Ada macam-macam cara orang mempermalukan dirinya sendiri. Ada yang diam di pojok kelas karena tak paham pelajaran, ada yang memaksakan diri ikut debat hanya untuk ditertawakan, dan ada pula—ini yang paling mencengangkan—yang naik podium forum internasional, lalu bicara dengan santai, sembari mengajak dunia menyaksikan betapa ia tak mengerti apa-apa.
Kira-kira begitulah Presiden Joko Widodo di depan hadirin internasional, saat berkata, “I want to test my minister—Pak Tom, please answer the question. But not longer than me.” Lucu? Bagi sebagian orang mungkin. Tapi bagi saya, ini bukan humor. Ini nestapa. Presiden sebuah negara besar yang dengan entengnya memperlihatkan kelemahan bukan hanya dalam bahasa, tetapi juga dalam tata krama diplomasi. Ia tak sekadar membuka aib sendiri, tapi juga menyingkap betapa rendahnya penghargaan terhadap pembantunya sendiri—Pak Tom Lembong, yang tentu saja lebih fasih, lebih berpengetahuan, dan lebih beradab dalam urusan diplomasi internasional.
Jokowi mungkin hendak terlihat merakyat. Tapi ini bukan forum warung kopi, Bung. Ini panggung dunia. Dunia tak memerlukan kelucuan kelas RT, melainkan ketegasan bahasa, kejelasan konsep, dan kebijaksanaan dalam menyampaikan pikiran. Alih-alih menunjukkan kepemimpinan, yang tampak malah seorang pria bingung yang tersesat di meja makan orang-orang terpelajar.
Lalu, ia menunjuk menterinya seperti menunjuk anak kecil untuk menjawab soal ulangan, dan memberi syarat yang terdengar seperti sindiran: “Jangan lebih panjang dari saya.” Apa itu bukan penghinaan? Padahal menteri, dalam sistem presidensial, adalah pembantu ahli presiden. Jika presiden tak menguasai suatu bidang, wajarlah ia dibantu. Tapi bukan dibentak. Bukan direndahkan di depan umum.
Kita tentu tidak mewajibkan seorang presiden fasih berbahasa Inggris. Tak semua pemimpin dunia melakukannya. Bung Karno dulu berpidato dalam bahasa Indonesia, tapi dunia terpukau. Kenapa? Karena ia percaya diri, paham konteks, dan yang terpenting: tahu kapan harus bicara dan kapan harus memberi tempat pada yang lebih tahu.
Tapi Jokowi? Ia seperti pemain bola yang tak bisa menggiring bola, lalu marah-marah pada pelatih yang menyuruhnya duduk di bangku cadangan. Ia ingin bicara, tapi tak tahu apa yang dibicarakan. Ia ingin memimpin, tapi takut kalau ada yang lebih terang bersinar di sekitarnya.
Dalam dunia diplomasi, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah lambang kehormatan. Cara seseorang mengatur kata, memilih jeda, memberi ruang, itu semua mencerminkan kadar kepemimpinan. Dan dalam hal ini, kita saksikan sendiri: seorang presiden yang tampak tak siap, tak sopan, dan tak tahu malu.
Mungkin ada yang bilang: “Ah, itu cuma seloroh.” Tapi mari kita jujur: kalau itu adalah guyon, maka sungguh itulah jenis guyon yang mempermalukan bangsa. Negara lain membawa visi dan kepentingan nasional; kita membawa dagelan dan kejumawaan.
Jokowi bukan hanya sedang menguji menterinya. Ia sedang—tanpa sadar—mengumumkan kepada dunia: Beginilah kualitas pemimpin kami.
Dan itu bukan sesuatu yang bisa ditertawakan.


























