• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Seruan Anak Shah Iran: Saatnya Khamenei Mundur

fusilat by fusilat
June 24, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Seruan Anak Shah Iran: Saatnya Khamenei Mundur
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Lebih dari empat dekade setelah Revolusi Islam 1979 menggulingkan monarki Pahlavi dan membawa Iran ke dalam rezim teokratis yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini, suara dari masa lalu kembali bergema. Reza Pahlavi, putra dari Shah Mohammad Reza Pahlavi, kini tampil ke publik internasional dengan seruan yang tajam dan tegas: Ayatollah Ali Khamenei harus mengundurkan diri dan menghadapi persidangan yang adil.

Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti nostalgia royalistik. Namun lebih dari itu, seruan Reza Pahlavi mencerminkan kegelisahan kolektif rakyat Iran yang sudah lama terkekang oleh otoritarianisme, sensor, represi politik, dan krisis ekonomi yang mengakar. Reza tidak datang membawa mahkota, melainkan gagasan: demokrasi, pemerintahan transisi, dan keadilan.

Khamenei dalam Bayang-Bayang Ketakutan

Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin spiritual tertinggi Iran sejak 1989, telah menjadi simbol rezim teokrasi yang tidak tersentuh. Namun belakangan, posisi itu mulai digoyang dari dalam dan luar. Ketegangan sosial, protes yang terus meletup, pembatasan terhadap hak-hak perempuan, serta pembunuhan Mahsa Amini yang memicu gerakan nasional “Women, Life, Freedom”, menjadi lonceng peringatan akan runtuhnya legitimasi moral pemerintahan.

Reza Pahlavi dengan lantang menyebut Khamenei sebagai “tikus yang ketakutan”—ungkapan yang bukan hanya menyulut emosionalitas perlawanan, tetapi juga mengungkap betapa simbolisnya keretakan dalam tembok kekuasaan yang dibangun oleh ulama penguasa Iran.

Transisi dan Demokrasi: Bukan Soal Restorasi Monarki

Menariknya, Reza Pahlavi tidak berbicara tentang pemulihan monarki. Ia menawarkan diri sebagai pemimpin transisi—sebuah peran sementara untuk mengantar Iran dari teokrasi menuju demokrasi. Dalam berbagai pernyataannya, ia menegaskan pentingnya pengadilan yang adil bagi Khamenei dan pemisahan antara pembalasan politik dan keadilan hukum.

Ia bahkan telah membentuk “platform aman” untuk menyatukan para pembangkang dan aktivis yang tersebar, baik di dalam negeri maupun diaspora. Baginya, Iran harus menjadi republik yang bebas dan demokratis, bukan kerajaan yang kembali dibangun di atas reruntuhan masa lalu.

Apakah Iran Siap?

Pertanyaannya, apakah rakyat Iran siap menerima seruan ini? Survei dan laporan menunjukkan bahwa banyak warga Iran telah kehilangan kepercayaan pada sistem yang ada. Namun, mayoritas rakyat juga menolak intervensi asing dan ingin perubahan itu datang dari dalam.

Dalam konteks ini, Reza Pahlavi memainkan peran unik. Ia adalah bagian dari sejarah yang digulingkan, namun juga figur yang tidak tercemar oleh pelanggaran hak asasi manusia pasca-1979. Ia menjadi simbol kemungkinan: bahwa perubahan besar bisa datang tanpa kekerasan, tanpa perang, dan tanpa dominasi asing.

Menuju Tembok Berlin Versi Iran?

Reza menyebut situasi Iran hari ini sebagai “momen Tembok Berlin”—sebuah analogi yang menggambarkan keruntuhan sistem otoriter yang tiba-tiba dan tidak bisa dibendung. Bila benar, maka Iran saat ini berada di persimpangan sejarah. Seruan Pahlavi bukan sekadar retorika diaspora, melainkan gema dari harapan rakyat yang telah lama ditindas.

Sejarah sering kali dihidupkan kembali oleh anak-anaknya yang dibuang. Dan mungkin, dalam suara Reza Pahlavi, rakyat Iran menemukan kembali hak mereka untuk memilih masa depan, bukan mewarisi ketakutan dari masa lalu.


Catatan Penutup:
Reza Pahlavi tidak datang sebagai raja, melainkan sebagai juru bicara bagi mereka yang telah terlalu lama dibungkam. Seruannya agar Khamenei mundur dan menghadapi persidangan bukan hanya soal keadilan, tetapi juga tentang mengembalikan kedaulatan rakyat Iran atas nasib mereka sendiri.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

BREAKING NEWS: Israel Resmi Umumkan Gencatan Senjata dengan Iran, Ketegangan Masih Membayangi

Next Post

Iran Terima Tawaran Gencatan Senjata, Ketegangan di Timur Tengah Mulai Mereda

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Pengacara Rungkad dan Salah Kaprah Memahami Musuh di Ruang Sidang

July 4, 2026
Jokowi Sudah Kehilangan Nalar Sehatnya
Politik

Gravitasi Kekuasaan dan Pembusukan Politik: Membaca Indonesia Melalui Francis Fukuyama

July 4, 2026
Karisma Mantan Presiden Memudar Menguji Hukum Gravitasi Politik Indonesia
Politik

Karisma Mantan Presiden Memudar Menguji Hukum Gravitasi Politik Indonesia

July 4, 2026
Next Post
Iran Terima Tawaran Gencatan Senjata, Ketegangan di Timur Tengah Mulai Mereda

Iran Terima Tawaran Gencatan Senjata, Ketegangan di Timur Tengah Mulai Mereda

Catatan Pinggir: Haji dan Citra Kementerian yang Tercemar – Quota Bisa Tinggal 50%

Catatan Pinggir: Haji dan Citra Kementerian yang Tercemar - Quota Bisa Tinggal 50%

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW Tuding Pemerintah Tidak Serius, Hanya  Seolah – olah Dalam Menindak Pelaku Judi Online
Birokrasi

Hari Bhayangkara ke-80, Ini Catatan IPW

by Karyudi Sutajah Putra
July 2, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-- Peringatan Hari Bhayangkara atau Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Polri saat ini ditandai dengan hadiah manis bagi...

Read more
Robohnya Benteng Moral Kami

Robohnya Benteng Moral Kami

July 1, 2026
Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

July 1, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Pengacara Rungkad dan Salah Kaprah Memahami Musuh di Ruang Sidang

July 4, 2026
Jokowi Sudah Kehilangan Nalar Sehatnya

Gravitasi Kekuasaan dan Pembusukan Politik: Membaca Indonesia Melalui Francis Fukuyama

July 4, 2026
Karisma Mantan Presiden Memudar Menguji Hukum Gravitasi Politik Indonesia

Karisma Mantan Presiden Memudar Menguji Hukum Gravitasi Politik Indonesia

July 4, 2026
Partai Mantan Presiden: Siapa yang Masih Bertahan pada Pemilu 2029?

Partai Mantan Presiden: Siapa yang Masih Bertahan pada Pemilu 2029?

July 4, 2026
Diledek PDIP,  PSI Partai Lebih Banyak Baliho Daripada Pengurusnya,  PSI Mencak-mencak Tak Terima

Membaca Langkah Catur Raja Juli Kembalikan Amplop Gratifikasi

July 3, 2026

REVISI UU NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT: UNTUK SIAPA?

July 3, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pengacara Rungkad dan Salah Kaprah Memahami Musuh di Ruang Sidang

July 4, 2026
Jokowi Sudah Kehilangan Nalar Sehatnya

Gravitasi Kekuasaan dan Pembusukan Politik: Membaca Indonesia Melalui Francis Fukuyama

July 4, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist