupan menakjubkan, yang menjanjikan kenangan abadi. Upacara penutupan akan berlangsung selama 15 menit dan diisi puisi dan musik. Perhelatan “A Night to Remember” akan diakhiri dengan gabungan lagu-lagu dari soundtrack resmi yang menandai momen-momen tak terlupakan dari turnamen tersebut.
Jika pada upacara pembukaan menampilkan Jungkook featuring Fahad Al Kubais, maka pada upacara penutupan, akan tampil langsung di hadapan penonton stadion dan penonton global, Davido dan Aisha yang akan menyanyikan ‘(Hayya Hayya) Better Together’, Ozuna dan Gims akan membawakan ‘Arhbo’, dan ‘Light the Sky’ yang akan tampil bersama Nora Fatehi, Balqees, Rahma Riad dan Manal. FIFA tampaknya menyadari benar keinginan publik dunia yang mengharapkan upacara penutupan ini membawa kesan mendalam. FIFA menjanjikan malam tak terlupakan penuh kenangan. Olah raga dan seni memang dua hal tak terpisahkan. Keduanya bisa melahirkan sportivitas sekaligus kreativitas. Sportivitas juga bisa didorong dan diciptakan melalui media seni seperti lagu, musik, dan puisi sebagai obyek hak cipta yang akan ditampilkan pada penutupan Piala Dunia malam ini. Pesan-pesan sportivitas untuk berkumpul dan bertanding penuh kegairahan, spirit meraih mimpi tetapi tetap lekat dengan persahabatan tanpa sekat, dan tidak menyoal asal-usul dari belahan dunia mana mereka datang, bisa dibungkus dengan karya-karya cipta yang indah dan elegan.
Sambil menunggu kejutan penampilan dua skuad hebat malam ini, dan para pelaku seni di saat upacara penutupan, tidak ada salahnya kita menyimak lagi Lagu “Dreamers” sebagai sebuah karya cipta yang menghentak publik setelah dibawakan pada upacara pembukaan dan diunggah akun Youtube official FIFA. “Dreamers” adalah soundtrack resmi dibawakan personel BTS Jungkook featuring Fahad Al Kubais dengan begitu prima, elegan, dan atraktif pada upacara pembukaan di Stadion Al Bayt, Qatar. Tidak hanya itu, lagu “Dreamers” juga kerap terdengar di layar kaca pada setiap akhir pertandingan dini hari. Penggalan bait itu membawa nuansa dan suasana yang sulit digambarkan ketika vokalis dunia dari grup BTS itu melantunkan bait:
Look who we are,
we are the dreamers We make it happen,
’cause we believe it Look who we are,
we are the dreamers We make it happen
’cause we can see it
Lirik dan melodi lagu itu seolah terus terngiang, sebagai karya cipta paling indah yang meninggalkan tapak dan kenangan sepanjang perhelatan akbar. Pada upacara penutupan nanti akan ditimpali lagu lainnya “Hayya Hayya Better Together” yang tak kalah spektakukernya.
Prof. Dr. Ahmad M Ramli Guru Besar Cyber Law & Regulasi Digital UNPAD, Guru Besar Cyber Law, Digital Policy-Regulation & Kekayaan Intelektual Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran
Dikutip Kompas.com, Minggu 18 Desember 2022




















