JAKARTA-Fusilatnews – Pimpinan Emak-Emak Aspirasi Indonesia, Hj. Wati Imhar, menyoroti dugaan perubahan istilah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi Negara Republik Indonesia (NRI) dalam kurikulum pendidikan tingkat SLTA. Ia menilai perubahan tersebut berpotensi mengaburkan sejarah pendirian Republik Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Hj. Wati dalam dialog terbatas yang digelar di Markas Aspirasi Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (6/1/2025) siang. Diskusi tersebut dipandu moderator Andi Boxing dan berlangsung tanpa kehadiran Prof. Eggi Sudjana yang sebelumnya dijadwalkan hadir.
Menurut Hj. Wati, perubahan istilah tersebut diduga dilakukan melalui kebijakan yang berkaitan dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Ia menyebut istilah NKRI memiliki akar historis kuat yang tidak bisa dilepaskan dari perjuangan tokoh-tokoh bangsa, termasuk Mohammad Natsir dari Partai Masyumi.
“Jika istilah ini diubah, generasi muda berpotensi kehilangan pemahaman tentang sejarah perjuangan dan peran umat Islam dalam pendirian Republik Indonesia,” ujar Hj. Wati.
Kegiatan diskusi tersebut digelar usai pelaksanaan Bazar KSA (Kedai Aspirasi Indonesia) yang dipimpin Jati Ningsih. Dalam kesempatan yang sama, Aspirasi Indonesia juga memfasilitasi layanan pengobatan gratis bekerja sama dengan PT Kompak Indonesia Sukses. Layanan kesehatan tersebut dikoordinatori dr. Dede Sriwati, dibantu Syamdudin dan Arie, dengan metode Quantum Resonance.
Dalam dialog itu, Hj. Wati juga menyampaikan komitmennya untuk terus bekerja sama dengan GNAI (Gerakan Nasional Anti-Islamofobia). Ia menyinggung penetapan 15 Maret sebagai Hari Internasional Anti-Islamofobia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menjelang Ramadan 1448 Hijriah, Aspirasi Indonesia merencanakan penyelenggaraan Seminar Tobat Nasuha Kebangsaan bersama Prof. Apendi Arsyad dari KAHMI Bogor. Selain itu, organisasi tersebut berencana melakukan audiensi ke sejumlah lembaga berwenang terkait kurikulum pendidikan serta pemahaman kebangsaan di tingkat SLTA.
Sejumlah tokoh dan anggota komunitas hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Royaningrum, Ain, Yacoub, Ustaz Yazid, Madi, Firman, Mirza, Nety, Amira, Huda, Aris, Ida Wardah, Purwo, dan Mahdi.




















