JAKARTA, FusilatNews – Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, secara resmi membuka perdagangan efek pertama di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal tahun 2025. Pembukaan dilakukan atas nama Presiden RI, Prabowo Subianto, yang biasanya memimpin seremoni tahunan ini.
Dalam acara tersebut, Sri Mulyani didampingi oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, Ketua Dewan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa, dan Direktur Utama BEI Iman Rachman.
“Pembukaan perdagangan BEI tahun 2025 oleh Presiden Republik Indonesia, yang diwakili oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia,” demikian tercantum dalam susunan acara pembukaan perdagangan efek di BEI.
IHSG Dibuka Positif, Mata Uang Melemah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan tahun 2025 dengan performa positif. Pada pukul 09.02 WIB, IHSG berada di level 7.119,23, naik 39,33 poin atau 0,56 persen dibanding penutupan sebelumnya di 7.079,90. Sebanyak 237 saham menguat, 118 saham melemah, dan 213 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 449,42 miliar dengan volume perdagangan sebesar 1,62 juta saham. Namun, di pasar valuta asing, rupiah terpantau melemah pada pembukaan perdagangan pagi hari.
Proyeksi dan Tren IHSG
Ivan Rosanova, analis Binaartha Sekuritas, memperkirakan IHSG berpotensi menguji zona resisten di 7.105-7.143. “Jika IHSG berhasil menembus level 7.143, ini akan membuka peluang menuju resisten berikutnya di 7.216,” ungkap Ivan dalam analisanya.
Ia juga mencatat level support IHSG berada di 6.931, 6.875, 6.800, dan 6.738, sementara resisten utama ada di 7.143, 7.216, dan 7.297. “Indikator MACD menunjukkan adanya momentum bearish yang perlu diwaspadai,” tambahnya.
Rekap Akhir 2024
Pada akhir tahun 2024, IHSG ditutup di zona hijau, mencatat pertumbuhan yang didukung oleh saham-saham unggulan di sektor perbankan dan infrastruktur. Hal ini memberikan optimisme bagi investor memasuki tahun baru.
Pembukaan perdagangan perdana di BEI ini menjadi simbol awal yang positif bagi pasar modal Indonesia, meskipun tantangan makroekonomi global dan domestik masih membayangi.






















