Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Tenaga Ahli Anggota DPR RI 2004-2009 dan 2009-2014

Jakarta – Sepintas lalu secara nalar atau logika akal sehat, nyaris tak mungkin IWAS melakukan pelecehan seksual atau pemerkosaan terhadap AM, seorang mahasiswi sebuah universitas di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Sebab, IWAS adalah seorang penyandang difabel tunadaksa atau tidak punya kedua tangan.
Tapi faktanya bisa. Bahkan korbannya bukan hanya AM, tapi juga dua mahasiswi lainnya. Lalu jumlah korban bertambah tiga lagi yang ketiganya adalah anak-anak. IWAS pun ditetapkan polisi sebagai tersangka.
Saat aksi bejatnya dilaporkan, IWAS pun mencoba beralibi. Katanya, jangankan melakukan pemerkosaan, buang air kecil saja ia harus dibantu oleh keluarganya untuk membukakan celana.
Lalu, sambil nangis-nangis, seperti terlihat dalam rekaman video yang beredar, IWAS minta tolong Presiden Prabowo Subianto agar dibantu melepaskan diri dari tuduhan itu. Bahkan ia ingin menunjukkan kepiawaiannya melukis dengan kakinya di hadapan Presiden.
Namun, polisi bergeming. Berdasarkan keterangan korban, sejumlah saksi dan ahli, apa yang dilakukan IWAS menurut polisi mengarah pada aksi pemerkosaan. Pria difabel itu pun, sekali lagi, ditetapkan polisi sebagai tersangka.
Dan dari kabar yang ramai tersiar, IWAS dalam melancarkan aksinya itu menggunakan modus operandi kombinasi antara bujuk rayu, tipu muslihat dan intimidasi.
Ketika AM jalan-jalan di sebuah taman dan mendapati sepasang muda-mudi berkasih mesra, rasa trauma AM akan masa lalunya tiba muncul dan ia pun langsung menangis.
Mendapati hal demikian, IWAS kemudian mendekati AM yang merupakan sesama mahasiswa dari kampus yang sama untuk merayunya agar gadis itu mau menceritakan pengalaman traumatisnya.
Setelah mendapatkan cerita, IWAS pun melancarkan intimidasi dan tipu muslihat. IWAS mengajak AM ke sebuah hotel. Jika tidak mau, apa yang diceritakan AM, yang kemudian ia sebut sebagai aib, akan diadukan ke orangtuanya.
Di sisi lain, IWAS juga melancarkan tipu muslihat dengan menyarankan AM mandi suci untuk membersihkan jiwanya dan menghilangkan traumanya.
Sesampainya di hotel, dengan terus mengintimidasi, IWAS minta AM membuka pakaiannya sekaligus membukakan celana dirinya.
Saat AM hendak berteriak, IWAS pun kembali melancarkan tipu muslihat bahwa jika ada yang mendengar teriakannya maka AM akan dinikahkan dengan dirinya. Akhirnya, dugaan pemerkosaan itu pun terjadi.
Tidak itu saja. Demi menyempurnakan alibinya, IWAS juga menyuruh AM untuk membayar sewa hotelnya.
Teori Kompensasi
Terlepas dari apakah penetapan status tersangka IWAS akan berujung ke pengadilan atau tidak, karena polisi bisa saja menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3); dan apakah nanti jika diadili ia terbukti bersalah atau tidak, kiranya patut ditelisik aspek psikologinya mengapa seorang penyandang tunadaksa bisa melakukan pelecehan seksual atau pemerkosaan kepada lawan jenisnya.
Bahkan korbannya tak hanya seorang, tetapi beberapa orang. Sebagian mahasiswi pula, yang secara psikis dan intelektual tak bisa dibilang lemah.
Secara psikologis, apa yang dilakukan IWAS itu boleh dikatakan tak terlepas dari teori kompensasi.
Dalam psikologi, istilah kompensasi digunakan terkait pencarian kepuasan dalam suatu bidang untuk memperoleh keseimbangan dari kekecewaan dalam bidang lain.
Kondisi fisik IWAS yang tak sempurna mungkin membuat mahasiswa itu kecewa. Maka dicarilah kompensasi untuk menutupi kekecewaan dan kelemahannya itu. IWAS pun memilih untuk melakukan pelecehan seksual atau pemerkosaan terhadap lawan jenisnya.
Kondisi fisiknya yang tak sempurna menjadikan IWAN merasa dipandang sebelah mata dan lemah oleh lingkungannya. Sebab itu, ia ingin mematahkan asumsi itu dengan menunjukkan kekuatan, keperkasaan dan kejantanannya dengan melakukan pemerkosaan.
Kondisi fisiknya yang tak sempurna menjadikan IWAS merasa tidak tampan. Akhirnya ia pun ingin membuktikan bahwa meskipun tidak tampan, tapi dia bisa menaklukkan kaum perempuan, mahasiswi pula yang dianggap masyarakat kelas sosialnya cukup tinggi.
Pendek kata, IWAS tak mau dipandang sebelah mata meskipun tunadaksa. IWAS tak mau dianggap lemah. IWAS merasa gagah, kuat, jantan dan perkasa.
IWAS juga tak mau dianggap tidak tampan. Ia merasa tampan sebagaimana laki-laki pada umumnya yang kondisi fisiknya normal.
Itulah teori kompensasi yang kemungkinan besar melatari IWAS melakukan dugaan pelecehan seksual dan pemerkosaan.
Awas ada IWAS!























