Oleh: Entang Sastraatmadja
Ada kabar penting terkait dunia perberasan saat ini. Baru-baru ini, Perum Bulog melaporkan kepada DPR mengenai perkembangan perberasan nasional. Hingga akhir Februari 2025, penyerapan gabah oleh Bulog baru mencapai 190 ribu ton, atau hanya 6,3% dari target 3 juta ton setara beras yang dibebankan kepada Bulog.
Kelihatannya, ada beberapa hal yang perlu didalami lebih lanjut terkait rendahnya angka penyerapan gabah petani oleh Bulog. Salah satu penyebabnya kemungkinan besar adalah ketersediaan gabah yang masih terbatas, mengingat panen belum terjadi secara serempak. Pertanyaannya, bagaimana Bulog bisa menyerap beras jika stoknya di petani sendiri belum tersedia?
Faktor Internal dan Eksternal
Kegagalan Bulog dalam menyerap gabah bisa dianalisis dari dua sisi utama, yakni faktor internal dan eksternal.
Faktor Internal:
- Keterbatasan Dana – Bulog membutuhkan dana yang cukup untuk membeli gabah dari petani, dan keterbatasan ini bisa menghambat proses penyerapan.
- Keterbatasan Infrastruktur – Gudang penyimpanan dan fasilitas pengolahan yang belum memadai dapat menjadi kendala besar dalam menyerap gabah petani.
- Keterbatasan Sumber Daya Manusia – Bulog memerlukan tenaga kerja yang cukup dan kompeten untuk mengelola proses penyerapan gabah.
Faktor Eksternal:
- Harga Gabah yang Rendah – Jika harga pasar rendah, Bulog kesulitan menawarkan harga yang kompetitif kepada petani.
- Ketersediaan Gabah yang Tidak Stabil – Faktor cuaca, hama, dan penyakit dapat mempengaruhi produksi gabah, sehingga berdampak pada kemampuan Bulog dalam menyerapnya.
- Persaingan dengan Pengusaha Swasta – Bulog harus bersaing dengan perusahaan swasta yang juga membeli gabah dari petani.
- Keterlambatan Pembayaran – Jika Bulog lambat dalam membayar petani, mereka mungkin enggan menjual gabahnya ke Bulog.
- Prosedur yang Rumit – Jika mekanisme pembelian berbelit-belit, petani cenderung menjual gabah ke pihak lain yang menawarkan proses lebih sederhana.
Masalah menjadi semakin kompleks jika hubungan antara Bulog dan petani tidak terbangun dengan baik.
Strategi untuk Mengatasi Kendala
Untuk meningkatkan efektivitas penyerapan gabah, perlu dilakukan langkah-langkah strategis, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Jangka Pendek:
- Meningkatkan Ketersediaan Dana – Bulog harus memastikan ketersediaan dana yang cukup agar proses pembelian gabah tidak terhambat.
- Mengoptimalkan Infrastruktur – Gudang penyimpanan dan fasilitas pengolahan harus dimanfaatkan secara maksimal.
- Peningkatan Kapasitas SDM – Bulog harus meningkatkan kompetensi tenaga kerjanya untuk memastikan kelancaran proses penyerapan gabah.
Jangka Panjang:
- Pengembangan Sistem Informasi – Bulog perlu memiliki sistem informasi yang efisien untuk memantau stok gabah, harga, dan kebutuhan petani secara real-time.
- Meningkatkan Kerja Sama dengan Petani – Bulog harus membangun hubungan yang lebih erat dengan petani untuk memahami kebutuhan dan ekspektasi mereka.
- Pengembangan Program Pendukung – Program kredit dan pelatihan dapat membantu petani meningkatkan produksi dan kualitas gabahnya.
Tiga Langkah Strategis
Sebagai tambahan, ada tiga langkah strategis yang bisa diambil untuk memperbaiki kinerja Bulog:
- Strategi Pemasaran yang Efektif – Bulog perlu meningkatkan promosi dan distribusi gabah agar daya serapnya lebih maksimal.
- Kolaborasi dengan Pihak Lain – Bekerja sama dengan perusahaan swasta dan organisasi masyarakat sipil bisa memperluas jangkauan dan efektivitas penyerapan gabah.
- Sistem Pengawasan yang Ketat – Bulog harus meningkatkan pengawasan kualitas gabah untuk mencegah penipuan dan memastikan produk yang diserap benar-benar berkualitas.
Kesimpulan
Apakah Bulog akan gagal mencapai target penyerapan yang ditetapkan pemerintah? Jawabannya bergantung pada bagaimana desain perencanaan Bulog dalam menghadapi panen raya tahun ini.
Kita percaya bahwa Bulog telah menyusun strategi yang holistik dan komprehensif. Dengan kepemimpinan baru yang berasal dari kalangan militer, diharapkan ada semangat baru dalam meningkatkan efektivitas kinerja Bulog di seluruh Indonesia. Jika langkah-langkah di atas diterapkan secara konsisten, Bulog tidak perlu gagal dalam menjalankan misinya sebagai operator pangan nasional.
(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)


























